ORANGUTAN SUFFERING IN HIS HEAD

Almost 100% orangutans that captured by plantation workers are suffering serious wound in the head and hands. They use wooden stick or soil hoe to beat the orangutan’s head. Many of them died from this crime.
We have spotted this male orangutan in the street, begging for food as the forest gone for development of new oil palm plantation In East Kalimantan. We have translocated 1 male orangutan from the same location about 3 weeks ago and have spotted another 3 orangutans. So, totally 4 orangutans now need to be translocated. Could you help us to help them from killing?
This is donation link: http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

Hampir 100% orangutan yang ditangkap para pekerja sawit menderita luka serius dan tangan dan kepala. Beberapa dari mereka tewas karena ini.
Orangutan jantan dewasa ini ditemukan sedang mengemis makanan di tepi jalan di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur. Kami menemukan luka di kepalanya, yangmana kemungknan besar akibat dilukai oleh manusia. Tim kami akan kembali untuk menangkap dan memindahkannya ke hutan yang lebih aman.
Di kawasan yang sama, kami juga memindahkan 1 orangutan jantan dewasa 3 minggu lalu. Setidaknya ada 3 orangutan lainnya yang masih berkeliaran di daerah tersebut. Dengan demikian, jumlah totalnya 4 orangutan. Mari berharap agar mereka tidak bertemu dengan orang jahat yang main bacok atau tembak.

ANOTHER MONDAY MORNING

I am the leader of the COP baby orangutans. Bonti is on my left, and Happi is the one that holding the pineapple. This morning we’re already at the forest school, COP Borneo rehabilitation center. I must keep the spirit for the classes training, so Bonti and Happi will keep training too. They both always follow my behaviour. If I lay down and resting on the forest floor, they would do it too. If I climb the trees, they would follow too. It’s me.. Owi, the one that dreaming of ruling the remaining forest of Kalimantan.

Senin Pagi lagi…

Aku adalah ketua para bayi orangutan di COP Borneo. Bonti yang di sisi kiriku dan Happi yang sedang memegang nenas. Pagi ini kami sudah berada di sekolah hutan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Aku harus tetap bersemangat berlatih, agar Bonti dan Happi ikut berlatih juga. Mereka berdua selalu mengikuti seluruh tingkahku. Jika aku di lantai hutan bermalas-malasan, mereka pun akan bermalas-malasan juga. Jika aku memanjat, mereka pun akan memanjat. Aku… adalah Owi, yang bermimpi akan memimpin seluruh isi hutan yang tersisa di Kalimantan.

HIDUP DI CAMP COP BORNEO

“Wow!”. Hidup di hutan itu sangat sederhana. Di pondok kayu rumah panggung beratapkan seng, di bawah rimbunnya pepohonan adalah tempat tinggal kami selama sebulan ke depan. Dan… kebayang ngak, selama sebulan tanpa signal telepon apalagi internet? Mungkin ngak ya?

Keterasingan di tengah hutan memiliki daya tarik tersendiri yaitu bebas dari jaringan internet yang seringkali menjadi ‘distraksi’ terbesar manusia abad ini. Lepas dari kejaran notifikasi social media (facebook, twitter, instagram, path, dst), chat group diaplikasi (whatsapp atau line), email atau hanya sekedar menjelajah internet, game online ataupun menonton youtube yang selalu menyajikan hiburan tiada batas kapan pun dimana pun dan seringkali membuat ketagihan. Baiklah, ‘detox internet’ dimulai. Mencoba kembali ke alam secara harafiah.

Bonusnya, jika kamu mengabaikan cerita ‘tarzan’ dan ‘snow white’ serta kesan horornya hutan belantara dari hewan buas seperti macan dan ular maupun penghuni tak kasat mata lainnya, kesunyian dan oksigen melimpah dengan kualitas udara bersih hutan memberikan kesan dramatis dan membuat saya tak berhenti berdecak kagum. Betapa hidup di hutan memiliki daya tarik tersendiri.

Menjadi relawan COP Borneo di hutan hujan tropis Labanan, Berau, Kalimantan Timur sejak 26 Juni 2017 adalah kesempatan istimewa saya. Kapan lagi diusilin burung rangkong yang suka menganggu di dapur, kancil, anjing hutan, babi hutan dan bahkan landak yang mau mencuri pakan yang tersimpan di gudang buah. Kami pun harus berjaga-jaga sepanjang malam.

Udara di dalam hutan berbeda sekali dengan di luar hutan. Di dalam dengan kesejukan yang lembab, sementara di luar hutan, panas terik yang menyengat. Hujan deras pun sempat membuat kawatir dengan kilat dan suara petir yang membahana.

Saat malam tiba, listrik hanya dipergunakan untuk penerangan dari jam 6 sore hingga 10 malam. Selebihnya, senter dan lilin yang akan menemani. Sumber air hanya berasal dari ‘embung’ yaitu kolam rawa yang ada di dekat camp. Sementara air bersih harus kami beli dari kota. Di sinilah saya belajar hidup sederhana dan efisien untuk menikmati hidup atau berkontempelasi. (A.Gasani_Orangufriends)