ULAH ORANGUTAN BERANI DI SEKOLAH HUTAN

Orangutan bernama Berani adalah orangutan remaja yang berumur 7-8 tahun berada di Pusat Rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Di sekolah hutan, Berani cukup berbeda dengan yang lainnya. Ketika pagi hari berada di sekolah hutan, Berani biasanya belum ingin beraktivitas di atas pohon untuk mencari makan dan bermain gelantungan di tali akar. Berani lebih senang menarik orangutan yang lain untuk bermain gulat-gulatan, gigit-gigitan di tanah hingga ia puas.

Menjelang siang, saatnya balik ke kandang. “Yuk pulang… pulang”, ajak perawat satwa. Kalau orangutan lain langsung menuju ke perawat satwa dan langsung naik ke pundak untuk digendong. “Hemmm di sinilah Berani pelan-pelan naik ke atas pohon, mulai menjauh dari perawat satwa dan memanjat pohon yang tinggi sekitar 15-20 meter dengan asiknya. Berani juga bergelantungan di tali akar sambil melihat ke bawah”, cerita Linau, kordinator perawat satwa BORA.

Perawat satwa terus memanggil turun sambil memancingnya dengan buahmaupun susu tetapi Berani tidak menghiraukan itu. Hingga waktu terus berlalu, bahkan perawat satwa harus saling bergantian menuju kamp untuk makan siang dan kembali lagi ke lokasi sekolah hutan dimana Berani masih asik bergelantungan.

Hari sudah sore, hujan pun mulai turun. Berbagai cara sudah diupayakan untuk mengajak Berani turun. Seluruh perawat satwa hingga paramedis sudah basah karena hujan namun tetap semangat. “Alamat bermalam di sekolah hutan nih kalau Berani tak juga turun”, gumam perawat satwa Stefen. Sekolah hutan sudah semakin gelap dan dengan santainya Berani turun. Perawat satwa hanya bisa geleng-geleng kepala, antara gemes dan lega. “Wahhh… parah banget nih Berani. Senengnya ngerjain perawat satwanya”. (NAU)

APE WARRIOR LEPAS-LIARKAN KEMBALI DUA ULAR KE HABITATNYA

Seorang warga menemukan ular dengan panjang 2,8 meter di bawah mobil di daerah jalan Monjali, Sleman, DI. Yogyakarta pada Jumat, 29 Oktober yang lalu. Tim APE Warrior bersama Orangufriends akhirnya membawa ular tersebut ke WRC Jogja untuk diperiksa kesehatannya. Setelah pemeriksaan, ular tersebut diberi vitamin A, D, E dan B dan ditranslokasi di area yang jauh dari pemukiman warga.

Bersama ular ini, tim juga membawa satu ular sanca batik yang sebelumnya juga sempat dititipkan di WRC Jogja untuk mendapat perawatan pada bulan Juli lalu. Ular yang dinamai Jaja ini, sebelumnya merupakan hasil serahan warga di sekitar dusun Gondanglegi, Ngaglik, Sleman. Jaja ditemukan dengan keadaan mulut yang terbuka hingga akhirnya harus menjalani perawatan intensif dan siap untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

“Satwa liar muncul di dekat manusia biasanya mengalami sesuatu hal yang tidak biasa. Kalau saat ini musim penghujan, satwa liar seperti ular sering masuk ke pemukiman atau perumahan. Usahakan untuk tidak membunuh! Karena kematian satwa liar yang tidak lazim biasanya akan membuat ketimpangan atau membuat keseimbangan alam terganggu. Segera hubungi tim penyelamat satwa terdekat. Karena penangganan satwa liar tertentu yang mungkin butuh penanganan khusus. Untuk daerah Yogyakarta, tim APE Warrior siap membantu”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP. (LIA)

UPAYA PENERTIBAN BERUJUNG PADA KEMATIAN CANON

Media sosial diramaikan dengan video penangkapan hewan anjing bernama “Canon” oleh Satpol PP di Aceh. Dalam video itu, sejumlah petugas Satpol PP terlihat berusaha menangkap anjing berwarna hitam dengan menggunakan kayu. Aksi tersebut menuai banyak protes dari jagad dunia maya. Tidak sedikit yang marah dan balik mengecam oknum Satpol PP tersebut. Canon juga dimasukkan ke dalam kotak kayu, dilakban dan diberi sedikit lubang kemudian ditutup terpal. Diduga tata cara evakuasi anjing ini malah menyebabkan hewan cerdas ini meninggal dunia.

Terlepas dari kasus tersebut, sebelumnya Camat Pulau Banyak, Mukhlis menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan surat pemberitahuan terhadap pihak Kimo Resort. Ia menjelaskan kegiatan penertiban ini dilakukan karena mendapat laporan bahwa Canon diduga telah membuat beberapa wisatawan resah karena kehadirannya. Bahkan disebutkan bahwa Canon pernah menggigit wisatawan di sana.

Sejak tahun 2010, tim APE Warrior COP telah melakukan penanganan satwa pada situasi bencana. Walaupun kematian satwa akibat bencana menjadi hal wajar dan bagian seleksi alam. Namun, menjadi catatan penting ketika proses penanganan baik itu seperti evakuasi/penyelamatan maupun perawatan langsung tetap mengutamakan animal welfare (kesejahteraan satwa). Memang dalam situasi yang bisa mengancam keselamatan diri sendiri, kita dituntut untuk menangani satwa dengan cepat dan tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Tapi untuk kasus kematian Canon ini seharusnya bisa diantisipasi lebih awal, karena situasinya berbeda jauh dari kondisi darurat. Penanganannya pun bisa lebih dipersiapkan dengan matang.

“Upaya penertiban apalagi ada dugaan kekerasan, semoga tidak akan terjadi lagi pada hewan peliharaan maupun satwa liar lainnya, kerena mereka juga termasuk makhluk hidup. Turut berduka untuk Canon”, ucap Satria Wardhana, kapten APE Warrior prihatin. (SAT)