THE ESPECIALLY OF COP BORNEO FOREST SCHOOL

This is the long-awaited moment. The animal keeper brings the orangutans to the forest school. Carrying is the most effective way for orangutans under 4 years of age. Indeed at such an age, orangutans are very dependent on their mothers and spend their time in their parent arms. The bond of the child and its mother is so strong. While at the rehabilitation center of COP Borneo orangutan located in East Kalimantan, the animal keeper is the tip of the spear. They are the ones who know exactly the character of each orangutan.

Owi … Bonti … Happi … Popi … and Annie. These five orangutans will learn together. They care for each other. If it had been Happi the little one who always followed the bigger orangutans. Now Happi was able to build his own nest. The more … the more solid. While Bonti is always a follower of Owi, Bonti is now able to climb higher than Owi. Even Bonti began to compose twigs and leaves after watching Happi. If Owi, even more lazy to practice in the trees, he is more interested in disturbing the animal keeper or just playing on the forest floor.

What about Popi? The little Popi now prefers to spend the COP Borneo forest school class in the tree. The development is satisfactory! If Annie… Of course she had to fit in first. Her first day at a forest school was full of surprises. Every orangutan is a unique individual. And every animal keeper knows every orangutan as a different person. (LSX)

ISTIMEWANYA SEKOLAH HUTAN COP BORNEO
Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu. Para animal keeper membawa anak-anak orangutan ke sekolah hutan. Menggendong adalah cara yang paling efektif untuk orangutan-orangutan usia di bawah 4 tahun. Memang di usia seperti itu, orangutan sangat tergantung dengan induknya dan menghabiskan waktunya dengan berada dalam gendongan induknya. Ikatan anak dan induknya pun begitu kuatnya. Sementara di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur ini, para animal keeper-lah yang menjadi ujung tombaknya. Merekalah yang tahu persis karakter orangutan asuhnya.

Owi… Bonti… Happi… Popi… dan Annie. Kelima anak-anak orangutan ini akan belajar bersama. Mereka saling memperhatikan. Kalau dulu Happi si kecil yang selalu mengikuti orangutan yang lebih besar. Kini Happi sudah bisa membangun sarangnya sendiri. Semakin hari… semakin kokoh. Sementara Bonti yang selalu menjadi pengikut Owi, saat ini Bonti sudah bisa memanjat lebih tinggi dari Owi. Bahkan Bonti mulai menyusun-nyusun ranting dan daun-daun setelah memperhatikan Happi. Kalau Owi, malah semakin malas berlatih di pepohonan, dia lebih tertarik menganggu animal keeper atau hanya bermain di lantai hutan.

Bagaimana dengan Popi? Si mungil Popi sekarang lebih senang menghabiskan kelas sekolah hutan COP Borneo di atas pohon. Perkembangan yang memuaskan! Kalau Annie… tentu saja dia harus menyesuaikan diri dulu. Hari pertamanya di sekolah hutan penuh kejutan. Setiap orangutan adalah individu yang unik. Dan setiap animal keeper mengenal setiap orangutan sebagai pribadi yang berbeda.

NOVI IS WAITING FOR HIS FREEDOM

This is Novi, an orangutan who lives under the house and be friend’s dog. In April 2015, the APE Crusader team rescued him and took him to the COP Borneo Orangutan Rehabilitation Center in Berau, East Kalimantan. Novi is fast developing. Since last December 2015, Novi has lived freely on the orangutan island, which is only limited by fast-flowing rivers. However, human intervention still exists, by giving food every morning and evening. The supervision was also carried out by the patrol team to ensure that orangutans living on the island were in good condition.

Now Novi is ready to be released back to its habitat. A series of medical examinations have been passed and the results are good. The report of his behavior during the orangutan island was also satisfying. “There is no reason to hold him longer in a rehabilitation center. Novi is ready to be released.”, said Reza Kurniawan, Borneo COP manager.

The orangutan release process is not as easy as turning your palm. Orangutans still have to undergo a quarantine period while waiting for readiness for the release site. This will be a boring time for him. Being in the quarantine cage with space restrictions greatly affects the orangutans including the team in the field. Let’s support Novi and the team to stay excited. “Novi … be patient!” (LSX)

NOVI MENANTIKAN KEBEBASANNYA
Ini adalah Novi, orangutan yang hidup di kolong rumah berteman anjing. Pada April 2015 yang lalu, tim APE Crusader menyelamatkannya dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Novi cepat sekali perkembangannya. Sejak Desember 2015 yang lalu, Novi hidup bebas di pulau orangutan yang hanya dibatasi oleh sungai berarus deras. Namun, campur tangan manusia masih ada, dengan memberikan makanan setiap pagi dan sore. Pengawasan juga dilakukan oleh tim patroli untuk memastikan orangutan yang hidup di pulau dalam kondisi baik.

Kini Novi siap untuk dilepaskan kembali ke habitatnya. Serangkaian pemeriksaan medis sudah dilaluinya dan hasilnya baik. Laporan perilakunya selama di pulau orangutan juga memuaskan. “Tak ada alasan untuk menahannya lebih lama di pusat rehabilitasi. Novi siap dilepasliarkan.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Proses pelepasliaran orangutan tak semudah membalik telapak tangan. Orangutan masih harus menjalani masa karantina sembari menunggu kesiapan lokasi pelepasliaran. Ini akan menjadi masa-masa membosankan untuknya. Berada di kandang karantina dengan batasan ruang sangat mempengaruhi mental orangutan termasuk tim di lapangan. Yuk dukung Novi dan tim untuk tetap bersemangat. “Novi… sabar ya!”.

SPUTUM SAMPLE OF LECI THE ORANGUTAN, CLEAN

Taking sputum sample of orangutan is a tension of its own. “From COP Borneo orangutan rehabilitation center to the town of Berau already takes 90 minutes. Not to mention fly from Berau, transit in Balikpapan, and arrive in Jakarta. And then continue from the airport to Microbiology Laboratorium of Universitas Indonesia which traffic is unpredictable.” explained Ryan Winardi, the vetenarian of COP Borneo. The sample is impossible to send via expedition because it can only last within 24 hours. Plus, the temperatur should be kept in the range of 4-8 degrees Celcius.

But, the difficulty paid off when arrived at the laboratory and the sample still in a good condition. The result which can be known a week later is also a thrilling waiting. And if it fails, the calculation of cost and time will overshadow. The result is… Yes… the light-footed Leci can be released.

Step by step, rehabilitation of orangutan leci goes. Of course, all of this is supported by all parties, including goverments, individuals, and other institution. Right now, Leci is waiting for the green light of release site. The location that will be home to her. Lets help orangutan Leci for the release process and the monitoring afterward.. email us if you can be a volunteer  info@orangutanprotection.com (SAR)

SAMPEL DAHAK ORANGUTAN LECI, BERSIH
Pembawaan sampel dahak orangutan merupakan ketegangan tersendiri. “Dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ke kota Berau saja sudah 90 menit. Belum lagi terbang dari Berau, transit di Balikpapan dan ke Jakarta. Lanjut lagi bandara ke Laboratorium Mikrobiologi UI yang macetnya sulit diprediksi.”, urai Ryan Winardi, dokter hewan COP Borneo. Sampel mustahil dikirim lewat ekspedisi karena sampel hanya bisa bertahan dalam waktu 24 jam. Selain itu, suhu yang menjaga sampel tersebut harus dalam kisaran 4-8 derajat celsius.

Namun kesulitan itu terbayar saat sampai laboratorium dan sampel masih berada dalam kondisi baik. Hasil yang dapat diketahui seminggu kemudian juga merupakan penantian yang mendebarkan. Dan jika gagal, kalkulasi biaya dan waktu pun membayangi. Hasilnya… Yes… si lincah Leci bisa dilepasliarkan kembali.

Tahap demi tahap rehabilitasi orangutan Leci berjalan. Tentu saja ini atas dukungan semua pihak baik pemerintah, perorangan dan lembaga lainnya. Saat ini, Leci menunggu lampu hijau lokasi pelepasliaran. Lokasi yang kelak menjadi rumah baginya. Bantu orangutan Leci untuk proses lepas liar dan monitoring setelahnya yuk… email kami jika kamu bisa menjadi relawan info@orangutanprotection.com