WAKTU SEKOLAH HUTAN DIMAKSIMALKAN ORANGUTAN CINTA MENJELAJAH

Cinta adalah nama orangutan yang ada di Pusat Rehabilitasi BORA. Dia masih sangat kecil, namun memiliki kepintaran dalam usianya yang sekarang masih 3 tahun. Dia sudah bisa membuat sarang, ini sangat berbeda dengan orangutan yang lebih besar darinya di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Dia juga sangat aktif dalam beraktivitas di pohon seperti berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain dan mencari makan.

Cinta memiliki perilaku yang sangat manja ketika bersama dengan perawat satwa, dia juga suka menangis dan membalikkan kandang kecilnya ketika perawat satwa melewati kandangnya tanpa menyapanya. Dia terlihat kesal dan mencari perhatian. Sifat kekanak-katakannya tidak membuatnya bermalas-malasan untuk memanjat atau bermain bahkan di dalam kandang sekali pun. Cinta sering terlihat di hammock hingga tertidur.

Ketika berada di sekolah hutan, dia serta merta langsung memanjat pohon, mencari makan dan bermain meninggalkan perawat satwa nya dan orangutan yang sekandang dengannya yaitu Ochre. Kesempatan ini tidak disia-siakan olehnya untuk bergerak secara bebas dan memenuhi rasa penasarannya. Cinta juga akan mengikuti orangutan lainnya yang berada di atas seperti Eboni yang memang suka menjelajah. Tidak sekedar bermain bersama saja, tetapi lebih meningkatkan kemampuannya. Terlihat Cinta mencoba apa pun yang dilakukan Eboni.

Tubuhnya bisa saja kecil, usianya bisa saja masih sedikit, tapi kemampuan dan keinginannya terus berkembang. Kini Cinta menjadi contoh untuk orangutan seusianya. Semoga Cinta terus meningkatkan kemampuannya, hingga waktunya kembali ke habitatnya nanti. (FREN)

AWAL TAHUN 2025 PENUH HARAPAN UNTUK ORANGUTAN

Pagi itu, suasana Pusat Rehabilitasi BORA begitu berbeda. Ada semacam kegembiraan bercampur haru karena tiga orangutan yang telah menjalani rehabilitasi sekitar 8 tahunan akan segera lulus dari BORA. Bonti, Mary, dan Jojo, ketiganya siap untuk dilepasliarkan. Para keeper dan biologis yang turut mengamati perkembangan mereka dari kejauhan, juga turut senang dengan perkembangan mereka dalam mengasah hal-hal penting dalam bertahan hidup di alam bebas nantinya. Mulai dari mencari pakan alami, pemilihan cabang pohon untuk menjelajah, kemampuan bertahan hidup dengan minimnya campur tangan manusia di pulau pra-pelepasliaran orangutan hingga pembuatan sarang untuk beristirahat menjadi bukti kesiapan ketiganya untuk dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Busang, Kutai Timur.

Namun ada satu kisah lain yang membuat pelepasliaran kali ini semakin istimewa. Paluy, orangutan jantan yang berhasil diselamatkan di sekitar pertambangan juga ikut dalam perjalanan ini. Paluy ditemukan dalam kondisi yang menyedihkan, tubuhnya kurus dengan salah satu matanya mengalami kebutaan. Tim medis Centre for Orangutan Protection (COP) bekerja keras memulihkan kondisinya, Paluy yang pernah kehilangan harapan akhirnya siap kembali ke rumahnya di alam.

Perjalanan menuju hutan pelepasliaran tidak mudah. Medan yang menantang, jarak yang jauh, serta perhatian penuh untuk memastikan kenyamanan para orangutan menjadi perioritas utama. Hingga tiba di titik pelepasliaran, semua kelelahan ini pun sirna. Jojo dengan perlahan memanjat pohon, Bonti yang sempat marah di dalam kandang dengan memukul-mukul kandangnya pun dengan gesit langsung menuju liana yang diincarnya, sementara Mary berjalan sesaat di tanah untuk menentukan pohon pertama yang akan dipanjatnya tanpa ragu. Ketika pintu kandang angkut Paluy dibuka, dia masih butuh dua menit kemudian untuk menyadari kebebasannya dan memanjat di ketinggian 15 meter untuk mengamati dan terus bergerak menghilang.

Uniknya, tidak lama setelah mereka menjelajahi rumah barunya, Jojo dan Mary ternyata saling menemukan jalan untuk bertemu satu sama lain. “Mary, kamu lihat itu? Kita sudah bebas menjelajah pepohonan luas ini”, bisik Jojo sambil bergelantungan di cabang pohon. Mary menoleh dan tersenyum penuh percaya diri,”Tentu saja, Jojo! Aku bahkan sudah mencoba memanjat pohon-pohon besar di sana”, jawab Mary dengan mata berbinar. Tim APE Guardian yang melakukan Post Release Monitoring (PRM) tersenyum melihat interaksi keduanya. Jojo dengan rambut indah berponi tampak menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Mary. Mary, sang pemberani berdiri tegak dengan tatapan mata penuh percaya diri. Sementara itu, Bonti yang selalu penasaran mencoba meraih sesuatu di dekatnya dengan gerakan cepat, seperti anak kecil yang tak sabar bermain. Hari itu, keempatnya membawa harapan baru bagi kelestarian alam. (DIM)

ARTO INGIN KAMU IKUT BERMAIN

Whoosh whooshhh bruk! Tubuh Arto menyergap babysitter dari ketinggian. Belum selesai mengaduh, ia sudah kembali memanjat dan berayun untuk menjatuhkan kembali tubuhnya pada babysitter. Arto sedang sangat suka bermain-main.

Katanya, setiap anak yang berusia 2-3 tahun, terkenal dengan kenakalan dan keaktifannya dalam eksplorasi bermain. Orang-orang menyebutnya terrible two. Sepertinya, inilah fase yang sedang dialami Arto. Anak orangutan lincah yang tidak kenal takut ini punya segudang gebrakan perilaku yang membuat babysitter nya kewalahan.

Gerakannya yang cepat dan pasti membuat teman mainnya yaitu Harapi, terintimidasi. Arto berlari dan memanjat pohon dengan tergesa-gesa. Otaknya ingin berlari, namun tangan dan kakinya tertatih-tatih. Ia akan memanjat untuk menguji dahan pohon dan berayun kesana-kemari sambil menentukan target penjatuhan diri. Setelah terkunci, ini saatnya untuk suara ‘bruk!’ ‘bruk!’ yang diulang lagi.

“Arto nampak asik bermain sendiri, tapi tiba-tiba dalam waktu cepat sudah menghantam dan kabur lagi. Babysitter Janet menjadi salah satu targetnya”, ujar Nurazizah yang juga menjadi babysitter di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Lain halnya pada babysitter Rara yang menggunakan hijab, Arto kerap menarik dan ikut masuk menutupi kepalanya. Beberapa kali babysitter menegur anak aktif satu ini, namun tingkah usil Arto tidak pernah ada habisnya. (RAR)