PERAHU WAY BACK HOME II, SIAP PAKAI

Perahu Way Back Home Pertama terlihat terlalu capek bekerja sendirian. Dalam satu hari saja, perahu yang didanai dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang digagas oleh orangufriends (kelompok pendukung COP) bisa berputar 4 sampai 5 kali pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Itu di luar kejadian luar biasa yang mengharuskan pulau turun ke sungai kembali.

Satu perahu untuk rilis orangutan yang akan dilakukan bulan depan juga tidak cukup. Itu sebabnya, kami membuat perahu lagi dan kami beri nama Way Back Home Kedua. Perahu ini akan membawa orangutan menuju rumahnya. Perahu ini juga yang akan mewujudkan mimpi untuk kembali pulang. Perahu ini juga bukti kepedulian banyak orang pada orangutan.

Saat ini, perahu berada di dermaga, siap untuk mengantarkan orangutan-orangutan pulang ke rumahnya. Dengan daya tampung perahu sebanyak 7 orang termasuk motoris (orang yang mengendalikan perahu) atau juga sebanding dengan 3 kandang angkut orangutan. Perahu ini memang lebih besar dari perahu terdahulu. Perahu ini dengan impian yang lebih besar.

Terimakasih The Orangutan Project yang telah membantu mewujudkan impian para orangutan. Para orangufriends yang tersebar di penjuru dunia, kalian adalah malaikat orangutan di COP Borneo. (WET)

PATROLI TERPADU KARHUTLABUN

Musim kemarau sudah semakin dekat. Musim yang berpotensi memperburuk kebakaran hutan, lahan dan kebun (karhutlabun). Patroli terpadu pun melibatkan Manggala Agni regu 3/4 – Daops III Pangkalan Bun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kotawaringin Timur, TNI, Polri dan Centre for Orangutan Protection termasuk juga masyarakat sekitar.

Pembentukan pos-pos jaga di beberapa desa yang dianggap rawan karhutlabun, salah satunya di Jln. H.M Arsyad Km 7 Gg. Mawar Barat, Desa Eka Baharui, Kecamatan Mentaya Baru, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Pencatatan data kondisi cuaca seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan menjadi bagian dasar dalam patroli terpadu ini. Daerah lahan gambut dengan vegetasi semak belukar mendapat perhatian lebih dalam setiap patroli. Sumber air terdekat dengan daerah titik rawan langsung ditandai untuk mempermudah proses pemadaman jika muncul hotspot. Pengukuran kedalaman gambut dan uji remas daun serasah juga dilakukan untuk mengetahui tingkat kebasahan lahan.

Sosialisasi dalam bentuk penyuluhan juga menjadi bagian dari patroli. Himbauan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar berulang kali disampaikan untuk mencegah kebakaran hutan.

Kerugian material yang sangat besar jika terjadi karhutlabun diharapkan bisa semakin berkurang. Dampak yang langsung terasa bagi masyarakat sekitar saat terjadi karhutlabun adalah sesak napas akibat kabut asap bahkan mata perih. Selain berdampak pada kesehatan, kegiatan ekonomi pun sangat terganggu. Penerbangan dari dan ke provinsi maupun lintas daerah menjadi terhalang. Tidak hanya secara lokal maupun nasional, namun juga mengganggu negara tetangga.

Keseriusan pemerintah menangani karhutlabun tertuang pada Instruksi Presiden RI Nomor 11 tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Karhutlabun. “Optimalisasi pencegahan Karhutlabun adalah jalan terbaik daripada kita sibuk memerangi api.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader, koordinator tim COP untuk perlindungan satwa dan habitatnya. (Petz)

PLAYING WITH LEAVES

Continue the story of Making Nest in the Cage. Not all orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center understand hoe to make nest. For example, orangutan baby in cages or socialization cage. From all baby orangutan, only Happi could make nest.
 
In average baby orangutan are separated from the mother when not even 10 month old. Surely, it is a very young age. In Age where, baby orangutans are very dependent with their mother. Even almost all of their time is spent in the parent embrace.
 
So what do these babies do when given leaves? “They just make the leaves as toys, nibble it or scattered them. Moreover Owi, although he is the biggest among Bonti and Happi, is the only one who has never made a nest,” said Danel, coordinator of animal keeper COP Borneo.
 
However, leaves enrichment is still the best enrichment for orangutans in COP Borneo enclosure 2. In the wild, the leaves are a companion for orangutans, the leaves are their primary requirement. And the leaves are not something that is hard to find in COP Borneo. “We just choose and arrange which tree leaves to be taken today,” explained Danel again.
 
Everyday, while being away from the forest school, leaves enrichment is a must-have for enclosure 2. “Initially, this might be a futile job. Put the leaves in the cage and then just scattered them,” said Danel. Whereas taking leaves and bringing it to the enclosure needs a struggle of its own. Not to mention the piling litter and cleaning the cage gets harder . “But we believe, with the passage of time, their instincts on the leaves will appear. Baby orangutans will learn from each other. Like Bonti who started imitate and learn from Happi how to make nest. “Danel become more excited, that nothing was in vain, no matter what effort he did. (Dhea_Orangufriends)

BERMAIN DAUN
Melanjutkan cerita sarang di dalam kandang. Tidak semua orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo mengerti cara membuat sarang. Contohnya saja, bayi orangutan yang berada di kandang 2 atau kandang sosialisasi. Dari semua bayi orangutan, hanya Happi yang bisa membuat sarang.

Rata-rata bayi-bayi orangutan ini terpisah dari induknya saat belum genap berusia 10 bulan. Pastinya, itu adalah usia yang sangat muda. Usia dimana, bayi orangutan sangat tergantung sekali dengan induknya. bahkan hampir seluruh waktunya dihabiskan dalam gendongan induknya.

Lalu apa yang dilakukan bayi-bayi ini saat diberikan daun? “Mereka hanya menjadikan daun-daun itu sebagai mainan, sekedar digigit-gigit atau dihambur-hamburkan. Apalagi Owi, walaupun dia paling besar di antara Bonti dan Happi, Owi adalah satu-atunya orangutan yang belum pernah membuat sarang.”, ujar Danel, koordinator animal keeper COP Borneo.

Tetapi, tetap saja enrichment daun adalah pengayaan terbaik untuk orangutan di kandang 2 COP Borneo. Di alam liar, daun adalah sahabat bagi orangutan, daun adalah kebutuhan utama mereka. Dan daun bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan di COP Borneo. “Kami tinggal memilih dan mengatur pengambilan pohon mana yang akan diambil daunnya hari ini.”, jelas Danel lagi.

Setiap hari, ketika sedang tidak sekolah hutan, enrichment daun adalah hal yang wajib diberikan untuk kandang 2 terutama. “Awalnya, mungkin ini seperti pekerjaan yang sia-sia. Menaruh daun di kandang lalu hanya dihamburkan begitu saja.”, kata Danel. Padahal mengambil daun dan membawanya ke kandang butuh perjuangan tersendiri. Belum lagi sampah menjadi lebih banyak dan membersihkan kandang jadi bertambah berat. “Tapi kami yakin, dengan berjalannya waktu, insting mereka pada daun akan muncul. Bayi orangutan satu dengan yang lainnya akan saling belajar. Seperti Bonti yang mulai belajar pada Happi cara membuat sarang.”, Danel pun menjadi lebih bersemangat, bahwa tak ada yang sia-sia, apapun usaha yang dilakukannya. (WET)