APE CRUSADER COP MENYONGSONG TAHUN 2026

Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menjalani perjalanan yang panjang dan penuh dinamika, layaknya melintasi lintasan roller coaster dengan tanjakan dan turunan tajam di setiap jalurnya. Berbasis di Kecamatan Muara Wahau, wilayah strategis dengan tingkat konflik orangutan yang tinggi, tim ini berada di titik pertemuan antara ancaman dan harapan. Kedekatannya dengan area rilis orangutan serta calon lokasi rilis baru membuat APE Crusader hampir tak pernah berhenti bergerak.

Fokus utama tahun ini adalah penanganan dan perlindungan habitat orangutan. Tim melakukan patroli di wilayah sebaran habitat orangutan dan satwa liar lainnya, termasuk patroli kebakaran hutan dan lahan di kawasan BORA Labanan. Pendekatan kepada masyarakat juga terus dilakukan agar informasi mengenai keberadaan satwa liar dapat diperoleh secara akurat. Dari upaya ini, tim menerima laporan tentang pemeliharaan ilegal orangutan serta ditemukannya kura-kura baning di sekitar Kabupaten Kutai Timur.

APE Crusader bersama kelompok tani di Desa Sidobangen melakukan penanaman pohon sebagai usaha menjaga kawasan hidup satwa liar. Upaya panjang usaha pembangunan jembatan koridor satwa pada akhir November 2025 menjadi harapan satwa liar untuk selamat dari ramainya jalan poros Kalimantan tersebut.

Di sisi lain, konflik antara orangutan dengan manusia masih menjadi tantangan besar. Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menangani 27 laporan keberadaan orangutan di sekitar aktivitas masyarakat dan perusahaan. Dari proses asesmen dan penyelamatan tersebut, sebanyak 52 individu orangutan berhasil diamankan dari habitat yang rusak, dengan sebagian besar kemudian ditranslokasi ke habitat yang lebih layak.

Tingginya intensitas konflik mendorong kebutuhan untuk memperkuat kapasitas tim rescue. Rencana pembentukan tim tambahan serta pengadaan ambulans menjadi langkah penting yang dinilai akan sangat membantu kerja APE Crusader di lapangan. Kondisi ini tidak terlepas dari laju kehilangan habitat yang masih tinggi akibat alih fungsi hutan oleh perusahaan dan atau masyarakat lokasi. Tidak mengherankan jika Kalimantan Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka pembukaan lahan tertinggi pada tahun 2024 dan 2025.

Selain kerja lapangan, APE Crusader juga aktif membangun kesadaran publik. Berbagai kegiatan edukasi mulai dari school visit, campus visit, hingga advokasi dan kampanye lingkungan seperti acara Sound for Orangutan (SFO) di kota Samarinda. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyuarakan krisis lingkungan sekaligus menjalin dialog dengan komunitas lokal. Beasiswa untuk mahasiswa Universitas Mulawarman serta kesempatan magang di lokasi kerja Centre for Orangutan Protection di Kalimantan Timur juga menjadi usaha regenerasi dunia konservasi orangutan di Indonesia.

Menutup tahun 2025, APE Crusader menyadari bahwa perjalanan ini tidak mungkin dilalui sendirian. Kesempatan memaparkan hasil kerja lapangan pada Konferensi Wild Animal Rescue Network (WARN) di Thailand menjadi pengingat kerja tim yang ternyata tidak kecil. Proses panjang yang telah dilewati adalah kerja kolektif, penuh tantangan, namun sarat harapan. (FER)

DEA SEPANJANG 2025 HANYA UNTUK AMBON

2025 menjadi tahun yang didedikasikan sepenuhnya untuk merawat Ambon. Di tahun ini, ketika semua orangutan dan staf sudah berpindah ke BORA di Kampung Tasuk, Ambon bersama para trainer dan perawat satwa masih menetap. Suka dan duka berhasil terlewati dalam satu tahun tersebut. Kondisi yang lebih sunyi dibandingkan sebelumnya menjadi momentum untuk menemukan jalan agar tidak termakan kejenuhan.

Namun rintangan justru menghampiri, jaringan internet khusus bermasalah selama satu bulan penuh. Di saat inilah muncul ide mendokumentasikan proses pembuatan enrichment untuk Ambon. “Lumayan mengobati rasa bosan saat tidak ada jaringan, juga menjadi kebahagiaan tersendiri karena bisa memperlihatkan apa yang bisa kami kerjakan”, ujar Dea, animal keeper yang telah dua tahun di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Kalimantan Timur.

Ambon yang intensif menjalankan program training dengan tujuan membantu penurunan berat badan mulai menunjukkan hasil baiknya. Dari pengukuran biometrika, diketahui lingkar perut Ambon menyusut dari 168 cm menjadi 125 cm. Sayangnya kabar bahagia harus beriringan dengan kabar sedih lainnya. Tahun 2025 ditutup dengan adanya luka pada bagian skrotum Ambon, sehingga perlu dilakukan tindakan medis untuk menjahit luka tersebut. Dengan bantuan tim medis, Ambon berhasil melewati operasi dengan lancar.

Jika ditanya apa harapan di tahun 2026 untuk Ambon, semoga segera datang waktunya untuk menempati enclosure, serta harapan agar Ambon mampu beradaptasi saat sudah menempati enclosure. Untuk Ambon dan semua orangutan yang masih berada di BORA, semoga selalu dalam kondisi yang sehat. Tidak hanya orangutan, tapi juga semua staf yang bertugas, selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. (DEA)

CATATAN AKHIR TAHUN 2025 APE GUARDIAN COP: ORANGUTAN, HUTAN, DAN HARAPAN MASA DEPAN

Di hulu sungai Busang, hutan masih berdiri sebagai rumah bagi orangutan dan beragam satwa liar lainnya. Di balik rimbun pepohonan dan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara burung, tahun 2025 menjadi tahun penuh cerita tentang penyelamatan, penjagaan, dan harapan.

Sepanjang tahun ini, Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat sebagai habitat orangutan Busang, kembali menerima tujuh individu orangutan hasil rehabilitasi. Setelah melalui perjalanan panjang. Mereka akhirnya kembali ke habitat alaminya. Salah satu di antaranya lebih dulu menjalani masa habituasi di Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar, sebuah tahap penting untuk belajar kembali hidup liar sebelum benar-benar menjelajahi rumahnya.

Busang juga menjadi tempat aman bagi 20 orangutan hasil translokasi. Mereka dievakuasi dari lokasi konflik dan kawasan yang tidak lagi aman. Setiap proses translokasi bukan hanya soal memindahkan satwa, tetapi juga tentang memberi kesempatan kedua bagi orangutan untuk hidup dengan aman dan nyaman, serta bagi manusia untuk belajar hidup berdampingan dengan alam.

Namun, melepasliarkan orangutan saja tidak cukup. Hutan harus mampu menyediakan pakan dan perlindungan. Karena itu, tim lapangan menanam kembali pohon-pohon buah hutan sebagai sumber pakan alami. Patroli pengamanan kawasan dilakukan secara rutin menyusuri sungai dan jalur darat, sekaligus menjalankan mitigasi konflik untuk mengantisipasi interaksi negatif antara masyarakat dis editor kawasan dan orangutan.

Di sela-sela aktivitas tersebut, HL Gunung Batu Mesangat Busang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Kamera jebak yang dipasang di dalam dan sekitar kawasan merekam momen langka, satu induk orangutan (Pongo pygmaeus) bersama anaknya turun ke lantai hutan. Sebuah pemandangan sederhana namun bermakna, seakan mengabari kami bahwa hutan di sini masih cukup aman untuk dijelajahi orangutan.

Malam hari diisi dengan kegiatan herping, yaitu mencari dan mengamati reptil serta amfibi di alam liar yang dilakukan dengan menyusuri lantai hutan yang kebab. Dari kegiatan ini, tim menemukan katak tanduk hidung panjang (Megophtys nasuta), salah satu satwa kecil yang menjadi indikator sehatnya ekosistem hutan. Sementara itu, langit dan tajuk pohon menjadi panggung bagi burung-burung hutan. Melalui kegiatan birdwatching, kami berhasil mendokumentasikan beberapa jenis burung dilindungi, seperti kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut putih (Antracoceros albirostris) dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

Cerita Busang tidak hanya hidup di dalam hutan, tetapi juga dibawa ke ruang-ruang kelas sekolah. Sepanjang 2025, tim melakukan school visit ke beberapa sekolah di Busang, berbagi cerita tentang orangutan, satwa liar, dan pentingnya menjaga hutan. Dari sinilah harapan tumbuh untuk mencetak generasi yang peduli dan berani menjaga alamnya.

Cerita yang sama juga disampaikan di bangku perguruan tinggi melalui campus visit ke Universitas Mulawarman. Di sana, mahasiswa diajak terlibat dalam upaya konservasi satwa liar dan habitatnya, khususnya orangutan.

Meski demikian, tantangan masi nyata. Di luar kawasan pelepasliaran, ditemukan aktivitas tambang emas ilegal dan praktik pembalakan liar. Ancaman ini menjadi pengingat bahwa hutan Busang masih rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama.

Dari pelepasliaran orangutan hingga suara anak-anak di ruang kelas, dari kamera jebak hingga diskusi di kampus, tahun 2025 menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia dan masa depan yang diperjuangkannya. (PEY)