KELEMBAPAN HUTAN MENUNTUT PERAWATAN ALAT

Hujan masih sering turun di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Pusat rehabilitasi yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan ini seperti Hutan Hujan Kalimantan lainnya yang memiliki kelembapan yang cukup tinggi. Kelembapan ini membuat tim APE Defender yang berada di COP Borneo bekerja ekstra keras dalam merawat peralatan dan perlengkapan kerja. Tak terkecuali penyimpanan masker medis. 

Sejak pandemi COVID-19, masker medis menjadi barang yang sangat langka. Jika ada, dalam jumlah sangat terbatas dan harga yang hampir tidak masuk akal. Sepuluh kali lipat harga normal bahkan lebih. Centre for Orangutan Protection sampai membuka donasi terbuka untuk memenuhi kebutuhan masker medis yang memang selalu digunakan di COP Borneo. 

Selain masker medis, sarung tangan medis pun ikutan menghilang dari pasaran. COP bersyukur sekali dengan bantuan dari masyarakat luas, baik itu perorangan maupun lembaga. Kiriman datang dan memenuhi kebutuhan untuk sebulan bahkan dua bulan kedepan. 

Kelembapan tinggi di tempat penyimpanan membutuhkan perawatan ekstra. sesekali gudang penyimpanan harus dibuka, diperiksa satu per satu dan dirapikan kembali. Masker, sarung tangan, pelindung wajah bahkan baju dekontaminasi tak luput dari pemeriksaan tim logistik. “Kami sangat menghargai usaha mereka yang telah mengirimkan peralatan untuk melindungi kami maupun orangutan dari berbagai penyakit. Kiriman dari Surabaya, Jakarta, Yogya, Sumatera, Bali, Jepang maupun Australia sangat membantu kami. Kami tidak sendiri.”, ujar Wety Rupiana dari tim APE Defender COP.

MARY YANG SERING PILEK

Pagi ini saat mendekati kandang ku mendengar suara bersin. Dugaanku benar, suara itu berasal dari blok kandang sosialisasi. Ternyata, Mary sedang flu. Ia cukup rentan terkena pilek di antara bayi orangutan lainnya. Tak jarang kawan satu kandangnya yaitu Bonti, Jojo dan Popi tertular flu oleh Mary.

Biasanya kalau sudah begini, drh. Flora akan datang memberi Mary obat flu. Sayangnya, sehabis minum obat, Mary tidak diperbolehkan minum susu. Sungguh malang tatapannya melihat teman sekandangnya mendapat susu. Sedangkan ia… tidak.

Ketika musim hujan dan suhu di sekitar kandang terasa dingin, Mary dan teman sekandangnya terlihat sering berkumpul sambil berpelukan di atas hammock. “Sedih sekali melihatnya, mereka tak seharusnya berada di kandang dan kami merawatnya. Seharusnya mereka berada dalam pelukan ibunya yang hangat. Tolong selamatkan hutan yang merupakan habitat mereka.”, ujar Simson (perawat satwa) lirih. (SIMSON)

NEW NORMAL DENGAN BIBIT DARI JATAN

COP Borneo menyambut new normal dengan mendatangkan bibit donasi dari JATAN. Setelah lebih dari empat bulan tertunda karena pandemi COVID-19, akhirnya pembibitan di KHDTK Labanan bisa dimulai kembali. “Centre for Orangutan Protection senang sekali dengan kepercayaan yang telah diberikan mitra nya dari Jepang ini. Kondisi Hutan Penelitian Labanan yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur memang mengalami kerusakan, baik itu karena penebangan secara ilegal, kebakaran hutan maupun faktor lainnya. Kami berharap bibit-bibit yang baru datang dapat disemai terlebih dahulu dan jika cukup usia, segera ditanam.”, ujar Widi Nursanti, manajer COP Borneo penuh semangat.

Desember 2019 yang lalu, tempat pembibitan yang berada di dekat area parkir Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo sudah dibersihkan. Namun keterbatasan tenaga, yang saat itu COP Borneo sedang mempersiapkan repatriasi orangutan dari Thailand menyebabkan rencana pembibitan terhenti. Kondisi semakin sulit setelah pandemi COVID-19 yang membuat mobilitas terbatas.

“Para perawat satwa mulai membersihkan area pembibitan yang mulai ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Ini menjadi pengisi waktu mereka selain memberi makan satwa, membuat enrichment bahkan membuat video di tengah lockdown untuk COP Borneo. COP Borneo memang menjalani karantina yang cukup ketat sebagai usaha mencegah penyebaran virus corona. Lebih baik mencegah daripada mengobati.”, tegas Widi.