LIMA BELAS HARI INI, SEPTI TIDAK KEMBUNG

Ada satu gadis manis yang selalu membuat penggemarnya khawatir. Dia yang selalu terlihat kalem dengan gaya tatanan rambutnya yang khas, poni yang disisir ke belakang. Yup… dia adalah Septi. Septi yang telah dua kali menjadi kakak maupun ibu asuh dari bayi-bayi orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Septi selalu mempunyai masalah perut kembung. Perutnya sering terlihat membesar dan keras. Sewaktu ada bayi Alouise, Septi tidak terlalu sering kembung. Mungkin karena bayi Alouise selalu memeluknya sehingga Septi merasa lebih hangat dan ada yang menekan-nekan perutnya secara alami. 

Untuk mengurangi kembungnya, tim medis juga sudah menghindari makanan yang mungkin bisa memicu perut kembung. Bahkan langsung menghapus jenis buah yang langsung membuat Septi keesokan harinya kembung. Tapi ternyata Septi masih juga kembung. 

Bahkan, salah seorang pengemarnya telah mengirimkan pengobatan khusus dan tentu saja doa dan harapan untuk kesembuhannya. Semua yang mengenal orangutan Septi berharap kesembuhannya. Dan selama lima belas hari ini, Septi tidak kembung. Sungguh menggembirakan, melihatnya bergerak aktif, walau memang Septi bergerak dengan lamban, baik itu menuju makanannya, menyusun daun maupun ranting atau naik ke atas hammocknya. 

“Ayo Septi… kamu bisa. Banyak penggemarmu yang mengharapkan kabar baik darimu. Kemungkinan untuk dilepasliarkan?”. Setiap orangutan adalah pribadi yang unik. Perkembangan satu orangutan dengan yang lainnya berbeda. Mimpi melihatnya di atas pohon adalah mimpi terbaik. Jalan itu masih panjang, tapi tak pernah ada yang mustahil. Terimakasih untuk kamu yang sangat peduli pada Septi.

PENGAMBILAN DARAH ORANGUTAN AMAN

Semangat… semangat… pagi-pagi hujan sudah turun di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Dingin… tapi hari ini, jadwal untuk pemeriksaan kesehatan orangutan Aman. Aman adalah orangutan yang baru diselamatkan dari rumah warga di Kutai, Kalimantan Timur. Sejak 3 Juni yang lalu, dia menghuni kandang karantina di klinik COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur.

Sebulan lebih, tim medis yang dipimpin drh. Flora Felisitas mengamati perilaku Aman. Bahkan uji coba di playground juga sudah dilalui. Hasilnya… “sungguh malang nasibmu Aman. Tentu tidak mudah hidup yang kamu lalui hingga harus berada dalam perawatan kami di COP Borneo. Kehilangan induk dan jari-jari di tangan kanan maupun kirimu.”, gumam Flora sembari memperhatikan jari-jari Aman. “Bagaimana kami merekam sidik jari-jarimu.”. Syukurlah Aman masih sangat menyukai daun maupun ranting untuk disusunnya menyerupai sarang. Aman juga terlihat sangat menyukai susu. “Ya, Aman lebih menantikan datangnya segelas susu jatahnya dari pada buah-buahan.”, jelas Flora lagi.

Orangutan Aman menjalani pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan dan pencatatan tampilan fisik. “Sampel darah Aman juga akan segera dibawa ke laboratorium untuk identifikasi apakah ada penyakit yang diidapnya atau tidak. Kami juga memasang microchip sebagai identitas.”, tambah Flora lagi. 

Seminggu ke depan, hasil laboratorium orangutan Aman akan keluar. Semoga hasilnya baik agar Aman dapat bergabung dengan orangutan lainnya. “Pengabungan orangutan yang seumuran dan sejenis biasanya membawa pengaruh yang positif. Mereka terlihat saling memperhatikan dan belajar. Ini akan sangat berguna selama menjalani rehabilitasi di COP Borneo. Tetapi juga bisa membawa pengaruh yang buruk seperti menjadi tidak terlalu liar dan meminta perlindungan pada perawat satwanya.”. Orangutan adalah satwa liar yang memiliki DNA hampir sama dengan manusia. Namun, orangutan adalah satwa liar yang memiliki peran penting dalam ekosistem hutan hujan Kalimantan. Jangan pelihara orangutan, biarkan dia di hutan. 

TUJUH BURUNG KEPAKKAN SAYAPNYA DI TN BALURAN

Selesai sudah pelepasliaran satwa liar jenis aves ke Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Ketujuh burung kembali ke alam, walau dengan usaha yang tidak mudah dan murah. “Perjalanan tim APE Warrior dari Yogyakarta ke TN Baluran saja sudah memakan waktu sembilan jam. Itu belum persiapan sebelum keberangkatan. Setibanya di TN Baluran juga tidak serta merta dilepaskan, tetapi juga harus melalui habituasi, baru kemudian bisa dilepaskan. Sudah selesai? Belum, masih ada monitoring, apakah satwa mampu bertahan hidup di habitat barunya atau tidak.”, sedikit penjelasan dari Hery Susanto, Centre for Orangutan Protection.

Tiga individu elang dan empat individu merak akhirnya mengepakkan sayapnya di alam pada 15 Juli 2020 ini. Pintu kandang habituasi dibuka oleh Kepala Balai Taman Nasional Baluran bersama kepala BKSDA Yogyakarta. Keempat relawan orangutan (Orangufriends) yang ikut menghela nafas lega. “Senang sekali, akhirnya mereka dapat bebas.”, ujar Netu yang merupakan alumni COP School 10 dari Jakarta.

“Cuti lima hari untuk ikut pelepasliaran lebih bermakna.”, kata Angga lagi. Sementara Rebi yang saat ini sedang WFH (Work From Home) tanpa aktivitas menjadikan kegiatan relawan kali ini lepas dari karantina di kost-kostan yang telah berlangsung selama empat bulan. Pelepasliaran satwa liar di tengah pandemi COVID-19 memiliki arti tersendiri untuk para relawan. Merasakan karantina selama pandemi berlangsung menjadikan kita dapat merasakan bagaimana satwa liar hidup di dalam sangkar. Seindah apapun sangkar itu, akan lebih baik berada di habitat alaminya.