AUDIT ON MANGKANG ZOO SEMARANG

On February 11, 2016 a team of Tipidter Bareskrim Mabes Polri arrested animals trafficker in Yogyakarta 20 (twenty) protected wildlife as evidences: eagle, snake, peacock, sun bear and langur. After developing the case, the team arrested an employee of Mangkang Zoo Semarang that was
proven to purchase 1 (one) sun bear to complete the collection of the zoo. In January 2016, he also bought a Hornbill from the same trafficker.

According to the regulations of the Ministry of Forestry Number: p.31 / Menhut-II / 2012, buying protected wildlife illegal trafficker is against the law and result in severe punishment. An excuse to complete the collection of zoos by purchasing protected wildlife also violates the rules. According to UU No. 5 of 1990 on Conservation of Biodiversity and its ecosystem, punishment for traffickers of protected wildlife is 5 years imprisonment and a fine of Rp 100,000,000.00

Thus, COP urges the Mayor of Semarang to: Conduct an audit on Mangkang Zoo Semarang according to these findings to wildlife trafficking in a zoo. Open to the public about the addition of animals, birth, death and exchanges in order to build the disclosure of information to the public. Severely punish the employees who have been involved in wildlife trade.

The zoo should run a good role in conserving and educating. Wildlife trafficking which involves zoo is such a bad thing in an effort to combat illegal wildlife trade that often happens and a synergy is needed to suppress the ongoing rapid pace.

For further information and interviews, please contact:
Daniek Hendarto, Coordinator of Anti Wildlife Crime COP
E: daniek@cop.or.id
P: 081328837434

AUDIT KEBUN BINATANG MANGKANG SEMARANG

Untuk disiarkan segera 15 Maret 2016

Pada tanggal 11 Februari 2016 tim Tipidter Bareskrim Mabes Polri menangkap pedagang satwa di Yogyakarta dengan barang bukti 20 (duapuluh) ekor satwa dilindungi Elang, Ular, Merak, Beruang dan Lutung Jawa. Dalam pengembangannya tim Bareskrim Mabes Polri juga menangkap oknum pegawai Kebun Binatang Mangkang Semarang yang terbukti melakukan transaksi pembelian 1 (satu) ekor beruang madu untuk melengkapi koleksi satwa di kebun binatang. Pada bulan Januari 2016 oknum pegawai tersebut juga sempat melakukan pembelian burung Julang Emas dengan pedagang yang sama. 

Menurut peraturan Mentrei Kehutanan Republik Indonesia nomor: p.31/Menhut-II/2012 Membeli satwa liar dilindungi dari perdagangan ilegal adalah perbuatan melawan hukum dan berakibat hukuman yang berat. Dalih memperbanyak koleksi satwa di kebun binatang dengan membeli satwa liar dilindungi juga menyalahi aturan yang ada. Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya ancaman hukuman bagi pelaku perdagangan satwa liar dilindungi adalah 5 tahun penjara dan denda Rp 100.000.000,00

Untuk itu COP meminta kepada Walikota Semarang untuk:
1. Melakukan audit kebun binatang Mangkang Semarang terkait temuan ini untuk menghindari jual beli satwa yang melibatkan kebun binatang.
2. Terbuka kepada publik akan penambahan satwa, kelahiran, kematian dan pertukaran satwa guna membangun keterbukaan informasi kepada publik.
3.Menjatuhkan sangsi berat kepada pegawai yang terbukti terlibat dalam perdagangan satwa.

Kebun binatang sudah sepantasnya menjalakan peran yang baik dalam rangka konservasi dan edukasi. Jual beli satwa yang melibatkan kebun binatang menjadi hal yang  buruk dalam upaya memberantas perdagangan satwa liar yang semakin marak terjadi dan diperlukan sinergi bersama untuk menekan laju yang terus berjalan cepat.

Untuk informasi dan wawancara silahkan menghubungi
Daniek Hendarto, Coordinator of Anti Wildlife Crime COP
E: daniek@cop.or.id
P: 081328837434

VICTIMS OF ANIMAL LOVERS

The East Kalimantan Wildlife Authority and the Police arrested a wildlife trafficker in random raids of inter-provincial public transportation last night. All animals were still babies and were in critical condition in danger of dying. COP immediately provided them with care and treatment to prevent unnecessary deaths.

The illegal wildlife trade is a chain of cruelty that often leads to death. The animals’ mothers are killed so that their babies can be taken from them. Many of the babies die in transit and in the market due to poor treatment. When they reach the buyer, they also often die because the buyers do not know how to take care of them.
These killings will stop if people stop buying wildlife.

KORBAN PARA PECINTA SATWA
Otoritas Satwa Liar Kaltim dan Polisi menangkap seorang pedagang satwa liar dalam razia acak angkutan umum antar propinsi semalam. Seluruh satwa masih bayi dan sangat rentan mati. COP segera memberikan bantuan perawatan untuk mencegah kematian yang tidak perlu.

Perdagangan satwa liar adalah mata rantai kekejaman yang seringkali membawa kematian. Induk satwa dibunuh untuk diambil anaknya. Banyak dari bayi – bayi itu mati dalam perjalanan dan di pasar karena perlakukan yang buruk. Sesampainya di tangan pembeli, mereka juga sering mati karena si pembei tidak tahu cara merawatnya.
Pembunuhan ini akan berhenti jika masyarakat berhenti membeli satwa liar.

CRITICAL: THE FATE OF 13 ORANGUTANS IN PALM PLANTATION SUSPECTED TO BELONG TO AE CORPORATION

Centre for Orangutan Protection (COP) is urging the AE Corporation to stop endangering the lives of orangutans. This demand is based on COP’s findings regarding the presence of 13 (thirteen) orangutans (Pongo pygmaeus morio) trapped in several small fragmented forests, which are suspected to be within the AE Corporation’s land and/or affected by the company logging the natural forest area to open up a new palm oil plantation in East Kalimantan. As well as orangutans, COP also recorded various rare and protected animal species in this area, such as Müller’s Bornean Gibbon (Hylobates muelleri) and Hornbills (Bucerotidae sp.).

The AE Corporation must act fast to prevent any further crimes such as hunting, which is now very likely. The thirteen orangutans are now an easy target for hunters due to the small size of the remaining forest area and the sparsity of trees. COP considers the capacity of the forest to no longer be sufficient to support these animals, and as a result the orangutans have begun consuming oil palm shoots. The demise of the orangutans in this area is only a matter of time as they will be considered pests.

COP believes a serious mistake has been made in the provision and implementation of permits for palm oil plantations in the aforementioned region. The presence of a rich diversity of wild animal species is evidence that the area would have previously been considered a region of High Conservation Value, which can be considered a crime based on Regulation 5 1990, section 21 paragraph 2 clause (e):
“All persons are prohibited from removing, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animal species.”

The clearing of forests in order to establish a new palm oil plantation poses a threat for the longevity of orangutans and other wild animals in Kalimantan. At least 2000 orangutans have been forced to be evacuated to Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and until now the influx of displaced orangutans is showing no signs of stopping.

KRITIS, NASIB 13 ORANGUTAN DI KEBUN SAWIT
Jakarta, Centre for Orangutan Protection (COP) pada 10 Maret 2016 dalam aksi damai mendesak PT. AE untuk berhenti membahayakan nyawa orangutan. Desakan ini didasarkan pada temuan COP mengenai keberadaan 13 (tiga belas) orangutan (Pongo pygmaeus morio)  yang terjebak dalam beberapa hutan kecil yang sudah terfragmentasi, yang mana diduga berada di dalam kawasan konsesi PT. AE dan atau terdampak PT. AE yang melakukan pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit baru di Kalimantan Timur. Selain orangutan, COP juga berhasil mengidentifikasi berbagai jenis satwa liar langka dan dilindungi seperti Owa Abu (Hylobates muelleri) dan Rangkok (Bucherotidae). 

PT. AE harus bergerak cepat untuk mencegah kejahatan lanjutan yang sangat mungkin terjadi, misalnya perburuan. Ke 13 orangutan tersebut merupakan target mudah bagi para pemburu karena sempitnya kawasan yang tersisa dan jarangnya pepohonan. COP menilai bahwa daya dukung kawasan tersebut sudah tidak memadai, karenanya orangutan memakan tunas-tunas kelapa sawit. Dibasminya orangutan di kawasan tersebut hanyalah soal waktu saja karena dianggap sebagai hama. 

COP menilai bahwa telah terjadi kesalahan serius dalam hal pemberian ijin dan pelaksanaan ijin perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut. Keberadaan beragam jenis satwa liar merupakan bukti bahwa kawasan tersebut dulunya memang merupakan kawasan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi (High Conservation Value) dan hal ini bisa dipandang sebagai sebuah kejahatan jika didasarkan pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, pasal 21 ayat 2 point (e): 

“Setiap orang dilarang untuk mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan / sarang satwa yang dilindungi.”

Pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup orangutan dan satwa liar lainnya di Kalimantan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke-5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hingga sekarang arus pengungsi orangutan belum ada tanda – tanda berhenti. 

Page 187 of 231« First...102030...185186187188189...200210220...Last »