BERKENALAN DENGAN AMAN SI PANTANG MENYERAH

Sekolah Hutan menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa sekolah hutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Terlebih sejak dimulai kembali karena adanya pembatasan kontak fisik dengan semua orangutan oleh animal keeper sebagai bentuk pencegahan penularan COVID-19. Ada cerita unik dari orangutan yang bernama Aman.

Aman merupakan individu orangutan jantan berusia 3-4 tahun. Aman bergabung dengan orangutan lainnya di BORA (Borneo Orangutan rescue Alliance) pada Maret 2020 lalu. Sebelumnya dia dipelihara secara ilegal. Aman memiliki jari-jari tangan yang tidak sempurna dan pendek. Namun, kekurangan yang dimilikinya tersebut ternyata tidak mengurangi semangatnya untuk dapat menjelajah selama sekolah hutan berlangsung. Aman telah mengikuti sekolah hutan sebanyak dua kali bersama orangutan-orangutan jantan lainnya, yaitu Berani, Owi, Annie dan Happi.

Pada kesempatan keduanya ke sekolah hutan, Aman sangat antusias dan langsung mencari pohon-pohon kecil terdekat untuk dipanjat. Tentu saja, dia harus menghindari kejaran Annie. Karena Annie yang sejak awal sangat bersemangat mengajak Aman bermain. Namun Aman lebih suka sendirian. Aman sering terlihat menjelajah area pohon berdaun lebat yang sulit untuk dilihat. Aman memegang setiap ranting dan naik secara perlahan-lahan, tidak seperti orangutan lainnya. Aman belum mahir untuk bergelantungan dari pohon ke pohon, namun dia tidak pernah menyerah dengan kembali turun ke tanah.

Tekad dan kemampuannya untuk tetap berada di atas pohon tidak dapat diremehkan. Menjadi orangutan disabilitas, Aman tercatat dapat berpindah-pindah pada lima pohon yang berbeda tanpa terjatuh sedikit pun. Dia pun enggan untuk kembali pulang saat sekolah hutan berakhir. Aman mungkin bukan yang terkuat dan terlincah, namun Aman tidak akan membutuhkan waktu lama untuk bisa dilepasliarkan jika dia terus konsisten dan tidak menyerah. (GAR)

DITO, SUPIR ANGKUT RUMPUT DARI RUSIA

Selama tanggap bencana Siaga Merapi 2020, tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection turut menolong satwa terdampak bencana. Bersama dengan para relawannya, tim APE Warrior membantu distribusi pakan ternak hijau setiap hari dan tambahan konsetrat serta mineral untuk ternak sapi.

Relawan satwa yang membantu APE Warrior berasal dari beragam latar belakang usia dan pekerjaan. Beberapa di antara para relawan merupakan mahasiswa aktif dari berbagai jurusan. Salah seorang relawan, Achmad Anandito Haryo Prastoro (22) atau akrab dipanggil Dito sedang berkuliah jurursan arsitektur di Rusia dan saat ini pulang kampung ke Yogya. Ia mengaku bergabung sebagai relawan satwa untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat.

Dito sudah bergabung sebagai relawan satwa selama hampir sebulan. Selama bergabung, ia membantu mengangkut rumput untuk ternak, terutama posisi supir. DIto juga membangun shelter untuk pengungsian anjing, kucing dan berbagai kegiatan lain yang menjadi pekerjaan APE Warrior. Menurut Dito, hewan sering kali diabaikan dalam kondisi bencana. “Manusia kan sudah jelas banyak dibantu lembaga yang lebih ahli dalam bidangnya. Nah yang peduli dengan hewan atau ternak itu jarang”, ungkapnya.

“Secara tidak langsung, kan kegiatan ini juga bermanfaat buat masyarakat atau peternak. Kalau harus ngangkut sendiri pasti berat buat warga karena banyak yang tidak punya kendaraan dan jaraknya jauh. Jadi lumayanlah kegiatan ini bisa meringankan beban peternak sapi”, Dito menambahkan. Selain bermanfaat bagi masyarakat menurut Dito dengan bergabung dalam kegiatan ini, ia juga mendapat manfaat tersendiri. “Dari gabung di sini aku jadi dapat relasi baru, teman-teman baru, pengalaman baru, tambah happy dan tambah sehat juga pastinya”, paparnya. (Inez_Orangufriends)

WARGA DUSUN KALITENGAH LOR CEMAS AKAN TERNAKNYA

Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Tim APE Warrior baru saja selesai mengangkut rumput dari Dusun Kalitengah Lor ke lokasi pengungsian ternak di Lapangan Banjarsari. Beberapa warga sudah menunggu di depan kandang ternak. Setelah menurunkan pakan dari mobil pikap, para relawan Satwa beristirahat di pos sembari mengobrol dengan warga setempat.

“Yang ini namanya rumput pebe, yang ini namanya rumput kepyuran, ada juga rumput kalanjana, macam-macam mbak. Tapi seringnya yang mbak bantu angkat itu rumput pebe”, kata Bu Narti. Bu Narti adalah pemilik dua ekor sapi di shelter ternak Banjarsari. Ia bercerita bahwa salah satu sapinya baru saja melahirkan, namun anak sapi yang baru lahir tersebut tidak tertolong karena induknya mengalami kelainan pinggul sempit, sehingga jalan lahirnya harus dipotong.

Bu Narti mengatakan masih ada ternak yang belum diungsikan ke shelter ternak karena beberapa warga masih diperbolehkan tinggal di rumahnya. “Kalau yang diungsikan ke sini itu biasanya yang dulu punya pengalaman kena dampak letusan Gunung Merapi 2010. Saya juga mengalami. Jadi kalau disuruh mengungsi, ya lebih baik mengungsi”, jelasnya diantara suara lenguhan sapi.

Bu Narti sendiri sudah memelihara sapi sejak lama. namun, sapi-sapinya tidak pernah dijual karena menurutnya akan rugi kalau tidak sedang benar-benar butuh uang. Dari obrolan bersama Bu Narti, terlihat bahwa beternak sapi merupakan bagian penting dari kehidupan warga disekitar lereng Gunung Merapi. Beberapa warga mengaku akan tetap menitipkan hewan ternaknya di lokasi pengungsian ternak selama mendapatkan bantuan dari Pemerintah dan relawan dalam hal pengangkutan pakan setiap harinya. (Inez_Orangufriends)