COP SIAP BANTU ORANGUTAN YKAY

Berita mengejutkan dari Taman Satwa YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta) yang telah melakukan rehabilitasi satwa sebanyak 146 satwa liar. Pandemi COVID-19 memaksa YKAY untuk membatalkan program volunteer dari manca negara yang menjadi sumber utama operasional Taman Satwa YKAY. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta meminta COP untuk membantu ketujuh orangutan yang berada di taman satwa tersebut.

Centre for Orangutan Protection menyatakan kesiapannya untuk membantu orangutan yang berada di Taman Satwa YKAY atau yang sering disebut juga Wildlife Rescue Centre Jogja (WRC Jogja). “Pandemi COVID-19 ini tidak hanya memporak-porandakan perekonomian dunia usaha yang bergerak di bidang kuliner, konveksi, properti maupun otomotif yang berkaitan langsung dengan manusia. Tetapi juga dunia konservasi terutama Lembaga Konservasi non profit seperti Pusat Penyelamatan Satwa maupun Pusat Rehabilitasi. COP siap membantu ketujuh orangutan yang berada di Taman Satwa YKAY seperti pemeriksaan kesehatan, pakan, obat dan vitamin serta tenaga untuk ketujuh orangutan tersebut. 

COP memanggil seluruh pendukungnya (Orangufriends) untuk bahu-membahu menyelamatkan orangutan yang berada di Pusat Penyelamatan Satwa Liar Yogyakarta. Bagaimana caranya? Email kami di info@orangutanprotection.com atau langsung donasi lewat kitabisa.com 

Bersama kita bisa!

UNTUK PERTAMA KALINYA KOLA BERDEKATAN DENGAN ORANGUTAN

Usai menjalani masa karantina dan dinyatakan lulus oleh Badan Karantina Pertanian, orangutan hasil repatriasi bernama Kola kini mulai menginjak proses rehabilitasi. Melihat sejarahnya yang tidak pernah bersentuhan atau berinteraksi dengan orangutan lain, Kola diperkenalkan dengan orangutan Popi.

Popi merupakan siswi sekolah hutan yang masih berumur 4 tahun. Ketika pandangannya terpusat oleh kedatangan Popi di sekitar kandangnya, Kola terlihat bersikap agresif di dalam kandang. Setelah 30 menit, Kola yang awalnya agresif mulai mencari tahu dan mendekati Popi yang berada di luar kandangnya. Beberapa kali Kola juga mengeluarkan suara bak suara ‘kiss squeking’ ala orangutan ketika merasa terancam.

Terlihat dengan gamblang bahwa Kola tidak terbiasa dengan keberadaan orangutan lain. Perilaku kontras dibanding saat melihat manusia atau animal keeper yang baru ia lihat. Kola lebih tenang dan mengamati dari jauh.

Bagusnya, keberadaan Popi mengajarkan Kola memakan buah nanas. Karena pengamatan sebelumnya, Kola selalu melewatkan manis asamnya rasa buah nanas. Hanya sebatas satu gigitan dan dibuang. (FLO)

 

DEPRESI PADA SATWA LIAR YANG TERKEKANG (3)

Sebelumnya kita mengetahui bahwa sama seperti manusia, satwa atau binatang pun sangat memungkinkan untuk bisa merasa stres dan depresi. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh satwa domestik, tetapi juga satwa liar yang tidak berada di habitat aslinya. Contohnya yaitu satwa-satwa liar yang ditangkap untuk diperjual-belikan ataupun satwa liar yang ada di kebun binatang, sirkus atau pertunjukkan satwa lainnya.

Di habitat aslinya, satwa-satwa liar menghabiskan waktunya sehari-hari untuk mencari makan, membuat sarang, bersosialisasi dengan satwa lainnya, menghindari predator dan mempertahankan wilayah. Namun alam situasi lain, baik di kebun binatang ataupun kadang dalam proses perdagangan satwa, satwa-satwa ini menjadi jauh lebih pasif. Makanan dan minuman diberikan oleh manusia, begitu juga area gerak dan lingkungan sangat dibatasi. Kemudian juga terlalu sedikit atau terlalu banyak individu di satu tempat atau kandang yang sama dapat mempengaruhi tingkat stres satwa.

Memang saat ini masih belum banyak peneliti yang mempelajari mengenai stres dan depresi pada hewan secara mendalam. Namun sudah ada penelitian-penelitian yang menggunakan primata sebagai subjeknya. Selain karena memiliki kekerabatan erat dengan manusia, primata juga memiliki ekspresi dan mimik wajah yang lebih mudah dikenali dibandingkan mamalia lainnya.

Sebuah penelitian di sebuah kebun binatang di Malaysia menemukan bahwa beberapa satwa mengalami ciri atau gejala stres dan depresi. Kera menunjukkan depresi dengan duduk di sudut kandang atau tidur dalam waktu yang lama. Kemudian orangutan, simpanse dan unta menunjukkan sensitivitas pada hujan dengan menjadi pasif atau terganggu dan mudah sakit saat terkena hujan. Harimau dan singa menunjukkan sikap gelisah dengan berjalan mondar-mandir di kandang dan menggeram. Orangutan yang stres mengalami kesulitan dalam merawat anak yang dilahirkannya sehingga beberapa kali kelahiran, anaknya selalu mati.

Hal ini biasanya disebabkan oleh banyak hal, seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya. Dan memang sulit untuk memenuhi kebutuhan satwa yang seharusnya tinggal bebas di alam. Terutama bila satwa-satwa liar ini dimiliki oleh individu-individu dan dipelihara begitu saja di rumah mereka. Tentu kondisi dan tingkat stres bisa menjadi lebih tinggi karena kurangnya fasilitas-fasilitas yang memadai.

Oleh karena itu, butuh kesadaran dari masyarakat untuk berhenti memelihara dan memperjualbelikan satwa liar. Apalagi dengan menjadikan satwa liar sebagai konsumsi, karena kita tahu selalu ada kemungkinan penyebaran penyakit baik dari satwa ke manusia ataupun sebaliknya. Selain itu juga setiap satwa masing-masing memiliki tugas dan peranan untuk menjaga keseimbangan di alam. Maka bila kita benar-benar pada satwa dan manusia, seharusnya kita berusaha untuk mempertahankan dan memperbaiki habitat mereka di alam. Karena sama seperti halnya manusia, hewan pun memiliki batasan baik secara fisik atau mental untuk hidup dalam kekangan. (LIA)

Sumber:

Haque, A. Depression in Caged Animals: A Study at the National Zoo, Kuala Lumpur, Malaysia. Department of Psychology: UAE University.