BORNEO KU BERPIJAK

Perjalanan pertama ke pulau Kalimantan atau Borneo adalah sebuah pengalaman yang mungkin paling berkesan dari perjalanan-perjalanan berpetualang lainnya. Jumat 18 Juni 2016 saya berkesempatan tuk singgah di pulau nan kaya akan hasil hutannya yang sangat berlimpah, khususnya Kalimantan Timur. Tepatnya di Pusat Perlidungan Orangutan COP Borneo di KHDTK Labanan, Kabupaten Berau – Kalimantan Timur. Setelah kegiatan COP School di bulan Mei 2016 kemarin, selama lima hari di Yogyakarta yang menjadi daerah pusat COP School dan selebihnya selama satu bulan masih menetap di Jogja. Saya memang berniat untuk menjadi Volunteer dan berbekal materi yang diberikan sewaktu COP School mengenai konservasi Orangutan dan satwa liar serta konflik lapangan yang terjadi, pengalaman di sinilah yang menjadi pembelajaran sebenarnya, karena langsung bersentuhan dengan kegiatan yang hanya disampaikan pada saat COP School saja. Keberangkatan saya ditemani dengan seorang rekan bernama Vian asal Yogyakarta. Setiba di Berau, kami dijemput siswa COP School Batch #6 yang tingel di Berau. COP School menjadikan kami punya keluarga dimana-mana.

Minggu pagi 19 Juni 2016, pukul 05.30 WITA terdengar hembusan angin dan suara kicauan burung yang saling bersautan dengan berbagai suara-suara yang sangat indah serta matahari yang masih belum menampakkan sinarnya hanya bias cahaya yang terselip dari tingginya rerimbunan pohon yang di sekitaran camp.

Setelah kesibukan pagi membereskan camp sekitar 08.00 WITA kami sempatkan untuk berbincang sejenak untuk pembagian kinerja dalam aktivitas di COP Borneo. Saya mendapatkan tugas sebagai teknisi yang menjalankan pembuatan enrichment, kebersihan kandang 1 dan 2, jadwal disinfestasi kandang, kebersihan klinik dan gudang pakan, serta beberapa kinerja lainnya di area COP Borneo. Vian mendapatkan pembagian kinerja sebagai keeper yang bertugas untuk membawa Orangutan ke Sekolah Hutan dan menyiapkan susu serta pakan Orangutan.

Seperti kata keeper Jeuri dan Rosel, orangutan Michelle dan Pingpong lebih agresif bila ada orang baru yang datang, lain halnya dengan orangutan Uci. Beda lagi dengan Owi, bayi yang masih berumur sekitar satu tahunan, ingin selalu dipeluk. Aku menjadi ibu untuknya. (PETz)

SLOW LORIS GIPSY GAVE UP

KUKANG GYPSI TIDAK DAPAT BERTAHAN

“Dia datang dalam keadaan kurus dan kaki sebelah kanan belakang terluka serta telapak kanan yang tidak dapat digerakkan lagi.”, jelas Paulinus Kristanto, manajer COP Borneo. BKSDA Seksi I Berau menitipkan Kukang tersebut untuk dirawat di klinik COP Borneo pada 25 Juni yang lalu.

Kukang yang memiliki kebiasaan hidup aktif di malam hari atau sering disebut juga satwa nocturnal. Salah satu satwa yang memiiki tingkat stres tinggi. Seperti kukang Gypsi yang masuk ke klinik COP Borneo ini. drh. Ade Fitria memberikan antibiotik dan anti nyeri, namun Gypsi masih juga menjilati lukanya, sekalipun dia makan dan minum yang banyak.

Gypsi sempat menjalani amputasi pergelangan kaki kanannya. Namun, Gypsi colapse pasca operasi. Sungguh disayangkan, kita terpaksa kehilangan satu satwa yang tidak mudah dijumpai lagi. Berhentilah berkeinginan untuk memelihara satwa liar. Kukang Gypsi adalah salah satu korban perdagangan satwa liar.

“He was very skinny and there was wound on his right foot when he came, and his right hand could not move.” Paulinus Kristanto, the Manager of COP Borneo explained. BKSD Seksi I Berau has handed over the slow loris to be nursed in the clinic of COP Borneo on June, 25.

Slow loris is active in the night, or normally called nocturnal animal. It is one of the animals that have a high stress level, just like this Gipsy.  Even though Vet Ade Fitria has given him antibiotic and pain killer and Gypsi has eaten well, but he kept licking the wound.

Gypsi’s right foot was then amputated, but he collapsed after the surgery. Unfortunately, we had to let go this very rare animal. Please stop your desire to own and keep wildlife. This slow loris Gypsi is one of the victim of wildlife trafficking.

ENRICHMENT KUPATAN

The point is, Enrichment makes them busy, think, learn, and find out how to enjoy their food, especially for orangutans in enclosure or cage. A simple way with a little creativity and media can enrich the variation to serve the food.
There is always Ketupat in Idul Fitri. It is a tradition. Ketupat filled with fruit slices, jam and honey could be a uniqe enrichment. From this enrichment orngutans can learn about problem solving, natural behavior, it can also stimulate their sense of smell and better their phisical creativity to enjoy various kind of foods inside the Ketupay and the fruit slices of Ketupat Ramadhan edition.
‪#‎enrichment‬
Intinya, Enrichment itu membuat mereka sibuk, berpikir, belajar dan mencari cara bagaimana menyantap hidangan, khususnya Orangutan yang berada dalam enclosure atau kandang. Cara-cara sederhana dengan sedikit kreativitas memperkaya variasi penyajian dan media yang dipakai untuk makanannya.
Tradisi Ramadhan pada saat Idul Fitri tak lepas dari ketupat lebaran. Enrichment berbentuk ketupat menjadi hal yang unik, tenta såja isinya potongan buah-buahan, selai dan madu. Selain bertujuan agar tidak jenuh, Enrichment ini juga memberikan problem solving, prilaku alamiah, merangsang indra penciuman dan melatih kerativitas fisik dalam menyantap berbagai jenis makanan yang ada dalam Enrichment ketupat dan menikmati potongan buah-buahan edisi ketupat Ramadhan.
Selamat Kupatan…