SIAPAKAH AKU?

Halo semuanya! Masih ingat aku? Mungkin agak sulit buat ingat aku ini siapa, karena sekarang aku sudah berbeda dengan beberapa bulan lalu ketika pertama kali dibawa ke sini. Waktu itu tubuhku masih kurus, kecil, dan perutku buncit seperti buah semangka. Aku lemah sekali, bahkan untuk mengangkat kepala saja sungguh lemas. Rasanya ingin tiduuuurr saja sepanjang hari.

Kalau kamu bertanya-tanya asalku darimana, aku tidak begitu ingat masa-masa sebelum tinggal di sini. Aku hanya ingat kalau aku tinggal bersama makhluk-makhluk yang mirip dengan ku. Hanya saja, rambut mereka tidak panjang dan menutupi badan sepertiku. Mungkin mereka tidak suka rambut-rambut di tubuhku juga karena mereka mencukurnya hingga habis. Aku tidak terlalu ingat tentang mereka dan apa yang mereka lakukan terhadapku. Tapi yang kuingat dengan jelas, saat itu aku rasanya sangat takut dan ingin menangis terus setiap saat.

Selain tinggal dengan makhluk-makhluk itu, ada yang lain yang kuingat. Tapi yang ini lebih jelas lagi ingatannya. Aku dipeluk oleh makhluk berambut yang sama persis sepertiku! Tapi badannya lebih besar dan tangannya sangat kuat! Ia membawaku berayun dari satu pohon ke pohon lain dengan sangat cepat. Aku sukaaaa sekali dengan ingatanku yang ini. Rasanya ingin kembali merakan wajahku diterpa angin, terhalang daun-daun rimbun, atau tersirami cahaya matahari. Rasanya hangat dan menyenangkan.
Sejak tinggal di sini, aku bertemu lagi makhluk-makhluk yang mirip denganku. Tai mereka tidak mencukur rambutku. Sepertinya mereka suka rambutku yang sudah tumbuh sedikit-sedikit. Lalu mereka juga suka memberiku buah-buhan yang belum pernah kucoba sebelumnya. AKu sangat suka sekali buah bundar merah berambut. Manis! Karena makan banyak, sepertinya tubuhku sudah lebih kuat. Aku suka sekali memanjat-manjat di dalam kotak besi tempatku tidur. Perutku juga sudah tidak seperti semangka loh.

Ya walaupun kadang aku masih menangis karena kesal kalau mereka tidak memberikau buah yang kumau atau meninggalkanku sendirian, di sini aku lebih senang! Aku paling menunggu waktu mereka menggendongku dan meletakkanku di pohon-pohon. AKu jadi ingat kembali rasa hangat dan menyenangkannya ketika wajahku diterpa angin, terhalang daun-daun rimbun, atau tersirami cahaya matahari. Bahagianya bisa berayun-ayun!

Kanan… kiri… kanan… hap! Sampai di pohon dengan buah-buah bundar kecil, aku akan langsung memakannya tanpa ragu. Enak sekali! Waaahh rasanya aku ingin berada di atas pohon ini terus! Tapi sayangnya, kadang aku lelah. Jadi aku turun ketika makhluk-makhluk yang mirip denganku itu melambaikan buah sambil memanggilku “Mabel! Mabel!”. Lalu mereka akan menggendongku kembali ke tempat tidurku sambil sesekali masih menyebut-nyebut namaku. Iya, namaku adalah Mabel. Sudah ingatkan? (NAD)

WIDYA, PEGAWAI DINAS PETERNAKAN SLEMAN YANG MENDAPATKAN ORANGUFRIENDS AWARD 2023

Banyak yang bisa kita kagumi dań pelajari dari sosok Widya Nuswantoro atau yang akrab disapa Pak Widya, seorang pegawai negeri dari Dinas Peternakan Sleman, Yogyakarta. Ketulusan dan kesiapsiagaannya untuk menyelamatkan dan melindungi satwa membuat COP yakin bahwa Pak Widya pantas dianugerahi Orangufriends Award dalam acara temu relawan tahunan atau Jambore Orangufriends yang digelar di Yogyakarta pada 4-5 Maret 2023.

Sejak erupsi gunung Merapi 2016 hingga 2021, tim Animal Rescue COP selalu melihat Pak Widya sibuk menangani ternak warga yang terkena dampak bencana. “Pak Widya selalu datang awal, tapi pulangnya belakangan. Di hari yang tidak dijadwalkan pun Pak Widya datang dan ikut membantu”, ujar salah seorang anggota Animal Rescue ketika menceritakan keterlibatan pak Widya. Tim Animal Rescue COP sendiri menangani evakuasi, penanganan medis, penyediaan kebutuhan pakan ternak, hingga penyadartahuan ke masyarakat untuk meminimalisir korban maupun kerugian ekonomi.

Selain bencana erupsi G. Merapi, Pak Widya juga selalu ada untuk ternak ketika terjadi pandemi COVID-19 yang menyebabkan satu desa diisolaso (lockdown) pada tahun 2021. Kepiawaiannya dalam berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak lain sangat melancarkan jalannya kegiatan di lapangan. Dari cara Pak Widya bekerja dalam tim, kita dapat memetik pellajaran bahwa saling menghargai dan berbagi peran dalam kerja tim tetaplah krusial dan harus menjadi perhatian dalam keadaan darurat sekali pun. Tidak diragukan lagi, ketulusan dan kegigihan Pak Widya selama bertahun-tahun inilah yang membuat COP yakin untuk memberikan Orangufriends Award 2023 pada beliau. (NAD)

TUBERCULOSIS (TB) IS DEADLY FOR ORANGUTANS

Hello! Today is World Tuberculosis (TB) Day. The World Tuberculosis Day is held annually on March 24 to raise awareness on the effect of the infectious disease TB on humans around the world. In 2016, TB was the second leading cause of death in Indonesia. But did you know that TB isn’t only deadly to humans, but also to primates, including Orangutans?
Tuberculosis disease is caused by the bacteria called Mycobacterium tuberculosis which is an airborne bacteria that spreads through air. Orangutans can be infected by the bacteria if they are around humans infected with TB. The situation can occur when there’s a conflict between humans and orangutans. It can also occur when an orangutan is held illegally in captivity and kept as a pet that’s frequently in touch with humans. To diagnose whether an Orangutan is infected with TB, the vet in BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) will conduct a series of medical check ups to each Orangutan under rehabilitation. Then what happens if an Orangutan is diagnosed with TB?
Humans and Orangutans share approximately 97% of their DNA. Therefore dr. Elis, the vet in BORA explained that when an orangutan is infected with TB, it will experience similar symptoms as humans such as chronic cough (sometimes with blood), shortness of breath, fever, fatigue, and loss of weight. Infected Orangutans should be strictly quarantined and given medication for 6 months as well as vitamins. The animal keeper who takes care of the infected orangutan should wear medical protective equipment such as a medical mask and hazmat suit. They won’t be allowed to take care of other orangutans and should limit human interaction. If we’re not careful in handling the situation, Orangutans could either die or spread the disease back to humans.
Fortunately, since we run the BORA rehabilitation center, we found no infected Orangutan with TB. To prevent the case of TB in Orangutan, the medical team, animal keeper, and everyone that should interact with orangutan are obliged to take a series of medical check ups. They are also obliged to use medical protection equipment when they take care of Orangutans daily. They use protective suits, masks, and gloves. They should take a bath before and after they take care of Orangutans. The strict procedure was created not only to protect the orangutan from TB and other infection from humans, but also the other way around; to prevent the case of animal to human disease transmission such as the COVID-19.
At last, to prevent humans and animals from infecting each other with diseases like TB, we should reduce the interaction between the two. Orangutans should live freely in their habitat without human interventions. Therefore, don’t keep Orangutans at home as pets, hunt them in the forest, or send them somewhere far away from their habitat! Let’s protect them (and ourselves) from deadly diseases!

TUBERCULOSIS (TBC) MEMATIKAN BAGI ORANGUTAN
Halo! Tahukah kamu, hari ini, tanggal 24 Maret adalah hari Tuberculosis (TBC) sedunia lho! Hari TBC sedunia adalah momen yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran akan dampak dari penyakit menular TBC pada manusia di seluruh dunia. Pada tahun 2016, TBC menjadi penyakit yang menyebabkan kematian terbesar kedua di Indonesia. Sebenarnya, TBC tidak hanya mematikan bagi manusia. Tapi juga bagi primata, termasuk Orangutan. Kok bisa ya?
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyebar melalui udara. Orangutan bisa terjangkit TBC apabila mereka berada di sekitar manusia yang terdiagnosa TBC, misalnya ketika terjadi konflik atau ketika mereka dijadikan hewan peliharaan yang berinteraksi terus menerus dengan manusia. Untuk mengetahui apakah Orangutan terkena TBC, dokter hewan di Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA akan melakukan rangkaian tes kesehatan pada setiap Orangutan yang akan direhabilitasi. Lalu apa yang terjadi jika Orangutan positif terinfeksi TBC?
97% DNA manusia mirip dengan orangutan. Sehingga beberapa gejala dan efek yang dirasakan pada tubuh Orangutan apabila terinfeksi TBC mirip dengan yang dialami manusia. Menurut dokter Elis, salah satu dokter hewan di Pusat Rehabilitasi BORA, orangutan mengalami gejala terbatuk-batuk berkepanjangan hingga berdarah, sesak napas, demam, lemas, dan turun berat badan. Mereka yang terjangkit harus dikarantina secara ketat dengan kandang yang jauh dari kandang orangutan lain, lalu diobati dengan terapi obat selama kurang lebih 6 bulan disertai pemberian vitamin. Perawat satwa yang mengurusi orangutan terinfeksi harus mengenakan alat perlindungan diri lengkap seperti hazmat dan masker. Mereka juga tidak diperkenankan untuk mengurusi orangutan lainnya serta harus mengurangi interaksi dengan manusia. Apabila tidak hati-hati dalam penanganannya, Orangutan bisa mati atau menyebarkan kembali penyakit TBC ke manusia.
Syukurlah, selama pusat rehabilitasi BORA dijalankan, belum pernah ada kasus orangutan yang terjangkit TBC. Untuk mencegah penularan penyakit seperti TBC pada orangutan, semua tim medis, perawat satwa, dan siapa pun yang berkepentingan untuk interaksi dengan orangutan wajib melakukan serangkaian medical check up. Selain itu, perawat satwa dan tim medis yang harus berinteraksi dengan orangutan sehari-hari, secara ketat menggunakan alat-alat perlindungan diri.
Mereka mengenakan pakaian khusus, memakai masker dan sarung tangan medis. Lalu mereka diharuskan mandi dan berganti pakaian sebelum dan setelah berinteraksi dengan orangutan. Tidak hanya untuk melindungi orangutan dari penyakit manusia seperti TBC, langkah-langkah tersebut juga dilakukan untuk menghindari penyebaran penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis) seperti pandemi global COVID-19.
Agar manusia dan satwa (termasuk Orangutan) tidak saling menularkan penyakit mematikan seperti TBC, tentu diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi potensi interaksi antara keduanya. Orangutan harus dibiarkan liar dan bebas di habitatnya tanpa gangguan dari manusia. Jadi, kamu jangan memelihara Orangutan di rumah, memburunya di hutan, apalagi mengirimkannya ke tempat yang jauh dari asalnya ya! Yuk lindungi diri dan Orangutan dari penyakit mematikan!(NAD)