LEARNING CONTRACEPTION WITH ORANGUTAN

Today is National Family Planning Day or HARGANAS. Every June 29 to be exact, the Indonesian government expects the public to understand more about the ideal family by limiting the number of births and the use of contraceptives to form family planning. Then what is the connection with orangutans?

Do you know, orangutans only give birth to one baby? But there are also cases of baby orangutan twins, such as the Sumatran orangutan. But the majority, orangutans only give birth to one baby orangutan. Then? Yes, orangutans will care for their babies until the age of their children ranges from 5-8 years. As long as the mother takes care of her child, the orangutan mother will not be associated with male orangutans. “Wow!”

That means that the orangutan parent will not have another child in the past 8 years? Yes! If the age of the orangutan parent is only 50 years, at most he will have 4 children. Not to mention predators that threaten baby orangutans who are very weak. Naturally, the breeding is very low. Even orangutans are endangered animals.

Should we learn how orangutans regulate their breeding? Not related during that time? At the very least, you know and are a little embarrassed about orangutans. How the responsibility of the orangutan parent is very heavy and the important role of the parent. Happy HARGANAS. This year, the National Population and Family Planning Board (BKKBN) has the theme “Love of the Planned Love Family”. (LSX)

BELAJAR KB PADA ORANGUTAN
Hari ini adalah Hari Keluarga Berencana Nasional atau HARGANAS. Setiap tanggal 29 Juni tepatnya, pemerintah Indonesia mengharapkan masyarakat dapat lebih faham mengenai keluarga ideal dengan membatasi jumlah kelahiran serta penggunaan alat-alat kontrasepsi untuk membentuk keluarga berencana. Lalu apa hubungannya dengan orangutan?

Tahukah kamu, orangutan hanya melahirkan satu bayi? Tapi ada juga ditemui kasus bayi orangutan kembar seperti pada orangutan Sumatra. Namun mayoritas, orangutan hanya melahirkan satu bayi orangutan. Lalu? Ya, orangutan akan merawat bayinya hingga usia anaknya berkisar 5-8 tahun. Selama induk merawat anaknya, induk orangutan tidak akan berhubungan dengan orangutan jantan. “Wow!”.

Itu berarti, induk orangutan tidak akan punya anak lagi dalam kurun waktu 8 tahun tadi? Ya! Kalau usia induk orangutan hanya 50 tahun, paling banyak dia akan punya 4 anak. Belum lagi predator yang mengancam bayi-bayi orangutan yang memang sangat lemah sekali. Wajar kalau perkembangbiakannya sangat rendah sekali. Bahkan orangutan menjadi satwa yang terancam punah.

Haruskah kita belajar bagaimana orangutan mengatur perkembangbiakannya? Tidak berhubungan selama itu? Paling tidak, kamu jadi tahu dan sedikit malu pada orangutan. Betapa tanggung jawab induk orangutan sangat berat dan peran penting induknya. Selamat HARGANAS. Tahun ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengangkat tema “Cinta Keluarga Cinta Terencana”.

OWI AND LIANA PLANT

Finally, Own played by himself. Apparently, his followers weren’t always near him. Owi who had a loyal follower named Bonti, had to learn independently. It’s because Bonti was busy exploring his forest school class.

Owi grabed Liana plant. Liana that hanging in the forest school of COP Borneo area is a mainstay for orangutan to climb, hang, and move from one big tree to another tree. The movements of little orangutans are so agile and the animal keepers must be more alert when they are busy playing with this Liana plant. The exploration of little orangutans know no time.

“Owi, be careful!”, Simon shouted. Owi turned around for a moment, looked at Samson (animal keeper) and continued to climb. Simson’s tasks will be even harder. Following Owi’s movement and having to get ready when Owi refused to go down. That’s right, every animal keeper in COP Borneo orangutan rehabilitation centre must have the ability to climb also. “We are far behind when it comes to climb compares to orangutans. Sometimes I feel these little orangutas mocked us because of our slowness. But I am happy, they are indeed have to be better.”, he added.(SAR)

OWI DAN TANAMAN LIANA
Akhirnya Owi pun bermain sendirian. Ternyata tak selamanya para pengikut itu selalu berada di dekatnya. Owi yang mempunyai pengikut sejati bernama Bonti akhirnya harus belajar mandiri. Karena Bonti juga sekarang lebih sibuk dengan mengeksplore kelas sekolah hutannya.

Owi meraih tanaman Liana. Liana yang bergelantungan di sekolah hutan COP Borneo memang menjadi andalan para orangutan untuk memanjat, bergelantungan dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon yang lain. Pergerakan orangutan-orangutan kecilnya sangat lincah, dan para animal keeper harus lebih waspada saat meraka sudah asik dengan tanaman Liana ini. Karena penjelajahan orangutan kecil ini tak mengenal waktu.

“Owi! Hati-hati ya!”, begitu teriak Simson. Owi pun berbalik sesaat, menatap Simson (animal keeper) dan kembali memanjat. Tugas Simson akan semakin berat. Mengikuti perpindahan Owi dan harus bersiap saat Owi tak mau turun. Benar, setiap animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo juga harus bisa memanjat. “Kita sih kalah jauh kalau urusan memanjat dibandingkan orangutan. Kadang juga merasa diejek orangutan-orangutan kecil ini karena kelambatan kita. Tapi senang, mereka memang harus lebih jago.”, tambahnya lagi.

DART FROM ORANGUFRIENDS AUSTRALIA

Kamu bingung bisa bantu apa? Ini adalah Kelsie Prabawa, salah satu alumni COP School yang berasal dari Australia. Dia menanyakan ke teman-teman nya, apa yang bisa dia bawa dari Australia untuk orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Dalam sekejap, barang-barang titipan pun sampai di rumahnya dan siap untuk dibawa ke Indonesia.

Simpel ya! Tapi tau ngak, ini sangat membantu sekali. “Perlengkapan untuk membius ini harus pesan dulu kalau di Indonesia. Bisa 3-4 bulan baru barang bisa sampai tujuan. Selain itu, jumlahnya juga kadang tidak sebanyak yang kita pesan karena keterbatasan barang.”, kata Ryan Winardi, dokter hewan COP. “Peralatan ini bisa digunakan berulang kali loh untuk menghemat.”, tambah Ryan lagi.

Nah, sudah tahu kan? Mau membantu orangutan, ngak usah bingung. Siapa pun kamu, tentu saja bisa membantu orangutan Indonesia, si kerabat merah kita yang memiliki kesamaan DNA 97%. Terimakasih mbak Kelsie dan orangufriends Australia.