TERSANGKA PEMBUNUH ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU NAIK MEJA HIJAU

Babak baru kasus kematian orangutan dengan 130 peluru kembali dimulai. Kepolisian Resort Kutai Timur telah menyelesaikan pemberkasan kasus pembunuhan orangutan dengan 5 orang tersangka, salah satunya anak dibawah umur. Kamis, 12 April, Keempat tersangka diserahkan bersama barang bukti lainnya berupa senapan angin dan proyektil peluru ke Pengadilan Negeri Sangatta.

“Ini adalah kelanjutan kasus yang kami tunggu-tunggu. Kasus berlanjut ke meja hijau. Kejahatan yang dilakukan tersangka dapat dijatuhi hukuman sesuai dengan pasal 21 ayat 2 huruf a jo pasal 40 ayat 2 UU No 5 Tahun 1990 tentang KSDAE Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan habitat COP.

Muis (36), Andi (37), Nasir (54), Rustam (37) dan He (di bawah umur) menganiaya orangutan dengan cara menembak. Tempat kejadian perkara yang berada di Taman Nasional Kutai (TNK) kecamatan Teluk Pandan, Kutim, Kalimantan Timur pada 4 Februari telah membuat orangutan tersebut tewas dengan 130 peluru di tubuhnya.

“Kami berharap masyarakat luas tetap memantau kasus ini agar tidak menguap tanpa bekas.”, tambah Ramadhani lagi.

DEBBIE FOUND IN KELAY RIVER

The discovery of a human-like figure near IPA Sambalung PDAM, Berau, East Kalimantan on Thursday afternoon, 12 April 2018 shocked the COP Borneo team. Sadness so enveloped Tim that Tim finally arrived at RSUD Abdul Rivai to make sure the corpse was an orangutan.

After measuring the distance of the eyes and body and checking the tooth structure, the corpses of the orangutans who had not been in the intact state were closely approached physically to the disappearance of the Debbie orangutan since late March.

The team’s effort down the Kelay river for a whole week since its disappearance did not work. That still leaves Debbie hope to survive. “Every time we send food to the island and patrol we are still looking for Debbie. But now, that hope is gone. Debbie is dead, “Inoy said sadly.

Debbie is a deceased orangutan living in a cage. Female orangutans from the Botanical Garden of Unmul Samarinda are entrusted to COP Borneo orangutan rehabilitation center. On March 1, 2018, Debbie had the opportunity to be released on the island of orangutans. The island that will be a place to live forever because of the possibility to be released into the habitat is almost impossible because of Debbie’s previous life history that is always in the cage.

The development of Debbie on the island is quite astonishing. Debbie makes a hiding place or a nest on the ground. He can completely disguise and disappear to avoid Ambon, the male orangutan that was once a cage with him in KRUS. Debbie also managed to climb a tree as high as 15 meters. “Thank you Debbie, you have made us happy to see you live on the island during the month of March. Watching your progress once made us cry happily. And now we are crying sadly with your departure.”. (Dhea_Orangufriends)

DEBBIE DITEMUKAN DI SUNGAI KELAY
Penemuan sosok seperti manusia di dekat IPA PDAM Sambaliung, Berau, Kalimantan Timur pada Kamis sore, 12 April 2018 membuat kaget Tim COP Borneo. Kesedihan begitu menyelimuti Tim hingga akhirnya Tim tiba di RSUD Abdul Rivai untuk memastikan mayat adalah orangutan.

Setelah melakukan pengukuran jarak mata dan tubuh serta pengecekan struktur gigi, mayat orangutan yang sudah tidak dalam keadaan utuh tersebut mendekati fisik orangutan Debbie yang hilang sejak akhir bulan Maret.

Usaha tim menyusuri sungai Kelay selama seminggu penuh sejak hilangnya juga tidak membuahkan hasil. Itu pun masih menyisakan harapan Debbie bisa bertahan. “Setiap kali mengirimkan makanan ke pulau dan patroli kami masih terus mencari-cari sosok Debbie. Tapi kini, harapan itu pupus. Debbie sudah mati.”, ujar Inoy sedih.

Debbie adalah orangutan yang sudah puluhan tahun hidup di dalam kandang. Orangutan betina yang berasal dari Kebun Raya Unmul Samarinda ini dititipkan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Pada 1 Maret 2018 yang lalu, Debbie berkesempatan dilepas di pulau orangutan. Pulau yang akan menjadi tempat hidup selamanya karena kemungkinan untuk dilepas liarkan ke habitatnya hampir tidak mungkin karena sejarah hidup Debbie sebelumnya yang selalu berada di dalam kandang.

Perkembangan Debbie selama di pulau cukup mencengangkan. Debbie membuat tempat persembunyian atau sarang di tanah. Dia benar-benar bisa menyamar dan menghilang untuk menghindari Ambon, orangutan jantan yang pernah satu kandang dengannya di KRUS. Debbie juga sudah berhasil memanjat pohon setinggi 15 meter. “Terimakasih Debbie, kamu sudah membuat kami bahagia dengan melihatmu hidup di pulau selama bulan Maret lalu. Menyaksikan perkembanganmu pernah membuat kami menangis bahagia. Dan kini kami menangis sedih dengan kepergianmu.”.

CATATAN APRIL 2018 DANIEK HENDARTO

“Dalam proses penyelamatan satwa tidak melulu selalu menang dan berakhir baik. Bahkan terkadang kita kalah dan jatuh. Namun tetaplah gembira sesulit apapun itu.”. Itulah suara Daniek Hendarto, manajer operasional orangutan ex-situ COP. Satu bulan terakhir ini menjadi hari-hari yang sulit bagi pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kedatangan dua orangutan kecil Annie dan Raju membuat tim sedih karena pekerjaan seolah-olah tiada habisnya. Padahal tim sedang mempersiapkan lima orangutan yang akan dirilis ke habitatnya dalam waktu dekat ini.

Tak hanya itu, orangutan Debbie yang tepat pada ulang tahun COP yang ke-11 dipindahkan ke sanctuary island pada akhir Maret sudah tak kelihatan lagi. Buaya yang hidup di sungai Kelay sepertinya berhasil mendapatkannya. Kebahagiaan melihat Debbie yang telah puluhan tahun hidup di balik kandang jeruji besi pun menjadi sirna.

Warna kekawatiran pun pudar melihat Septi yang bisa menerima Popi di dalam kandangnya. Popi terlihat nyaman bersama Septi. Sementara Septi terlihat seperti ibu muda yang mengawasi Popi. Tapi kami pun terpaksa mengevakuasi Reza Kurniawan, manajer COP Borneo ke Yogyakarta karena sakit yang dideritanya. Ejak begitulah kami memanggilnya, menderita sakit malaria.

Memang bumi akan terus berputar. Roda akan terus menggelinding. Ada saat di atas dan ada saat di bawah. Semangat orangufriends (kelompok pendukung COP) seperti tidak ada putusnya. Orangufriends berhasil membawa virus konservasi ke kehidupannya. Mereka yang bergerak di anak jalanan, desain grafis, hukum, kuliner, pendidikan, petualangan bahkan musik terus menerus menjadi semangat kami. Terimakasih tim… terimakasih orangufriends, mari kita bekerja bersama!