YOUR SECOND CHANCE, OWA ERIK

This male owa had been a pet for 10 years. He is called Erik. When he was younger, he was kept inside the house. As time goes by, Erik grew bigger and show his true nature. Erik was chained on his waist, in a yard of Mentaya Baru villager, Ketapang, East Kotawaringin, Central Kalimantan. These past 3 years, they made a cage for Erik. A wooden cage, 2x 1.5 m in the backyard of Pak Djianto. They feed Erik with fruits like banana, jambu, and other seasonal fruits. As stated by Pak Djianto, he got Erik from illegal trade when Erik was baby. It was not easy to evacuat Erik. Pak Djianto loved him so much. Through persuasive approach, Pak Muriansya (commander of BKSDA Sampit) finally able to convinced Pak Dijanto. Erik’s story is very common on wildlife trade. When they were little, they were cute. However, when they grew bigger, people got rid of them because of their neture. “To end the illegal trade, do not buy and keep wild animals as pet” stated Faruq Zafran, APE Crusader Captain. Erik was handed to BKSDA SKW II Pangkalan Bun. After completing medical examnation by OF-UK, Eric was delivered to Camp JL in SM Lamandau. (Zahra_Orangufriends)

KESEMPATAN KEDUA MU, OWA ERIK
Owa berjenis kelamin jantan ini sudah dipelihara selama 10 tahun. Dia diberi nama Erik. Saat Erik ini masih kecil, dia dipelihara di dalam rumah. Seiring waktu, Erik tumbuh menjadi besar dan menunjukkan sifat liarnya. Erik pun dirantai pada bagian pinggangnya di halaman rumah warga Mentaya baru Ketapang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Tiga tahun terakhir ini, Erik dibuatkan kandang kayu berukuran 2 x 1,5m di halaman belakang rumah pak Djianto. Setiap harinya, Erik diberi buah-buahan seperti pisang moli, jambu air dan jenis buah-buahan lainnya sesuai musimnya. Menurut pak Djianto, Erik didapatnya dari perdagangan ilegal pada saat kecil.

Tak mudah mengevakuasi Erik. Pak Djianto begitu menyayanginya. Dengan pendekatan persuasif, Pak Muriansyah (komandan pos BKSDA Sampit) akhirnya berhasil menyakinkan pas Djianto.

Kisah Erik, seperti satwa liar lainnya. Saat kecil adalah bayi mungil yang lucu. Saat memasuki remaja dan dewasa, dia disingkirkan karena keliarannya. “Jangan beli dan pelihara satwa liar untuk memutus mata rantai perdagangan.”, tegas Faruq Zafran, kapten APE Crusader COP.

Erik diserahkan ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun. Setelah pengecekkan kesehatan oleh OF-UK, Erik pun diantar ke Camp JL yang berada di SM Lamandau. (PETz)

OKI PINDAH KE KANDANG KARANTINA

COP Borneo bersiap untuk melepasliarkan kembali orangutannya. Tahap demi tahap dilalui dengan kerja keras seluruh tim COP Borneo. Juni 2017, satu orangutan dipindahkan dari pulau pra-pelepasliaran ke kandang karantina. Pemindahan ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali kesehatan orangutan secara menyeluruh sebelum dirilis.

Rencana hari ini, ada dua orangutan yang akan dipindahkan. Kedua kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan tahun ini adalah Nigel dan Oki. Tapi kondisi air sungai yang naik, ditambah orangutan Hercules yang saat itu sangat mengganggu tim, akhirnya tim medis memutuskan hanya satu individu orangutan yang ditarik terlebih dahulu dari pulau, yaitu Oki. Jadwal untuk memindahkan Nigel akan diatur kembali.

Bantu kami menyelesaikan proses rehabilitasi orangutan di COP Borneo dengan memberikan bantuan lewat http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Bersama… kita pasti bisa! (WET)

APE DEFENDER MASUK DESA

“Ada dua pasien dilaporkan sakit. Kasus penyakitnya gatal sepertinya penyakit kulit.”, begitu laporan sampai ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang bersebelahan dengan desa Merasa, Kalimantan Timur. Kebetulan sekali, dokter hewan di COP Borneo punya program sosial untuk hewan peliharaan dan ternak secara berkala untuk desa terdekat. Pertengahan Juni 2017, sesuai jadwal kosong, drh. Rian Winardi lengkap dengan peralatan dan obat-obatan mendatangi desa yang berjarak 15 km dari pusat rehabilitasi tersebut. 

Usai pemeriksaan, Rian melanjutkannya dengan tindakan injeksi dan pemberian salep. Ternyata kunjungan ke desa ini tak hanya karena ada laporan hewan yang sakit, tetapi merupakan kegiatan terjadwal tim medis satu kali dalam seminggu pada setiap hari Sabtu. Setiap pasien juga memiliki kartu periksa untuk kontrol kesehatan minggu berikutnya. 

“Pantas saja anjing-anjing langsung berkumpul saat drh. Rian menghampiri mereka. Ternyata pemberian makanan tambahan dan vitamin juga membuat merek bertambah nyaman.”, ujar Daniek Hendarto. (NIK)