ICELAND STOP PRODUCTS THAT USE PALM OIL

Iceland news, a supermarket in Britain that stopped its own brand products containing palm oil from biscuits to soap is a national shopping center business based in Deeside, England is concerned with forests and orangutans in Borneo.

Iceland director Richard Walker said that, “There is no sustainable palm oil.”.

Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO) undertakes efforts to manage palm oil to standardize sustainable management of the environment, products, workers and the economy. In fact, the RSPO has given RSPO certificates on approximately 3.5 million ha of palm oil up to 2017. It’s like just labeling ‘green images’ that do not save orangutans and forests. RSPO members are still deforesting forests of high conservation value, indicating the presence of protected endemic wildlife such as orangutans.

If only on the basis of plantations that might meet the criteria of RSPO certification, what about the opening of palm oil mills on oil palm harvests from small plantations and even individuals who turn their land in a national park? How to separate this mixed palm oil?

“If Iceland can stop its production using palm oil, we hope other supermarkets are willing to evaluate its policies. The pressure on users of large quantities of palm oil is expected to invite oil palm plantations to pay more attention to the environment and animals, “said Ramadhani, manager of orangutan protection and COP habitat. (LSX)

ICELAND HENTIKAN PRODUK YANG MENGGUNAKAN MINYAK KELAPA SAWIT
Berita Iceland, sebuah supermarket di Inggris yang menghentikan produk mereknya sendiri yang mengandung minyak kelapa sawit mulai dari biskuit sampai sabun merupakan usaha jaringan pertokoan nasional yang berpusat di Deeside, Inggris ini untuk peduli pada hutan dan orangutan di Kalimantan.

Direktur Iceland, Richard Walker mengatakan bahwa, “Tidak ada minyak kelapa sawit yang berkesinambungan.”.

Usaha yang dilakukan seperti RSPO (Roundtable On Sustainable Palm Oil) dengan mengupayakan pengelolaan kelapa sawit ber-standarisasi pengelolaan yang berkelanjutan dari sisi lingkungan, produk, pekerja maupun ekonominya. Bahkan RSPO telah memberikan sertifikat RSPO pada sekitar 3,5 juta ha lahan sawit hingga 2017. Ini seperti hanya memberi label ‘citra hijau” yang tak menyelamatkan orangutan dan hutan. Para anggota RSPO masih juga melakukan pembabatan hutan pada hutan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi dengan ditunjukkan keberadaan satwa liar endemik yang dilindungi seperti orangutan.

Jika hanya berdasarkan lahan perkebunan yang mungkin sudah memenuhi kriteria sertifikat RSPO, bagaimana dengan terbukanya pabrik minyak kelapa sawit pada hasil panen kelapa sawit dari perkebunan kecil bahkan perorangan yang ternyata lahannya berada di sebuah taman nasional? Bagaimana memisahkan minyak kelapa sawit yang sudah bercampur ini?

“Jika Iceland bisa menghentikan produksinya yang menggunakan minyak kelapa sawit, kami berharap supermarket lainnya pun bersedia untuk mengevaluasi kebijakannya. Tekanan para pengguna jumlah besar minyak kelapa sawit diharapkan bisa mengajak perkebunan kelapa sawit lebih memperhatikan lingkungan dan satwa.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

SEPTI BERBAGI KANDANG DENGAN POPI

Usaha memasukkan Popi ke kandang sosialisasi bersama orangutan kecil lainnya tak berhasil. Popi di-bully oleh orangutan lainnya. Ditarik-tarik lalu digigit, dan Popi terus menerus tidak bisa membela diri. Tubuh Popi memang sangat kecil dibanding orangutan lainnya. Mungkin Popi juga terlalu manja karena Popi sedari masih bayi sudah mengenal manusia.

Saat bayi Popi baru tiba di COP Borneo, September 2017 yang lalu, Popi tinggal di klinik. Keranjang dengan selimutlah yang menjadi tempat tidurnya. Popi pun tumbuh dan semakin banyak keinginan, Popi pun dipindahkan ke kandang yang berada di belakang klinik COP Borneo. Hingga akhirnya Popi sudah mulai mencoba kekuatannya. “Kandang yang berada di belakang klinik tidak cukup kuat, itulah sebabnya dia dipindahkan ke kandang sosialisasi, bergabung bersama orangutan kecil lainnya. Sayangnya, Owi, Bonti bahkan Happi menarik-nariknya, bahkan menggigitnya. Popi pun menjerit-jerit. Hingga akhirnya kami mencoba memperkenalkan Popi pada Septi. Syukurlah, Septi bisa menerima Popi.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

“Popi sempat menangis ketika Septi mendekat. Dia terlihat ketakutan, namun Septi segera mencium Popi dan dengan seketika tangis Popi hilang. Sungguh saat yang mengharukan. Rasa takut kami pun sirna dengan seketika. Septi bisa menerima Popi dan Popi merasa nyaman.”, tambah Wety Rupiana, baby sitter Popi selama ini.

Kini, sudah satu bulan Septi berbagi tempat tidur dengan Popi. Tak hanya tempat tidur, makanan pun selalu dibagi Septi. Tak ada lagi yang harus kami kawatirkan. Terimakasih Septi. (WET)

THE PAIN OF POPI IN 24 HOURS STORYTELLING FESTIVAL

Apparently, Saturday, March 24, 2018 was world storytelling day. Really, I didn’t know. What i knew was, i was invited to a forum of literation activist (FPL) by my old friend in reading and writing community in Padang city. Hoping there would be a cooperation in campaign of wildlife protection and its habitat by educating children, I was going with other Padang Orangufriends. And suprisingly, there was a big event in Kampung Literasi Gang Aster of Padang Panjang city and the local government with the title of 24 Hours Storytelling Festival.

After filling the guest book, we tried to blend in even it was awkward. It’s amazing how Padang Panjang citizen appreciated this event. Participants who became storyteller were many, ranging from children to adults. The audience was large though. Shortly thereafter, a friend who invited me came and told me directly to storytelling without asking. I stammered, “What? Storytelling?”. This was a new thing and i had not done that before especially in public. Except for storytelling for my own child at night.

My mind grews uneasy. It’s a challenge. But I was not ready. As I chatted, I kept thinking what the story would be. Finally my memories recalled Lara Pongo movie that was I watched during Jambore Orangufriends Yogyakarta last year. Storytelling is one of the most effective methods to educate children. With this method, the message would be delivered properly. Children’s ability to remember is also longer on fairy tales material. Uh yes.. I was reminded of my childhood that every night my mom and my dad often told me stories and i still remember the story that ever told.

Armed with my experience being a volunteer at COP Borneo’s orangutan rehabilitation center, I therefore told a story about the poor Popi. Popi, who was forced to enter rehabilitation center at the age of 1 month because her mother died of being killed. Every now and then I tried to interact with the audience. I couldn’t believe, the kindergarden children could answer the question I asked with surprising answers. Apparently, they realized the natural damage that had occured.

30 minutes became so short. And this was an opening to another wildlife story that I would deliver through the next school visit, along with literacy activist forum of Padang city of course. (Novi_Orangufriends Padang)

LARA SI POPI DI FESTIVAL MENDONGENG 24 JAM
Ternyata, Sabtu, 24 Maret 2018 yang lalu adalah Hari Mendongeng Dunia. Sungguh, aku tak tahu. Yang ku tahu, aku diundang oleh sahabat lama di komunitas Membaca dan Menulis yaitu Forum Pegiat Literasi (FPL) di kota Padang Panjang. Berharap ada kerja bersama untuk kampanye perlindungan satwa liar dan habitatnya lewat edukasi ke anak-anak, aku pun datang bersama Orangufriends Padang lainnya. Dan kagetnya, ternyata ada even besar di Kampung Literasi Gang Aster kota Padang Panjang dan pemerintah setempat dengan tajuk Festival Mendongeng 24 Jam.

Usai mengisi buku tamu, kami pun mencoba untuk membaur walau canggung. Luar biasa apresiasi warga kota Padang Panjang pada acara ini. Peserta yang menjadi pendongeng pun banyak mulai dari anak-anak hingga dewasa. Penonton yang hadir pun tak kalah banyak. Tak lama kemudian, teman yang mengundangku pun muncul dan tanpa bertanya langsung menyuruhku untuk mendongeng. Dengan gelagapan aku menjawab, “Apa? mendongeng?”. Ini adalah hal yang baru dan belum pernah kulakukan sebelumnya apalagi di depan umum. Kalau mendongeng sebelum anak tidur sih memang sering kulakukan di rumah.

Pikiranku semakin tak tenang. Ini sih tantangan. Tapi ngak siap. Sambil ngobrol, aku terus berpikir mencari ide akan mendongeng apa. Akhirnya ingatanku menyangkut di film Lara Pongo yang pernah kutonton di Jambore Orangufriends Yogyakarta akhir tahun lalu. Mendongeng adalah salah satu metode edukasi yang paling efektif untuk anak-anak. Lewat metode ini, pesan akan tersampaikan dengan baik. Kemampuan mengingat anak juga lebih lama pada materi dongeng tersebut. Ah iya… aku jadi teringat masa kanak-kanakku yang setiap malam sering didongengkan Mama dan Papa dan aku masih mengingat kisah yang pernah didongengkan.

Berbekal pengalaman menjadi relawan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, aku pun berkisah tentang Popi yang malang. Popi yang terpaksa masuk pusat rehabilitasi saat usianya 1 bulan, karena induknya mati dibunuh. Sesekali aku mencoba berinteraksi dengan penonton. Tak kusangka, anak-anak TK bisa menjawab pertanyaan yang kulontarkan dengan jawaban yang mengejutkan. Ternyata mereka menyadari kerusakan alam yang terjadi.

30 menit menjadi begitu singkat. Dan ini adalah pembuka untuk kisah-kisah dongeng tentang satwa liar lainnya yang akan ku sampaikan lewat kegiatan school visit selanjutnya, bersama Forum Pegiat Literasi kota Padang Panjang tentunya. (Novi_Orangufriends Padang)