PENANAMAN POHON BERSAMA DI LESAN DAYAK

Ini adalah penanaman bersama COP, KPHP Berau Barat, Dinas Pariwisata pada 1 April 2017 yang lalu. Berbagai jenis pohon buah-buahan dan tanaman hutan di lahan yang terbuka dengan bantuan anak SMA didikan Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI) yang kebetulan sedang mengadakan perkemahan.
“Semakin banyak yang terlibat penanaman pohon, maka akan semakin banyak pula harapan baru yang akan tumbuh.”, demikian kata Paulinus sambil menanam pohon rambutan.

Penduduk asli pulau Kalimantan adalah suku Dayak. Dayak berarti orang pedalaman. Umumnya masyarakat dayak adalah peladang berpindah padi huma yang menghuni tepi sungai di Kalimantan. Budaya menanam pohon diperkenalkan sebagai usaha untuk memperbaiki kondisi alam yang terbuka.

CATATAN SELEKSI COP SCHOOL BATCH 7

Tidak banyak sekolah atau pelatihan yang dirancang untuk mencetak aktivis satwa liar yang mempunyai pemahaman dasar konservasi dengan etika dan moral terutama di satwa liar orangutan. Kalaupun ada tidaklah bertahan lebih dari 3 kali pelatihan. Mundur perlahan kemudian hilang. Apa yang membuat COP School bisa bertahan hingga tahun ke-6 dan sekarang siap menyambut Batch 7 dengan kekuatan, antusiasme dan semangat juang orang-orang dibalik layarnya.

Kami percaya, “apa yang dikerjakan karena perut akan kembali ke toilet, apa yang dikerjakan dengan hati akan kembali kehati.”. COP School bisa dikatakan sebuah “sekolah” yang setiap tahunnya berganti kurikulum karena mengikuti perkembangan dunia konservasi dengan pertimbangan, evaluasi dan masukan dari siswa, alumni, pemateri dan staff COP. Karena tidak ada sekolah sejenis yang bisa kami jadikan rujukan sebagai influens. Semua diawali meraba-raba hingga bertemu, bergerak dan berjuang bersama-sama siswa.

Hingga saat ini COP School bisa berjalan karena dikerjakan secara kolektif. Persis seperti budaya kita, Gotong Royong. Mungkin teman-teman bertanya kenapa ada kalimat “membayar sebagian Rp. 500.000,00“ diposter COP School. Yups, memang karena sebagian lainya “dibayar” oleh pemateri dan alumni COP School sebelumnya. Teman-teman alumni yang masih mempunyai waktu luang mencurahkan waktunya untuk membantu berjalannya COP School. Yang tidak ada waktu dan sudah mapan menyumbangkan dananya. Para pemateri datang dari kota lain ke Yogyakarta dengan biaya sendiri. Kolektif ini berjalan karena kami percaya selama masih ada anak-anak muda Indonesia yang mau peduli terhadap satwa liar maka dunia konservasi satwa liar masih mempunyai peluang untuk bertahan. Itulah yang kami sebut “MENOLAK PUNAH”.

Teman-teman calon siswa yang telah masuk disini tentu telah mengalami perjalanan, “ngapain loe ikut-ikutan acara nyelamatin monyet ato kera segala, serius loe??”. Berupaya empati untuk satwa di Negara kita memang sesuatu yang bisa dikatakan bukan hal normal. Tapi jika tidak ada orang gila maka tidak ada kelompok orang normal. Kami ingin membuat barisan menolak punah yang benar-benar “gila”. Dari tiga tugas yang dilemparkan kami bisa menilai semangat teman-teman dan juga terpaksa mengeluarkan empat calon siswa dari grup ini karena sama sekali tidak menjalankan tugasnya. Hingga akhirnya nanti tanggal 29 April 2017 benar-benar tersaring siswa Batch 7.

COP School tidak ada kuota kursi yang harus dipenuhi. COP School pernah hanya 18 orang siswa dan pernah juga sampai 40 lebih siswa. Tetap akan berjalan dan mempunyai ceritanya sendiri. Teruslah bertahan menjadi “gila” hingga nanti bertemu bulan depan di Yogyakarta. (DAN)

CHARISHA’S EXPERIENCE WITH COP (1)

Centre For Orangutan Protection (COP) is an organization that has done a lot of good to not only the orangutans but as well as other domestic and wild animals. They have also exposed the shameless and sick perpetrators of the wildlife trade in Indonesia. Their dedication in rescuing the injured and sick animals in strenuous situations as well as bringing the wildlife traders and poachers to justice is indeed a dangerous but brave approach. In all manners, respect has definitely been earned.

When I was a little kid, going for animal shows and enjoying pictures taken with the animals was something enjoyable to me. This included a picture taken with an orangutan. Being young and naive and thinking it was really cool to have a picture taken with an orangutan as well as other wild animals. Later on I would realize that what I did back then was not a cool thing.

I had the opportunity of helping out with the enrichment programme in the enclosure of the orangutans when I was doing a short externship at Taiping Zoo in Malaysia. Not until recent, I had a close up experience with a baby orangutan at Animal Sanctuary Trust Indonesia (ASTI). As always I go up there to lend a hand with the animals and do some photography and this time I was told that there were two baby orangutans named Upin and Ipin who had just been brought in by the BKSDA and the police.

I saw Upin in the cage and I thought to myself, he is handsome! He reached out his hand and laid it on my cheek and I felt my world stopped spinning that second and I had tears streaming down my face. That second right there, something in me changed. Upin casually moved his fingers wiping away my tears. How did such a beautiful soul end up in the hands of humans far from the forest?
In 2013, I decided to join COP School Batch 3. I not only learned that Orangutans are endangered in both Sumatera and Kalimantan, but I also learned that wildlife trade in Indonesia is as real as it can get. Being an animal enthusiast and an animal lover, I felt the need to help them. Wanting to pursue my passion in wildlife veterinary, I decided to do my intern at COP Borneo to learn the rehabilitation of orangutans under Ape Defender.

What is the role of a vet in the field of Orangutan conservation? to be continued… (Charisha_Orangufriends)