AMBON ACHIEVE HIS DREAM

Extraordinary! If it was Didik, the teenage orangutan was at the Jurug Solo Zoo or the Taru Jurug Animal Park took two weeks to finally climb the first tree. It was contrast to Ambon. The decades-old Ambonese orangutan in the Samarinda Botanical Garden only takes three hours to finally climb the tree.

“I was worried … Ambon can not climb trees. During this time he just climbed the iron bars to get to his hammock. We also preparation may be more than two weeks for Ambon can climb trees. Incredible … our forecast misses all. This is very encouraging.”, said Daniek Hendarto, COP’s ex-situ program manager.

Exactly 1 March 2018 ago, the 25-year-old Ambon orangutan was transferred to an island with an area of about 2 ha. This island will be the last home for him to considering the length of Ambon was in the cage so far. Shortly after the transit enclosure opened, Ambon was seen quickly outside the cage. Dwell while looking around. Shortly afterwards, Ambon was seen running towards the trees. Hiding … or maybe more closely watching if he’s being chased or not. Ambon looks to peek … observe the island situation … but not yet seen tree fence.

“Exactly three hours since the transit enclosure opened, Ambon began to touch the tree and climb it. But they are still not so far from the transit enclosure, “said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo rehabilitation center and a primate anthropologist. “We are all happy to see this freedom!”. (LSX)

AMBON MERAIH IMPIANNYA
Luar biasa! Kalau dulu Didik, orangutan yang belasan tahun berada di kandang Kebun Binatang Jurug Solo atau Taman Satwa Taru Jurug butuh waktu 2 minggu untuk akhirnya memanjat pohon pertamanya. Berbeda dengan Ambon. Orangutan Ambon yang telah puluhan tahun berada di kandang Kebun Raya Samarinda hanya butuh waktu tiga jam untuk akhirnya memanjat pohon.

“Sempat kawatir… Ambon tidak bisa memanjat pohon. Selama ini dia hanya memanjat jeruji besi untuk menuju hammock nya. Kita juga persiapan mungkin akan lebih dari dua minggu untuk Ambon bisa memanjat pohon. Luar biasa… perkiraan kami meleset semua. Ini sangat menggembirakan.”, ujar Daniek Hendarto, manajer program ex-situ COP.

Tepat 1 Maret 2018 yang lalu, orangutan Ambon yang telah berusia 25 tahun dipindahkan ke sebuah pulau dengan luas sekitar 2 ha. Pulau ini akan menjadi rumah terakhir untuknya mengingat lamanya Ambon berada di kandang selama ini. Sesaat setelah pintu kandang transit dibuka, Ambon terlihat dengan cepat ke luar kandang. Berdiam sambil melihat sekitar. Tak lama kemudian, Ambon terlihat berlari ke arah pepohonan. Bersembunyi… atau mungkin lebih tepatnya mengamati apakah dia dikejar atau tidak. Ambon terlihat mengintip… mengamati situasi pulau… namun belum terlihat manaiki pohon.

“Tepat tiga jam semenjak kandang transit dibuka, Ambon mulai menyentuh pohon dan memanjatnya. Tapi mereka masih belum begitu jauh dari kandang transit.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi COP Borneo dan seorang antropolog primata. “Kami semua bahagia melihat kebebasan ini.!”. (EJA)

HUNTING TOGETHER PESTS IN PAGUYANGAN, VOID!

Once again the Center for Orangutan Protection would like to thank all the Orangufriends who have participated in disseminating and texting the Hunting Bareng committee organized by Rang Rang Community in Paguyangan, Brebes, Central Java. The HUNBAR event was canceled!

“HUNBAR event which is a gathering event that violates the Chief of Police Regulation no. 8 Year 2012. Air rifles are only used for target shooting practice in the arena.”, said Hery Susanto, Coordinator of Anti Wildlife Crime COP.

“Is it true that squirrels and wild boars become hunting animals as pest in Brebes? Let’s convey information about human conflict with wildlife to SMS and Call Center Natural Resource Conservation Center (BKSDA) Central Java 082299351705.”, invite Hery Susanto again.

Abilawa, HUNBAR event organizer finally came to the BKSDA office of Central Java and Pemalang informed that hunting pests can not be held. There should be a review first and restrictions on the pest. The committee also canceled the March 4 of Hunting event.

COP is proud of Orangufriends. “Orangufriends’ concern can not be said anymore. You guys are great! “, Added Hery Susanto with pride. (LSX)
Sekali lagi Centre for Orangutan Protection mengucapkan terimakasih pada seluruh orangufriends yang telah ikut menyebarluaskan dan mengirim SMS pada panitia Hunting Bareng yang diselenggarakan Rang Rang Community di Paguyangan, Brebes, Jateng. Acara Hunbar dibatalkan! (LSX)

HUNBAR HAMA DI PAGUYANGAN, BATAL!
“Acara Hunbar yang merupakan acara silaturahmi itu melanggar Peraturan Kapolri No. 8 Tahun 2012. Senapan angin hanya digunakan untuk latihan menembak sasaran di arena.”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

“Benarkah tupai dan babi hutan yang menjadi hewan buruan merupakan hama di Brebes? Mari sampaikan informasi konflik manusia dengan satwa liar kepada SMS dan Call Center Balai Konsevasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jateng 082299351705.”, ajak Hery Susanto lagi.

Abilawa, panitia acara Hunbar akhirnya mendatangi kantor BKSDA Jateng wilayah Pemalang dan diinformasikan kalau berburu hama tidak dapat diadakan. Harus ada kajian terlebih dahulu serta pembatasan tentang hama tersebut. Panitia pun membatalkan acara Hunting Bareng tanggal 4 Maret itu.

COP bangga dengan para orangufriends nya. “Kepedulian orangufriends tak bisa dikatakan isapan jempol lagi. Kalian memang hebat!”, tambah Hery Susanto dengan bangga.

ORANGUFRIENDS: ELEVEN OUTSTANDING YEARS

It’s began when I’m still wearing the White-Gray Uniform
(Indonesian High School Uniform Color is white top and gray skirt/pants- read),
Far beyond COP, fourteen years ago innocently, approaching one of three COP founder, “What can I do for Orangutans?”.

Since then, I, who can only help from behind a computer and makeshift mobile phone. From setting aside a little of the allowance, take to the streets for a campaign. Until finally I had to split up with my beloved country also COP and had to study to neighboring country. The Jakarta-Sydney line for two years did not escape an all day event with COP. An annual Charity concert Sound for Orangutan or Wild Trip. Up to monitoring friends from the other side of Mount Merapi (Mt. Merapi Eruption 2011). Until I returned to my homeland and again I asked, “ What can I do as a Graphic Designer for Orangutans?”

I was finally called to join COP School in 2016. Meeting new friends from all around the country and abroad with different backgrounds. Learn from the coolest and great mentors/people and you can not possibly get a lesson in any textbook. Although I had not had chance to go to Kalimantan, one day it will happen.

Not Stopping there, my job just started. And will continue to support COP as Orangufriends. I am not alone… I have new friends and family who care for orangutan and conservation.

I am Amadhea Widoretno Kaslan. I’m a Graphic Designer and Artist, Orangufriends from Jakarta, and COP School Batch#6 Alumni wishing Center for Orangutan Protection its 11th Annivesary and thank you for this eleven outsanding years.

Keep on.. Fighting, Protecting.. Never Stop, Never Give Up… One APE One Sound.(Dhea_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS: SEBELAS TAHUN YANG LUAR BIASA
Saya memulainya saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Jauh sebelum COP berdiri, 14 tahun yang lalu dengan lugu menghampiri salah satu dari tiga pendiri COP, “Apa sih yang bisa saya lakukan untuk orangutan?”.

Semenjak itu, saya hanya bisa bantu dari balik komputer dan handphone seadanya. Dari menyisihkan sedikit dari uang jajan, turun ke jalan untuk kampanye. Sampai akhirnya saya harus berpisah sementara dengan negara tercinta juga COP dan harus berkelana ke negeri tetangga. Jalur Jakarta-Sydney selama dua tahun tak luput dari waktu seharian bersama COP. Acara tahunanan Sound for Orangutan atau kegiatan Wild Trip. Sampai memantau teman dari sisi lain gunung Merapi. Hingga saya kembali ke tanah air dan kembali saya bertanya, “Apa sih yang bisa saya lakukan sebagai Graphic Designer untuk Orangutan?”.

Saya akhirnya terpanggil untuk ikut COP School di tahun 2016. Bertemu teman-teman baru dari penjuru tanah air dan mancanegara yang berlatar belakang berbeda-beda. Belajar dari mentor-mentor yang paling keren di bidangnya, belajar dari orang-orang hebat di lapangan dan tidak mungkin kalian dapat di buku teks pelajaran mana pun. Walaupun belum sempat ke Kalimantan, suatu saat nanti pasti terlaksana.

Tidak berhenti di sana, tugas saya baru mulai. Dan akan terus mendukung COP sebagai Orangufriends. Saya tidak sendiri… saya memiliki sahabat dan keluarga baru yang ikut peduli terhadap orangutan dan konservasi.

Saya Amadhea Widoretno Kaslan. Saya Graphic Designer dan Artist, Orangufriend Jakarta, Alumni COP School Batch 6 mengucapkan Selamat Ulang Tahun Centre for Orangutan Protection ke-11 dan terimakasih untuk 11 tahun yang luar biasa ini.

Keep on, Fighting, Protecting… Never stop, Never give up… One APE One Sound. (Dhea_Orangufriends)