HERCULES JATUH KE SUNGAI

Apakah kamu bisa membedakan saat orangutan bermain atau berkelahi? Kalau orangutan yang dimaksud adalah Hercules dan Nigel yang berada di pulau orangutan, dapat dipastikan itu adalah perkelahian dua orangutan jantan yang menuju dewasa. Walau tentunya bukan perkelahian untuk memperebutkan orangutan betina, namun dapat dipastikan untuk menentukan teritorial orangutan.

Hercules terlihat bersama Nigel di dekat tempat pemberian makanan. Terlihat seperti bermain bersama. Tiba-tiba Hercules terjatuh ke sungai. Amanda, relawan orangutan yang bertugas di pos pantau pulau bersama Inoy, perawat satwa mulai menyusun rencana untuk menolong Hercules. Syukurlah arus tak sederas sebelumnya, dimana dermaga pulau sampai tertutup banjir. Hercules berhasil naik ke daratan. 

Hercules menjauh dari Nigel dan makan sendiri sambil terus menjaga jarak dengan Nigel. Pagi yang mengejutkan untuknya tentunya. Bukan hanya Hercules, kami pun kaget. Sorenya, Hercules makan sendiri sambil melihat-lihat ke belakang. “Seperti takut ada Nigel di belakangnya. Hercules terlihat waspada.”, ujar Amanda Rahma, orangufriends Yogyakarta yang menjadi relawan di Pusat Rehabilitasi Orangutan selama libur Natal dan Tahun Baru 2020 ini.

MENANGIS SAAT MELIHAT AMBON

Tak ada yang lebih menyedihkan saat menyaksikan Ambon, si orangutan jantan dengan cheekpad nya yang besar menatapmu dengan dalam. Tak ada cerita tentangnya yang terlewatkan semenjak dia berada di kebun binatang dan selama dia berada di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. 

Ambon, orangutan terberat di COP Borneo, tak melepaskan pandangannya. Mungkin dia mengingatku, atau mungkin juga sudah lupa. Tapi aku tak pernah lupa dengan harapanku, melihatnya berada di alam, bukan dibalik jeruji besi yang bernama kandang. Bobotnya yang kini 80 kg tak mengubah tatapan matanya padaku. Apakah keinginannya untuk tetap di kandang atau kesempatan untuk kembali ke pulau orangutan sebagai sanctuary nya?

Bagaimana menurutmu? Apakah dia memohon untuk berada di sanctuary island? Bantu kami mewujudkannya ya. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com Apa harapanmu untuk Ambon di tahun depan? 

 

MARY, SI PENGUASA SEKOLAH HUTAN

Malam ini, hujan deras disertai petir menghampiri pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Orangutan-orangutan di kandang pasti meringkuk kedinginan dengan sedikit tampiasan air hujan. Jika di alam liar, berteduh hanya berharap pada kanopi hutan, itupun jika pilihan membuat sarang tidak di atas kanopi hutan. 

Mary, orangutan kecil ini baru berusia dua tahun. Sejak tim APE Defender mengevakuasinya dari kandang kayu di belakang rumah warga Long Beliu, Kalimantan Timur, tim memperhatikan tingkah lakunya. Mary masih cukup liar. Mary terlihat takut dengan manusia. Dia juga berusaha mempertahankan diri dengan menunjukkan deretan giginya. Menurut warga yang memeliharanya, Mary sudah tiga bulan dalam pemeliharaannya. “Tiga bulan yang sulit pastinya untuk Mary.”, gumam Linau, perawat satwa di COP Borneo.

Mary adalah orangutan yang paling sulit diajak turun dari pohon. Jika sudah tiba di sekolah hutan, dia langsung memanjat pohon dan tidak turun lagi. Bahkan saat matahari mulai terbenam. Tak jarang, Mary bermalam di sekolah hutan. Dan itu membuat para perawat satwa kesulitan.

Lalu, apakah tidak sebaiknya Mary dilepasliarkan saja? Pelepasliaran orangutan bukanlah hal yang mudah. Orangutan akan dilepasliarkan harus melalui rangkaian tes medis, selain itu juga harus diikuti dengan kemampuar perilaku alamiahnya, mulai dari memanjat, membuat sarang, mencari pakan alami dan lainnya. Usia orangutan juga menjadi perhatian tim, karena dengan usia dan tubuhnya yang kecil, kekawatiran pada kemampuanya bertahan hidup masih diragukan. Ya, Mary masih harus bersabar dan terus berkembang. Jika waktunya, Mary akan kembali ke habitatnya.