MEMBERSIHKAN CAMP LEJAK

Dua bulan sudah camp Lejak ditinggalkan. Tim APE Guardian pada pertengahan bulan Juni yang lalu memperbaiki camp yang sudah lama tidak digunakan itu. Hari-hari camp Lejak akan digunakan secara aktif lagi, semakin dekat. Orangutan Oki yang telah melalui masa rehabilitasi di COP Borneo akan dilepaskan kembali ke hutan pertengahan bulan September nanti. Camp Lejak akan jadi rumah bagi relawan COP yang akan memantau perkembangan Oki di alam.

Pagi ini diawali dengan menyapu dan mengepel lantai lalu membersihkan sarang laba-laba dan mengelap beberapa perabotan dari debu. Rumput-rumput di depan camp juga dirapikan. Daun-daun kering yang berserakan juga tak luput dirapikan dan pembersihan ekstra akibat kotoran kelelawar juga dilakukan. Instalasi air dan listrik pun diperbaiki.

Usai bersih-bersih… saatnya menata dapur dan ruang tidur. Tak lupa juga bagian yang paling seru. Masak dan makan. Masak bersama dan makan bersama dari ikan yang dipancing di sungai. Pasti segarnya dan menyenangkan. Enaknya bekerja di dunia konservasi. Pastinya kita akan semakin dekat dengan alam. Apalagi bekerja di Centre for Orangutan Protection.

Menjadi relawan di COP aja sudah menjadi keasikan sendiri. Seperti Hedi yang memperpanjang masa menjadi relawan di COP Borneo. Daya tarik orangutan apalagi bayi orangutan memang menghanyutkan. Tapi beban kerja juga tidak sedikit. Yang pasti kesempatan dan pengalaman menjadi relawan di COP tidak akan terlupakan. Yuk gabung jadi orangufriends. Orangufriends adalah kelompok para pendukungnya COP.

COULD CHINESE ALSI HELP THE CRYING ORANGUTANS IN INDONESIA? (CHINESE VOLUNTEERS 1)

“It is our Indonesian’s orangutans, why are we always seeing white people doing protection?,” says Reza, leader of APE Defender of COP, with his eyes glittering, ‘Why do we Indonesians, we yellow race, rarely take part in protecting Orangutans, Sapiens of our forests?’ His words indeed impressed me and made me ponder whether there are roles for us Chinese people as well that we should take.

Decades ago, Kalimantan Island had a forest coverage rate of eighty percent. However, in the middle of the 1980s, forest area in Kalimantan extensively decreased twenty-five percent and it kept the annual decreasing area of 1.3 billion hectares. This means orangutans’ living habitat was disappearing at the same speed and most of the destroyed area had been used for planting palm trees. Because of covering of palm oil plantation, orangutans lose their major resource of food. Sometimes they are so hungry that they come into palm tree forests and eat small palm trees, their only food coming. As a result, palm oil companies called orangutans as ‘pests’ and found excuses to brutally kill them.

Till 2016, the number of orangutans has decreased around sixty percent. Under this situation, Hardi, once worked as an assistant to Lone Droscher Nielsen at the Nyarumenteng Orangutan Reintroduction Centre/ BOSF (Borneo Orangutan Survive Foundation), set up COP (Center of Orangutan Protection) to fight directly with palm oil plantation companies and save orangutans. Despise the risk of being arrested, COP members enter palm oil plantation to collect evidences of orangutans being killed. In this way, those palm oil companies will have no chance to sell their palm oil because they cannot get permits from RSPO (Roundtable of Sustainable Palm Oil). Also, COP members visit schools, organize exhibitions, and hold concerts to attract more people to pay attention to orangutans. Their advocates are an essential part of orangutan protection.

As a member of the first Chinese volunteer groups to visit COP Borneo in August 2017, we stayed there for a week. We studied orangutans’ situation, made activity space for baby orangutans, prepared food for orangutans in island, and observed orangutans’ daily. (Zi Chen, Jiawei Yang_Orangufriends)

TUMBUH KEMBANG BAYI ORANGUTAN COP BORNEO

Siang ini, para animal keeper disibukkan oleh bayi-bayi orangutan di klinik COP Borneo. Posyandu… Posyandu… begitu kalau di desa. Pastikan membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Bayi akan diperiksa kesehatannya. Bagaimana tumbuh kembangnya. Berat badannya bertambah atau tidak, tingginya tetap atau tidak. Pola makan anak juga akan dievaluasi. Ya… hari ini adalah jawal pengecekkan tumbuh kembang bayi orangutan penghuni pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kurang lebih, hampir sama dengan aktivitas di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) seperti yang kita kenal.

Pendataan fisik terjadwal ini dengan keempat bayi orangutan. Popi, Happi, Owi dan Bonti siap untuk dievaluasi. Pengukuran data fisik orangutan biasanya dilakukan ketika orangutan pertama kali masuk ataupun keluar dari pusat rehabilitasi dan juga saat translokasi ataupun kebutuhan yang lain, demikian penjelasan drh. Ryan Winardi pada animal keeper.

Ini adalah pengalaman pertama Herlina dan juga Steven mengikuti pengukuran data fisik orangutan. Mereka berdua adalah animal keeper yang baru di COP Borneo. “Sangat menyenangkan, tapi… agak takut saat harus membuka mulut orangutan Happi untuk menghitung jumlah giginya.”, ujar Herlina, animal keeper yang baru bergabung sejak Juli 2017 yang lalu.

Gimana ngak takut, giginya lebih besar dari bayi manusia. Apala lagi mereka sering mendengar cerita animal keeper terdahulu yang selalu jadi sasaran gigitan bayi-bayi orangutan. “Gigitan bayi manusia aja sakit… apalagi bayi orangutan!”, ujar drh. Ryan sambil tersenyum.

Tidak seperti biasanya, bayi-bayi orangutan kali ini memberontak dan agak liar. Bahkan Popi yang biasanya diam saat di sekolah hutan, saat pendataan membutuhkan 3 orang perawat untuk menahannya. “Hari ini, kita butuh energi ekstra rupanya.”, ujar drh. Ryan. (WET)