INDONESIA, WHEN?

Circus. An entertaining performance. Amusing. Making laugh. Inviting admiration. Have you ever asked how those animals can do such amazing attractions? How can an elephant stands on a beam with one leg? How can a lion pass through the circle of fire without getting hurt? How can an orangutan rides a bike? Not many do knows how a handler trains those animals to do such kind of circus attractions. Nobody know how a lion can pass through the circle of fire. We don’t know the process behind it.

Basically, a lion can never pass through a circle of fire in the forest. So does orangutan that can never ride a bike in the jungle. So, how do they do it? It’s because they are trained by the handler. These animals are trained to do what the handler wants them to do. Ride a bike, pass through a fire circle, sit on a beam with one leg, till perform a magic show. How does the handler train them?

Those animals are made hungry and scared. Believe it or not,, they made the animals hungry and scared so that they will do what the circus handler commands. The circus animals will not be fed before they carry out the orders from handler. If in a starving condition the animal still doesn’t want to do the order, they will make them afraid. Feared by being beaten by blunt object, kicked, pierced by sharp object, and so on. So in the end, the animal does the handler commands with hunger and fear. Very cruel.

Therefore, when we watch the circus attraction, we are watching the animals starve and fear. The animals do the attraction with pressure. With hunger and fear. And we who watch have supported all those cruel actions. Support the torture given by the handlers to these animals.

Several countries have issued regulation to ban circus attractions. Because they felt it is a cruel attraction to animals. When is Indonesia? Do we have the heart to watch the cruelty committed to animals? Do we have the heart to laugh when they feel the hunger and the fear? (SAR)

INDONESIA KAPAN?
Sirkus. Tontonan yang menyenangkan. Menghibur. Membuat ketawa. Mengundang decak kagum. Pernahkah kita bertanya bagaimana hewan-hewan tersebut dapat melakukan atraksi sehebat itu?. Bagaimana seekor gajah dapat berdiri di atas sebuah balok dengan satu kaki?. Bagaimana seekor singa dapat melompat di lingkaran api dapat terluka sedikit pun? Bagaimana Orangutan dapat mengendarai sepeda dengan lincah?. Tak banyak yang tau apa yang terjadi di belakangnya. Tak ada yang tau bagaimana seekor pawang melatih hewan-hewan tersebut untuk melakukan aktraksi sirkus. Tak ada yang tau bagaimana seekor singa dapat melewati lingkaran api. Kita tak ada yang tau bagaimana proses di balik semua itu.

Pada dasarnya, seekor singa tidak akan pernah melewati lingkaran api di hutan. Begitu juga orangutan, dia tidak akan pernah mengendarai sepeda di hutan. Jadi, bagaimana mereka dapat melakukannya? Dilatih oleh pawang. Para hewan tersebut dilatih agar dapat melakukan apa yang diinginkan oleh para pawang tersebut. Mengendarai sepeda, melewati lingkaran api, duduk di atas balok dengan satu kaki, hingga melakukan atraksi sulap. Bagaimana cara pawang tersebut melatih hewan-hewan sirkus?

Para hewan tersebut dibuat lapar dan takut. Percaya atau tidak, hewan-hewan sirkus tersebut dibuat lapar dan takut agar dapat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh para pawang sirkus. Para hewan sirkus tidak akan diberi makan sebelum mereka melakukan perintah dari pawang. Jika dalam kondisi lapar hewan tersebut masih tidak mau melakukan perintah dari pawang, maka hewan tersebut akan dibuat takut. Dibuat takut dengan cara dipukuli dengan benda tumpul, ditendang, ditusuk dengan benda tajam, dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya para hewan tersebut melakukan perintah pawang dengan rasa lapar dan takut. Sangat kejam.

Jadi ketika kita menonton aktraksi sirkus, maka kita sedang menonton para hewan tersebut kelaparan dan ketakutan. Para hewan tersebut melakukan atraksi dengan penuh tekanan. Dengan rasa lapar dan takut. Dan kita yang menonton telah mendukung semua tindakan tersebut. Mendukung siksaan yang diberikan para pawang kepada hewan-hewan tersebut.

Beberapa negara telah mengeluarkan peraturan untuk pelarangan atraksi sirkus. Karena mereka merasa itu adalah atraksi kekejaman untuk hewan. Indonesia kapan?. Apakah kita tega menonton kekejaman yang dilakukan untuk hewan?. Apakah kita tega tertawa diatas rasa lapar dan takut hewan-hewan tersebut? (RYN)

SOUND FOR ORANGUTAN 2018 IN YOGYAKARTA

Sound for Orangutan charity music event is the sounds of wildlife, especially orangutans and their habitat. Since 2010 at MU Cafe, Sarinah, Central Jakarta, Shaggydog band is the first music group that sincerely campaign for orangutans through Centre for Orangutan Protection. Not only enthusiastically campaign through social media, they even didn’t hesitate to set aside the profit of the concert for orangutans.

Continued in 2012 at Rolling Stone Cafe, Jakarta then this activity became an annual crowdfunding event to support orangutans and their habitat protection, that this is shared responsibility not only in the hands a of government. Since that year, many musicians and artists had took their time to perform at the charity music event, Sound for Orangutan, like Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, and many more.

Sound for orangutan will be held for the 8th time with the theme of “Extinction is Forever”. the extinction of one animal species is a loss, both ecologically and its role in nature. Orangutans are great apes that an only found in the Asian continent and most of them are in Indonesia, precisely in Sumatera and Kalimantan island. Through musics, the orangutan protection campaign is spread out. The profit from this event will be donated to COP Borneo orangutan rehabilitation center, east kalimantan. The only rehabilitation center founded by Indonesian people. (SAR)

SOUND FOR ORANGUTAN 2018 DI YOGYAKARTA
Acara Musik Amal Sound for Orangutan adalah suara satwa liar khususnya orangutan dan habitatnya. Sejak 2010 di MU Cafe, Sarinah, Jakarta Pusat, band Shaggydog adalah grup musik pertama yang berkampanye untuk orangutan lewat Centre for Orangutan Protection dengan tulus. Tak hanya rajin berkampanye lewat media sosial, mereka pun tak segan-segan menyisihkan keuntungan dari konsernya untuk orangutan.

Berlanjut di tahun 2012 di Rolling Stone Cafe, Jakarta hingga menjadi acara tahunan untuk menggalang dukungan publik terkait dukungan perlindungan orangutan dan habitatnya bahwa ini adalah tanggung jawab bersama bukan hanya di tangan pemerintah. Sejak tahun itu pula, para artis seperti Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, dan masih banyak lagi band indie yang menyempatkan diri tampil di acara musik amal Sound For Orangutan ini.

Sound For Orangutan akan digelar untuk kedelapan kalinya dengan tema “Extiction is Forever” atau kepunahan adalah selamanya. Kepunahan satu spesies satwa merupakan sebuah kerugian baik secara ekologi dan peran akan satwa liar tersebut di alam. Orangutan merupakan kera besar yang hanya bisa ditemukan di benua Asia dan mayoritas di Indonesia tepatnya di pulau Sumatera dan Kalimantan. Lewat musik, kampanye perlindungan orangutan disebarkan. Keuntungan dari penyelenggaraan musik amal ini akan disumbangkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan putra putri Indonesia.

Kamu pun bisa bantu orangutan Indonesia lewat pembelian kaos SFO Hijau. Hubungi SMS/ Whatsapp : 081293248403 harga berkisar Rp 100.000,00 sampai Rp 120.000,00 Pre-Order ditutup pada 25 Agustus 2018. Buruan!!!(NIK)

ORANGUTAN DAY AT SDN 3 SYAMSYDIN NOOR

On Sunday, I paid a visit to SDN 3 Syamsudin NOOR, Banjar Baru, South Kalimantan, to commemorate world orangutan day that has been set on August 19th every year.  I got the chance to give a subject matter for 6th grade students which devided into 4 classes. Luckily, there was a friend who were willing to help me and two homeroom teachers. At 12.30 WITA sharp, 106 students enthusiastically run into the hall.

I was nervous, afraid that i could not delivered the material clearly. With the help of slides and video, I opened the session by describing what is Centre for Orangutan Protection. And then, the importance of preserving orangutan and the forest that is a habitat for various kind of wildlife, including Indonesian native plants that are already rare.

Beyond expectation, they listened very well. Question and answer session was something that made me stunned, because of their critical question. Even when the activity was over, many of them approached me to ask more about the topics. That I almost forgot about my nervousness.

Guessing game with pieces of  animal puzzles and some rewards in the form of snacks were the closing of today’s school visit. At 13.30 WITA all activities already ended. I am so grateful that everything was going smoothly and enthusiastically welcomed by the students, also got the positive support from the Principal. (Nurul_COPSchool8)

ORANGUTAN DAY DI SDN 3 SYAMSUDIN NOOR
Senin ini, saya melakukan kunjungan ke SDN 3 Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan untuk memperingati hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus pada setiap tahunnya. Saya mendapat kesempatan memberikan materi untuk anak-anak kelas 6 yang terdiri dari 4 kelas. Beruntung ada seorang teman yang bersedia membantu saya dan 2 orang guru wali. Tepat pukul 12.30 WITA, ada 106 siswa yang berlarian memasuki aula dengan antusias.

Saya sempat gugup, takut tidak bisa menyampaikan materi dengan jelas. Dengan mengandalkan slide dan video, saya membuka pertemuan ini dengan menjelaskan apa itu Centre for Orangutan Protection. Selanjutnya pentingnya menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang merupakan habitat berbagai macam satwa liar termasuk tanaman-tanaman khas Indonesia yang sudah mulai langka.

Di luar ekspetasi saya, ternyata mereka menyimak dengan sangat baik, saat sesi tanya jawab menjadi sesuatu yang membuat saya tercengang karena pertanyaan mereka yang kritis. Bahkan saat kegiatan selesai, banyak dari mereka yang menghampiri saya untuk bertanya. Sampai lupa saya dengan kegugupan saya tadi.

Permainan tebak gambar dengan menggunakan potongan gambar dari beberapa satwa dan beberapa reward berupa snack menjadi penutup kegiatan school visit hari ini. Tepat pukul 13.30 WITA seluruh kegiatan berakhir. Saya sangat bersyukur, semua bisa berjalan dengan lancar dan disambut dengan antusias oleh para siswa serta mendapat dukungan postif dari Kapala Sekolah. (Nurul_COPSchool8)