MELIHAT ORANGUTAN DI HUTAN

Hari itu menjadi hari pertama saya mengikuti program sekolah hutan. Sekolah hutan merupakan program untuk orangutan-orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) untuk melatih orangutan mengeksplorasi dan beradaptasi di hutan. Banyaknya kasus kejahatan terhadap orangutan yang umumnya orangutan berakhir dalam kurungan sebagai peliharaan membuat banyak orangutan kehilangan insting dan perilaku alaminya, sehingga adanya sekolah hutan penting bagi kemampuan bertahan hidup orangutan rehabilitasi ketika dilepasliarkan nanti.

Pada pagi itu, saya bersama Amir dan Linau membawa tiga individu orangutan untuk menjalani sekolah hutan. Ketiga orangutan tersebut yaitu Popi, Jojo dan Mary. Setelah mengeluarkan mereka bertiga dari kandang, kami membawa mereka masuk hutan lebih dalam, ke tempat biasanya sekolah hutan dilaksanakan. Selama lebih dari dua jam, ketiga orangutan tersebut dibiarkan untuk mengeksplorasi dan beradaptasi dengan kondisi alam liar. Di sana mereka berlatih dan bermain, memanjat pohon hingga mencari pakan-pakan alami yang tersedia di hutan.

Kepuasan batin yang mendalam saya rasakan ketika pertama kali melihat orangutan di habitatnya secara langsung dalam kemegahan hutan Kalimantan. Bukan dalam kurungan kandang kebun binatang ataupun eksploitasi satwa berkedok edukasi dan hiburan. Karena orangutan seharusnya hidup bebas di hutan. (RAF)

HAPPI BOCAH CERDAS

Mulai berumur enam tahun, bocah kecil biasanya berkembang dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa, tidak terkecuali orangutan bernama Happi. Dia hidup satu kandang dengan tiga individu orangutan yang lebih besar darinya dan Happi tahu bagaimana menghadapi ketiganya. Kumpulan rambut berwarna cokelat muda yang terletak di belakang punggungnya sering kujadikan pertanda bahwa ia adalah Happi. Terkadang aku tidak menyadari bentuk postur tubuhnya yang mungil itu, sekilas ada kemiripan bentuk postur tubuh dengan Owi.

Secara tak sengaja, Happi sering menjadi obyek pengamatanku saat di sekolah hutan. Postur tubuh proposionalnya dan kecerdasan motorik Happi menjadikannya harapan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Happi memiliki kecerdasan dalam pengamatan dan adaptasi lokasi yang baru, setiap kali sekolah hutan, ia mampu menjelajahi daerah baru yang belum pernah ia singgahi. Ia selalu mengamati sekitar, apa yang bisa ia makan atau manfaatkan. Hingga pada suatu ketika, aku melihat Happi sedang minum air dari kubangan yang terdapat di batang pohon yang patah. Sesekali ia mematahkan daun muda untuk dijadikan cemilan perjalanannya mengelilingi lokasi sekolah hutan.

Perilaku yang sangat unik juga dapat dilihat dari Happi. Ketika ia mendapatkan teman baru seperti orangutan yang baru pertama kali mengikuti sekolah hutan, ia tidak pernah melakukan perbuatan kasar. Orangutan Aman misalnya yang selalu diajak Happi untuk bermain bersama dan belajar bagaimana bisa menggantung dan berayun di ranting pohon. Orangutan Kola juga mendapatkan perlakukan yang baik dari Happi. Happi jarang melakukan tindakan agresif ke manusia, namun bukan berarti ia dekat dengan perawat satwa, hanya saja ia sangat paham akan maksud keberadaan perawat satwa dan biasanya ia menjauh dari manusia ketika tidak ada maksud penting untuknya. (BAL)

APE DEFENDER BERSAMA B2P2EHD PATROLI DI LABANAN

Keberadaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus atau disingkat KHDTK berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.15/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2018 adalah kawasan hutan yang secara khusus ditujukan untuk kepentingan umum seperti penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan serta religi dan budaya. KHDTK Labanan yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur berada dalam pengelolaan B2P2EHD (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa).

Pentingnya keberadaan KHDTK Labanan meliputi hutan penelitian yang juga merupakan habitat dari satwa-satwa liar dan satwa dilindungi. B2P2EHD bersama tim APE Defender COP memutuskan patroli di lokasi yang kemungkinan ada resiko-resiko berdampak buruk pada kawasan ini. Patroli dilakukan secara berkala setiap bulannya dengan menyusuri hutan dan melakukan monitoring. “Tanpa adanya patroli, tentunya resiko-resiko yang dapat mengakibatkan berkurang atau hilangnya spesies tertentu akan semakin besar dan sulit dikendalikan. Kami berharap patroli bisa meminimalisir kerugian tersebut”, kata Widi Nursanti, kapten APE Defender COP di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). BORA adalah pusat rehabilitasi orangutan yang berada di KHDTK Labanan sejak 2015 yang lalu. “Hampir setiap tahun di saat musim kemarau panjang membuat tim was-was pada kebakaran hutan. Semoga patroli berkala bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk sejak dini”, tambah Widi lagi.

Centre for Orangutan Protection akan terus mendukung patroli agar KHDTK Labanan terus terjaga kelestariannya dan dapat dengan maksimal berperan sesuai fungsinya sebagai hutan penelitian dan pengembangan pendidikan. (LIA)