HAPPI FEEL SLEEPY IN THE MIDDLE FOREST SCHOOL

Seperti bayi manusia yang lebih banyak tidur, ternyata bayi orangutan bernama Happi ini pun tertidur kelelahan di saat sekolah hutan berlangsung. Tidak perduli ada dimana dalam posisi seperti apa, Happi akan tidur dimana saja dia suka. Sayang, dia tertidur bukan dalam pelukan ibunya.

Happi adalah orangutan yang masuk Pusat Rehabilitasi COP Borneo pada 30 Agustus 2016 yang lalu. Belum juga satu tahun usianya, dia sudah harus sampai ke tangan manusia. Menurut Herman Rijksen dan Erik Meijard dalam bukunya  Di Ambang Kepunahan, “satu induk yang mati terbunuh mewakili setidaknya 2 – 10 orangutan yang mati terbunuh.”.

Memasuki semester pertama Happi di COP Borneo, dia menjadi orangutan yang dicari Popi. Happi juga yang mendekati Popi saat Popi menangis. Happi akan memeluk Popi, menenangkannya, pinga Popi berhenti menangis. “Tangisan bayi-bayi orangutan memang menyayat hati yang mendengarkannya. Tapi pada siapa lagi mereka bergantung untuk bisa bertahan hidup.”, ujar Wety dengan sedih. Wety adalah baby sister COP Borneo. “Melihat bayi-bayi ini tumbuh dan berkembang sungguh luar biasa. Dan bahagia sekali saat mereka mulai mandiri.”, tambahnya. Masih panjang perjalanan bayi-bayi ini untuk kembali ke habitatnya. Dukungan moral dan materi sungguh sangat berarti. Hubungi email kami di info@orangutanprotection.com untuk memberikan bantuan.

MENGENAL SI ISENG OWI LEBIH DEKAT

Kali ini kita akan berkenalan dengan Owi. Orangutan Owi adalah salah satu siswa sekolah hutan yang berada di pusat réhabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Owi yang masih berusia 2 tahun ini ditemukan pekerja di area perkebunan kelapa sawit. Karena kasihan, pekerja membawanya dan Owi akhirnya dipelihara oleh seorang tentara di daerah Tenggarong. Beruntungnya, Owi akhirnya diserahkan ke COP Borneo dan mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup liar. Sebagai siswa, Owi mengikuti program sekolah hutan. Bayi orangutan tanpa induk ini, tak hanya sendirian. Bersama dua siswa yang lain yang seumurannya, dia berlatih dan bermain.

Owi memang berbeda dengan orangutan yang lain. “Kocak, hingga sering membuat kami tertawa.”, ujar Danel. Owi memang sangat lucu sekaligus paling nakal diantara Bonti dan Happi yang hampir seumuran dengannya. Owi juga sangat rakus dan tak ragu-ragu merampas makanan temannya yang lain. Tak hanya itu, Owi juga sangat iseng dengan menggoda animal keeper yang mengawasinya bahkan menggigit animal keeper saat sekolah hutan berlangsung. Tapi tak hanya animal keeper yang pernah digigitnya, kedua temannya yang selalu mengikutinya juga pernah digigitnya, karena kesal diikuti terus. “Mungkin saat itu ingin privasinya tidak diganggu.”, kata Danel serius.

Owi juga yang paling sulit dipanggil turun saat sekolah hutan harus berakhir. Owi masih asik bermain dan belum puas. Terpaksa animal keeper Jhony memanjat pohon dan menjemputnya. Tapi, jika Owi sudah bosan di atas pohon, dia akan turun dengan sendirinya. (DANEL_COPBorneo).

ANIMAL KEEPERS’ CREATIVITY FOR SEPTI

Not too much movement. At first glance, she is indeed a calm and quiet type. This female orangutan is named Septiana. With the characteristic of thick hair all over her body, of course male orangutans will like her very much.

Unfortunately, Septi still has to be patient. Her movement is still limited in a 4 × 5 meter quarantine cage. An 8-year-old with a large body, she is no longer in a jungle school which is usually filled with orangutan babies under the animal keepers supervision.

However, the animal keepers never give up to keep Septi busy despite limited space. Breakfast at 8 am usually is not an easy task for Septi. “We call it an ‘enrichment’ or food enrichment,” said Jhony. It is indeed quite complicated to serve it. We have to drill bamboo and fill it with grains and honey. We also use the Kong ball to put the cut fruit mixed with young leaves into it. The same is true when we give dinner around 5 pm. Occasionally we talk to her and joking around by playing twigs.

Usually in the afternoon, we also give her twigs and leaves, so that Septi is busy arranging them into a nest as her sleeping pad. This is all we do to make her busy and keep honing its natural behavior. (EBO)

KREATIFITAS ANIMAL KEEPER UNTUK SEPTI

Gerakannya tidak terlalu banyak. Sekilas melihatnya, dia memang tipe yang kalem dan pendiam. Orangutan betina ini bernama Septiana. Dengan ciri khas rambut yang lebat disekujur tubuhnya, tentunya dia akan sangat disukai orangutan jantan.

Sayangnya, Septi masih harus bersabar. Gerakannya masih terbatas dalam kandang karantina 4×5 meter. Usianya yang 8 tahun dengan tubuh yang besar, sudah bukan lagi berada di sekolah hutan yang biasanya diisi orangutan anak-anak dengan pengawasan babysister maupun animal keeper.

Namun, para animal keeper tak putus asa membuatnya tetap sibuk walau terbatas ruang geraknya. Makan pagi yang biasanya jam 08.00 WITA disajikan dengan tidak mudah. “Kami menyebutnya dengan ‘enrichment’ atau pengkayaan makanan.”, ujar Jhony. Memang menyajikannya jadi lebih rumit. Kami harus mengebor bambu dan mengisinya dengan biji-bijian dan madu. Kami juga memanfaatkan bola kong untuk memasukkan buah-buahan yang sudah dipotong bercampur daun-daun muda ke dalamnya. Sama halnya saat kami memberikan makan malamnya sekitar jam 17.00 WITA. Sesekali mengajaknya berbicara dan bercanda dengan memain-mainkan ranting.

Biasanya di siang hari, kami juga memberikannya ranting dan daun, agar Septi sibuk menyusunnya menjadi sarang sebagai alas tidurnya. Ini semua kami lakukan untuk membuatnya sibuk dan tetap mengasah prilaku alamiah nya. (Jhony_COPBorneo)