ENJOY THE LESAN RIVER PROTECTIVE FOREST FROM MONITORING TOWER

Tropical rainforests are known for its high canopies and various kind of wildlife that coexist. Lesan River Protective Forest is one of them which located in Berau district. This forest which is rich in biodiversity that is a haven for flora and fauna life. Not less than 200 species of plants, 52 species of mamals, and 118 species of birds can be found here. 

The interesting thing about the Lesan River Protective Forest is the monitoring tower in the middle of the forest. This tower is approximately 40 meters tall and about 10 years old. Made from the Bangkirai woods and attached to Red Meranti tree as a support. This tower can be used to see the beauty of the canopies in Lesan River Protective Forest from above, to see how magnificent the giant trees that stand tall around the tower. Also, this tower can be used for monitoring activity.

Of course, it takes a lot of courage and braveness to climb the tower. If you lucky, you can also see orangutan nest from the top of the tower. To go to this monitoring tower, first you have to go to Lejak research camp, this camp can be reached approximately 1 hour from Lesan Dayak village using Katinting boat. This camp is right at the riverside of Lesan river. Compared to the large Kelay river, Lesan river is only 10-20 metres wide and there are large stones with diameter up to 5-10 metres. 

There are also small river rocks (gritstone) which fairly expanse that when the river recedes that wide expanse of gritstone will looks colorfull. Other than that, there will be some rapids with quite strong current found there and Katinting boat of visitors will be sunk due to the swift current and long rapids if it’s not an expert who steers the boat in the rainy season. 

After arriving at Lejak Research Camp, you have to continue your journey by walking in the middle of the jungle trees for approximately 1,5 hours to reach the monitoring tower. This walk will be decorated by quite steep incline and make you feel the fatigue in the first 30 minutes. But unfortunately, this tower has to be renovated because some of the woods has looked a little weathered. Hopefully, there will be renovations for this 40 meters tall tower. (SAR)

MENIKMATI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN DARI MENARA PANTAU
Hutan hujan tropis terkenal dengan kanopi yang tinggi dan berbagai macam satwa liar yang hidup berdampingan. Salah satunya adalah Hutan Lindung Sungai Lesan yang berada di kabupaten Berau. Hutan yang kaya akan keanekaragaman hayatinya ini, merupakan surga bagi kehidupan flora dan fauna unik dan langka. Tidak kurang dari 200 jenis tumbuhan, 52 jenis mamalia, dan 118 jenis burung dapat ditemukan di sini.

Hal yang menarik dari Hutan Lindung Sungai Lesan ialah Menara Pantau yang berada di tengah-tengah hutan. Menara ini menjulang setinggi 40 meter. Menara ini sudah berumur kurang lebih 10 tahun lamanya. Dibuat dari Kayu Bangkirai dan menempel dengan Pohon Meranti Merah sebagai penyangganya. Menara ini bisa digunakan untuk melihat keindahan kanopi di Hutan Lindung Sungai Lesan dari atas, betapa megahnya pohon-pohon raksasa yang berdiri di antara menara bisa kita lihat. Selain itu, menara ini juga digunakan untuk pengamatan.


Tentu saja dibutuhkan nyali dan keberanian untuk menaiki menara ini. Jika beruntung, kalian juga bisa melihat sarang orangutan dari atas menara. Untuk menuju ke Menara Pantau ini, kita harus menuju ke camp penelitian Lejak terlebih dahulu, camp ini bisa dicapai kurang lebih 1 jam dari kampung Lesan Dayak menggunakan perahu bermesin ketinting. Camp ini berada tepat di pinggir Sungai Lesan. Dibanding Sungai Kelay yang besar, Sungai Lesan lebarnya hanya sekitar 10-20 meter dan terdapat batu-batu besar berdiameter mencapai 5-10 meteran. Di pinggiran sungai ini juga tampak bebatuan kecil (kersik) yang menjadi hamparan yang lumayan luas, bahkan saat sungai surut hamparan kersik yang luas di sungai akan terlihat dengan aneka warna. Selain bebatuan yang besar dan kecil, dalam perjalanan ini juga akan ditemukan beberapa beberapa titik jeram dengan arus yang cukup deras, bahkan jika bukan ahlinya dan saat musim hujan di jeram ini tidak sedikit katinting pengunjung akan karam karena derasnya arus dan jeram yang panjang.


Setelah sampai di Camp Penelitian Lejak, kita diharuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki diantara pohon-pohon rimba selama kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke lokasi menara pantau. Perjalanan ini akan dihiasi dengan tanjakan yang sedikit curam dan bisa membuat kelelahan di 30 menit pertama. Namun sayangnya menara ini sudah saatnya untuk direnovasi, karena beberapa kayu nya Sudah terlihat sedikit lapuk. Semoga segera ada renovasi pada menara setinggi 40 meter ini.

QUARANTINE DOES NOT DOMESTICATED LECI 

Leci break the twigs and make noise when he find out there is a technician (people in charge of caring orangutan on the island of COP Borneo) who come to bring the food. That is the way little Leci shows his territory.

On the pre-release island, Leci is the smallest orangutan among the others. But, in terms of ability and intelligence, Leci dares to be aligned with Novi the orangutan who is much bigger than him.

It has been a week since Leci moved to the pre-release island, after five months stayed in quarantine cage. He does not lose his natural instincts such as foraging and making nest. “In the past, Leci often slept on other orangutan nest, but now Leci has dared to sleep on his own nest and the nest is usually still close to other orangutan nests.”, said Idham, monitoring post technician of COP Borneo orangutan island. (SAR)

KARANTINA TAK MEMBUAT LECI JINAK
Leci mematah-matahkan ranting dan mengeluarkan suara saat mengetahui ada teknisi (orang yang bertugas merawat orangutan di pulau orangutan COP Borneo) yang datang membawa buah. Itu adalah cara Leci kecil menunjukkan wilayah teritorialnya.

Di pulau pra-rilis, Leci memang orangutan yang paling kecil diantara yang lainnya. Tetapi dari segi kemampuan dan kepintaran, Leci berani disejajarkan dengan orangutan Novi yang jauh lebih besar darinya.

Sudah seminggu Leci di pulau pra-rilis, setelah lima bulan di kandang karantina. Dia tidak kehilangan naluri alaminya seperti mencari makan dan juga membuat sarang untuk istirahat. “Kalau dulu Leci sering menumpang tidur di sarang orangutan yang lain, kini Leci sudah berani tidur sendiri di sarangnya dan biasanya sarangnya masih dekat dengan sarang orangutan lainnya.”, ujar Idham, teknisi pos pantau pulau orangutan COP Borneo. (WET)

ORANGUTANS ARE NOT TOYS

In 2003, Safari World, Bangkok, Thailand held a “Boxing Show” in their zoo. Boxing show is a boxing show using orangutan as the object. Besides boxing show, Safari World, Bangkok, Thailand, there are several zoos in Indonesia that still performs entertainment involving orangutan. The performance is held as a way to attract visitors.

Orangutan is one of the great apes in the world and only spread in Sumatera, Kalimantan, and some parts of Malaysia. Other great apes are found in Africa (Simpanse, Gorilla, and Bonobo). Futhermore, orangutan has DNA similarity with humans as great as 97%. Orangutan is also classified as critically endangered and protected animals by Indonesian government (IUCN). It is a pity to treat orangutan as an animal for human entertainment.

Departing from that matters, COP initiated an #OrangutanBukanMainan or #OrangutansAreNotToys campaign. COP thinks that orangutans should not be treated as entertainment objects, but as animals we should protect. Remembering its status is critically endangered and protected by law.

Some of developed countries has made a regulation to ban animals shows (circus), whether at zoos or other places. The aim is to protect these animals from being exploitation objects by various parties. The Indonesian government has not yet established any regulations to ban animal shows (circus). This is very unfortunate, we still lose at animal welfare with other countries. We still use animals as entertainment objects to gain money for certain parties benefit. Without knowing, indirectly, we who watch the show have supported animal exploitation carried out by various parties.

As a good citizen, let’s stop watching animals show and support the government to immediately make regulations that prohibit animal shows. Indeed, #OrangutansAreNotToys let them free living peacefully in the forest. Not in cages that are used for many people’s entertainment.(SAR)

ORANGUTAN BUKAN MAINAN
Pada tahun 2003, Safari World, Bangkok, Thailand pernah menggelar “Boxing Show” di kebun binatang mereka. Boxing Show adalah pertunjukan olahraga tinju yang menggunakan orangutan sebagai obyeknya. Selain Boxing Show, Safari World, Bangkok Thailand juga mempertontonkan pertunjukan lainnya yang melibatkan orangutan. Tidak hanya Safari World, Bangkok, Thailand, di berbagai kebun binatang Indonesia, masih terdapat pertunjukan hiburan yang melibatkan orangutan. Pertunjukan itu digadang sebagai cara untuk menggaet pengunjung untuk datang ke Kebun Binatang tersebut.

Orangutan adalah salah satu kera besar yang terdapat di dunia dan hanya tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Malaysia. Kera besar lainnya terdapat di Afrika (Simpanse, Gorila, dan Bonobo). Selain itu, orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 97%. Orangutan juga diklasifikasikan sebagai hewan yang dilindungi pemerintah Indonesia dan terancam punah (IUCN). Sungguh sangat disayangkan, jika kita memperlakukan orangutan sebagai hewan untuk hiburan.

Berangkat dari hal tersebut, COP menggagas kampanye #OrangutanBukanMainan. COP merasa orangutan seharusnya tidak diperlakukan sebagai obyek pertunjukan, melainkan hewan yang seharusnya kita lindungi. Mengingat statusnya sudah terancam punah dan dilindungi oleh Undang-Undang.

Beberapa negara maju telah membuat peraturan untuk melarang pertunjukan satwa (sirkus), baik di kebun binatang atau tempat-tempat lainnya. Tujuannya adalah agar satwa-satwa tersebut tidak menjadi obyek eksploitasi oleh berbagai pihak. Pemerintah Indonesia hingga sekarang belum menetapkan peraturan untuk pelarangan penyelenggaraan pertunjukan satwa (sirkus). Hal ini sangat disayangkan, kita masih kalah dalam perlakukan yang baik terhadap hewan dengan negara lain. Kita masih menjadikan satwa untuk hiburan yang menarik pundi-pundi rupiah untuk keuntungan pihak tertentu. Tanpa kita sadari, secara tidak langsung, kita yang menonton pertunjukan tersebut telah mendukung eksploitasi satwa yang dilakukan oleh berbagai pihak.

Sebagai warga negara yang baik, mari kita berhenti menonton pertunjukan satwa dan mendukung pemerintah agar segera membuat peraturan yang melarang penyelenggaraan pertunjunkan satwa. Sejatinya #OrangutanBukanMainan, biarkan mereka bisa hidup bebas dengan tenang di hutan. Bukan di kandang yang menjadi hiburan bagi orang-orang. (RYN)