SUMATRA DITERJANG BENCANA EKOLOGIS

Di penghujung bulan November 2025, pulau Sumatra dihantam Siklon Senyar dalam bentuk banjir bandang dan longsor yang dipicu hujan ekstrem selama tiga hari berturut-turut. Bencana ini menyebabkan korban jiwa, dari data terakhir laporan korban tewas mencapai 174 jiwa di pulau Sumatra dengan ratusan lainnya mengungsi dan banyak daerah masih terisolasi akibat kerusakan infrastruktur. Provinsi yang paling parah terdampak antara lain Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

Angka-angka itu harus dibaca bersama satu kenyataan penting, bencana bukan sekadar produk cuaca. Hujan deras yang menjadi pemicu langsung berinteraksi dengan lanskap yang telah diubah oleh manusia, deforestasi masif, alih fungsi lahan menjadi kebun sawit atau pertambangan menjadikan risiko banjir dan longsor melonjak jauh di atas keadaan alami. Ini merupakan bencana besar yang melanda hampir sebagian pulau Sumatra, tanah yang dulunya menyimpan air dan menahan tanah kini kehilangan kemampuan itu setelah pohon-pohon ditebang dan kanal dibuka untuk drainase.

Di banyak lembah dan pinggiran sungai, permukiman tumbuh di kawasan rawan longsor dan banjir karena tekanan ekonomi. Ketika hujan ekstrem turun, air mengalir lebih cepat ke lembah, membawa lumpur dan material lepas, mengubah aliran sungai menjadi jurang berbusa yang menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Seketika jika digabung semua dengan erosi dan perubahan pola hidrologi, siklus kerusakan menjadi sulit dihentikan.

Penyebab struktural lain yang sering luput dari segala yang terjadi adalah kebijakan perizinan dan tata ruang yang lemah. Perizinan konsesi yang longgar, korporasi yang mengejar perluasan tanpa mitigasi lingkungan memadai, serta penegakan hukum yang tidak konsisten memberi ruang bagi alih guna lahan yang cepat namun tidak berkelanjutan.

Dampak sosialnya luas, ribuan rumah terendam atau hancur, sekolah ditutup, akses air bersih dan listrik terganggu, telekomunikasi terputus, dan hal yang tak tersentuh yaitu ekonomi masyarakat lokal, mungkin banyak masyarakatnya yang bergantung pada ternak atau pertanian dan perdagangan kecil, kini terpukul keras karena semua hilang diterjang banjir dan longsor. Korban kehilangan bukan hanya nyawa, mata pencaharian, dokumen kepemilikan, hingga jaringan sosial runtuh dalam hitungan jam. Tanggap darurat berjalan cepat di banyak lokasi namun sejumlah daerah tetap sulit dijangkau karena rusaknya jalan dan jembatan.

Sumatra sedang mengalami krisis ekologis yang hasilnya berujung pada krisis kemanusiaan. Menyebutnya sekadar “bencana alam” adalah mengaburkan fakta bahwa banyak dari kehancuran ini bisa dicegah jika kebijakan, praktik lahan, dan kepatuhan lingkungan ditata ulang sesuai prioritas keselamatan warga dan kelestarian alam. (NAB)

AIR MATA TERNAK DAN CERITA PARA RELAWAN

Gunung Semeru batuk keras pada 19 November 2025, mengirimkan kolom abu hitam yang membuat langit seperti sedang menahan amarah. Saat banyak orang memilih mengunci pintu sambil berdoa, saya justru menerima pesan singkat dari seseorang yang suaranya seperti selalu muncul ketika bencana memanggil, Mbah Monyok. Hanya satu instruksi, “Turun ke Penanggal”. Tidak ada konteks, tidak ada waktu untuk ragu. Saya tidak tahu bahwa perintah malam itu akan membawa saya memasuki hari-hari dimana hidup dan mati hanya dibedakan oleh lapisan debu tipis.

Besok paginya, di bawah semburat abu yang masih turun, kami memulai tugas utama, mencari bangkai. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing semuanya tersebar di kamar A, Gumukmas, Sumbersari. Tugas kami bukan sekadar menemukan, tetapi memastikan mereka tidak menjadi sumber penyakit di tengah pengungsian. Di antara kandang yang runtuh dan bau hangus yang menusuk, saya belajar memandang tubuh-tubuh itu bukan sebagai bangkai, tapi sebagai korban yang sama sekali tidak pernah diberi peluang menyelamatkan diri. Yang paling membuat dada sesak adalah permintaan seorang anak kecil, Putri yang ingin kambing kesayangannya dikuburkan, bukan dibakar. Bagi dia, itu bukan aturan medis, itu penghormatan terakhir.

Ketika tim COP dari Jogja tiba, ritme kerja berubah drastis. Mereka datang membawa ketenangan, APD lengkap, dan langkah-langkah yang selalu terukur. Bersama mereka kami melakukan prosedur sterilisasi, mengumpulkan bangkai, membuat lubang kubur, atau membakarnya hingga tuntas agar tidak ada bakteri, virus, atau parasit yang lolos di balik abu Semeru. Di tengah kobaran api yang memakan habis tubuh-tubuh itu, saya melihat betapa pentingnya ilmu di balik tindakan yang secara emosional begitu berat. Mereka mengajarkan saya bahwa merawat satwa juga berarti memahami risiko penyakit yang bisa menghantam manusia dan ternak yang masih hidup.

Beberapa hari kemudian, tim dari Kalimantan datang, membawa filosofi COP yang lebih luas. Dari mereka saya mendengar soal ekologi, rantai penyakit, dan bagaimana satu bangkai yang tidak ditangani bisa berdampak pada kesehatan satu desa. Saat kami menyusuri ladang yang sepi, mencari sisa-sisa tubuh yang tersembunyi di balik tumpukan abu, saya menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekedar “membersihkan”. Ini bagian dari menjaga keseimbangan bahkan wujud pekerjaannya adalah memikul, mengubur, dan membakar mereka yang tak lagi bernapas.

Pada akhirnya, Semeru tidak hanya memuntahkan lava dan abu, tapi ia membuka mata saya terhadap sisi bencana yang jarang disorot kamera. Bahwa mencari bangkai satwa dan membakarnya bukanlah pekerjaan yang dingin, itu bentuk paling sunyi dari kemanusiaan. Semeru menjadi guru yang keras, mengajarkan bahwa memuliakan kehidupan kadang berarti menghadapi kematian secara langsung. Kalau nanti ada rezeki, saya ingin ikut COP School. Bukan lagi sebagai “Agen Dosa”, tapi sebagai seseorang yang paham bahwa menjaga satwa bukan hanya menyelamatkan yang hidup, tetapi juga bertanggung jawab pada yang sudah tiada. (Imdad Ervianto_Orangufriends Lumajang)

SOUND FOR ORANGUTAN 2025 EDISI BORNEO

Sound For Orangutan 2025 kembali mengguncang Samarinda dengan tema “Born to be Wild” bertempat di Temindung Creative Hub. Acara ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi, komunitas seni, aktivis lingkungan, dan masyarakat yang peduli pada masa depan orangutan.

Tahun ini, semangat kolaborasi terasa kuat. Para penggiat lingkungan dan komunitas kreatif menyatukan energi mereka untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap konservasi orangutan serta habitatnya. SFO menjadi momentum langka di Samarinda yang menggabungkan musik, seni, dan pesan lingkungan dalam satu panggung. Deretan band lokal seperti Swankscum, Outlier, GNR, Roots Side Up, Louise, dan Grossfuss tampil penuh energi. Komunitas graffiti ‘warga sekitar hood’ dan aktivis setempat yang juga memperkaya pengalaman acara dengan karya dan pesan mereka.

Lebih dari 80 orang hadir dan memberikan respons positif. Banyak penonton dan performer berharap SFO bisa digelar kembali tahun depan dengan skala lebih besar, mengingat konser amal bertema orangutan seperti ini merupakan yang pertama di Samarinda.

Sound For Orangutan 2025 mengukuhkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga suara yang mampu menyatukan komunitas untuk menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang menjadi rumah mereka. (WIB)