KEKEJAMAN DI BALIK KOPI LUWAK MU

Pagi ini, orangufriends Malang berkumpul bersama. Mereka adalah informan terbaik yang dimiliki Centre for Orangutan Protection. Mereka paham betul, satwa yang dilindungi tak seharusnya dimiliki seseorang. Selain itu… mereka tidak akan tahan dengan kekejaman yang terjadi pada satwa. Mereka belajar di COP School.

Lintas angkatan, lintas gender hanya untuk satwa liar. Itulah mereka, orangufriends Malang. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection ini adalah semangat muda COP. Seperti Rama yang berasal dari COP School Batch 7, Grace dari COP School Batch 6 dan Nathanya dari COP School 5 saling bekerja sama menghimpun informasi kepemilikan ilegal dari satwa yang bernama Binturung (Arctictis binturong) di sebuah co-working space coffee Gartenhaus, Malang. Hasilnya, tiga individu Binturung disita oleh KSDAE Malang dan Gakkum KLHK Jawa Timur.

“Binturung ini juga menghasilkan kopi luwak. Bahkan kemampuan binturung memilih biji kopi yang akan dimakannya jauh lebih baik dibandingkan musang luwak katanya yang memelihara Binturung tersebut.”, ujar orangufriends Malang. “Dan di balik kenikmatan kopi luwak ini, ada satwa liar yang harus bekerja keras. Bahkan satwa liar yang dilindungi undang-undang seperti Binturong ini pun harus terpenjara di dalam kandang, untuk menghasilkan kopi luwak.”, kata Rifqi, alumni COP School Batch 5.

Binturung semakin mengkawatirkan keberadaannya di alam karena keserakahan manusia. Tidak hanya karena habitatnya yang semakin rusak, namun keinginan manusia untuk menikmati kopi luwak tanpa mengindahkan caranya.

SELAMATKAN BURUNG EMPRIT DARI LOMBA BERBURU!

Jumat yang mengejutkan. Poster yang beredar lewat whatsapp mengundang reaksi orangufriends dimana pun berada. “Ngak salah nih? Burung Emprit dijadikan buruan?”. Panitianya SNIPER Uklik Indonesia yaitu Joko Paryanto. Bertempat di Karangmojo RT 01/RW 01, Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia lagi! “Ngak malu apa, bawa-bawa nama Indonesia tanpa tahu peraturan yang berlaku?”, ujar Hery Susanto geram.

Padahal kecaman terhadap organisasi Persatuan Penembak Indonesia atau Perbakin di kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pertengahan Oktober 2017 yang lalu masih dalam ingatan kuat. Saat itu ada 150 burung yang mati dengan lokasi kejadian di Cagar Alam Beringin Sakti, Lapangan Cindua Mato, kota Batusangkar. Jenis burung yang ditembak mati adalah jenis dilindungi PP Nomor 7 tahun 1999 yaitu kuntul kecil (Egretta garzetta) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

“Berdasarkan Peraturan KAPOLRI No. 8 Tahun 2012: Senapan Angin hanya untuk latihan menembak sasaran di arena. Dengan demikian penggunaannya untuk berburu burung jelas SALAH. Siap-siap ditangkap.”. “Yuk, di copas aja, lalu kirimkan SMS mu ke JOKO 085725953390 , DEWA 085743376650 , DARUS 085643101076.”, tambah Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

“Bantu ya… agar kejadian di RRC saat Mao Zedong memusnahkan ratusan juta burung gereja atau pipit karena dianggap penyebab bencana kelaparan di sana tidak terulang lagi. Burung gereja pun menjadi hampir punah di sana dan muncullah masalah baru.”, ujar Novi, Orangufriends dari Padang.

HARDI UNTUK KULIAH KAPITA SELEKTA DTETI UGM

Kapita Selekta adalah sebuah mata kuliah untuk mempersiapkan mahasiswa tingkat akhir dalam penyusunan skripsi. Selain sebagai sarana persiapan, mata kuliah ini juga menuntun mahasiswa agar dapat menyiapkan skripsinya dengan lebih tepat dan terarah. Menariknya, kuliah digelar dengan mendatangkan prmbicara-pembicara inspiratif yang telah menggeluti dunia kerja.

Ruang kuliah E6 lantai 3 DTETI (Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi) UGM mulai dipenuhi mahasiswa. Tepat pukul 08.00 WIB, materi “The Eco-Warriors: Deforestation and Orangutan Conservation”, dimulai.

“Wow… mahasiswa sekarang kritis dengan analisa. Dunia pendidikan memang semakin maju dengan semakin luasnya cara untuk mendapatkan informasi.”, ujar Hardi Baktiantoro, pemateri yang diundang UGM. Kalau dulu, teori terasa begitu jauh sekali dengan kenyataan di lapangan. Namun sekarang, mahasiswa diharapkan untuk tidak melihat jurang tersebut, dan siap menghadapi tantangan usai duduk di kampus.