COP SUMATRA RAMAIKAN HKAN DI PADANG SIDEMPUAN, SUMUT

Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap 10 Agustus menjadi
momentum penting untuk menyuarakan semangat pelestarian alam. Dalam rangkaian “Road
to HKAN 2025”, tim COP Sumatra bersama BBKSDA Sumatera Utara menggelar kegiatan
edukatif di Kota Padang Sidempuan pada 3 Agustus 2025. Tim APE Sentinel dan APE
Patriot hadir lengkap dengan kostum orangutan, alat peraga edukasi, dan merchandise
seperti kaos anak-anak, untuk mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih
peduli terhadap orangutan dan hutan sebagai rumah mereka.

Berlokasi di Alaman Bolak Nadimpu, kegiatan dibuka dengan senam sehat massal yang
langsung memanaskan suasana. Stan COP pun mulai ramai disambangi warga, apalagi
dengan kehadiran maskot orangutan yang berjalan santai di tengah kerumunan dan mencuri
perhatian banyak anak-anak. Dua relawan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah
Tapanuli Selatan, Nur dan Rini, turut memperkuat tim dengan menyampaikan pesan
konservasi melalui diskusi ringan dan pengenalan program-program COP di Sumatera Utara
dan Kalimantan Timur. Bagi mereka, ini adalah pengalaman baru yang seru dan penuh
makna dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat, menyampaikan pentingnya
menjaga hutan, serta mengenalkan keberadaan orangutan Tapanuli yang menjadi spesies
langka kebanggaan daerah mereka sendiri.

Anak-anak menjadi pusat keceriaan hari itu, antusias berfoto dengan maskot orangutan,
hingga dibelikan kaos oleh orang tua nya sebagai kenang-kenangan. Di tengah riuh doorprize
dan tawa pengunjung, obrolan tentang pentingnya menjaga hutan terus mengalir. Kegiatan
ditutup dengan penyerahan hadiah lomba puisi oleh perwakilan Pemerintah Kota Padang
Sidempuan, dan momen kebersamaan diabadikan lewat foto bersama panitia dan Kepala
Bidang III BBKSDA Sumatera utara. Sebuah langkah kecil, namun penuh makna dalam
membangun kesadaran bersama untuk masa depan orangutan.

Nah, kira-kira kejutan apa lagi ya yang akan hadir di rangkaian “Road to HKAN”
selanjutnya? Pantau terus informasinya dan jangan sampai ketinggalan untuk ikut
meramaikan!

KABAR CERIA DARI BABY HOUSE: PETUALANGAN KECIL PARA ORANGUTAN MUDA

Sabtu pagi di Baby House BORA kembali dipenuhi semangat belajar dari para orangutan muda yang sedang menapaki tahap awal kehidupan liar. Di bawah pengawasan penuh kasih dari babysitter Rara dan Fara, mereka menunjukkan perkembangan perilaku yang menjanjikan. Mulai dari eksplorasi, interaksi sosial, hingga kemampuan mencari makan sendiri.

Felix menjadi bintang hari ini. Ia mengikuti sesi sekolah hutan pagi sendirian dan menunjukkan jiwa eksplorasinya yang semakin kuat. Tanpa kehadiran orangutan lain yang lebih dominan ataupun stimulasi intensif dari babysitter, Felix mulai lebih percaya diri menjelajahi area hutan di barat daya karantina. Ia memanjat sendiri di pohon-pohon rendah, mencari makan dari pohon mati, daun, hingga buah kopi mentah. Meski sempat tampak cuek, suara dari animal keeper lain yang sedang memantau sekolah hutan membuatnya tertarik, ia langsung mengamati dan mendekati babysitter.

Sementara itu, di dalam kandang, Arto dan Harapi menunjukkan interaksi sosial yang erat. Mereka saling membersihkan diri dan makan bersama. Arto tampak banyak belajar dari Harapi, dari jenis daun yang bisa dimakan hingga mengamati proses makan daun langsung dari mulut Harapi. Momen ini menjadi cerminan proses belajar sosial yang sangat penting bagi orangutan muda.

Ochre mengisi waktunya dengan bermain ranting dan daun. Ia tertarik pada batang berlumut dan mencoba mengupas kulitnya perlahan, menunjukkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan enrichment berupa bola berisi potongan sayuran yang mendorong mereka untuk berpikir dan mencari solusi.

Siangnya, giliran Harapi yang mengikuti sesi sekolah hutan sendiri. Ia tampak senang mengunyah kulit kayu dan kambium, baik dari atas pohon maupun yang ia jatuhkan ke lantai hutan. Menariknya, kemampuan berpindah antar pohonya kini semakin baik. Ia bisa membedakan mana batang yang kuat, mana yang rapuh, menunjukkan kemajuan dalam penilaian risiko. Saat turun ke tanah pun, Harapi tak lagi meluncur sembarangan, melainkan memanjat turun dengan aman.

Di area kandang baby house, Arto yang biasanya rewel jika ditinggal Harapi, siang ini tampil lebih tenang. Di area playground baby house, Pansy dan Felix sibuk menjelajah dan mencari makan, sambil sesekali mengamati gerak-gerik babysitter. Pansy pun tampak nyaman dengan lingkungannya, bergerak aktif dan menjelajahi area sekitar dengan percaya diri.

Dari interaksi sosial yang hangat hingga keberanian menjelajah hutan, anak-anak orangutan penghuni baby house terus memperlihatkan kemajuan yang membanggakan. Setiap daun yang dicicipi dan setiap dahan yang dipanjat menjadi bagian dari proses panjang mereka menuju kehidupan liar yang mandiri. (RAF,FAR,RAR)

MARI MENUMBUHKAN KESADARAN LINGKUNGAN DI SMAN 1 SIGUNUNG

Aula SMA Negeri 1 Sigunung pagi itu dipenuhi oleh antusiasme 75 siswa dari kelas XII MIPA dan XI MIPA. Tim APE Sentinel bersama dengan tim SKW 1 Sidikalang tiba dengan semangat, disambut hangat oleh Ibu Tonggos Sihombing, guru pendamping yang penuh energi. “Tahukah kalian bahwa kita punya hutan yang jadi rumah bagi orangutan Sumatera, salah satunya di Suaka Margasatwa Siranggas?”, tanya Hafash, perwakilan SKW 1 Sidikalang. Para siswa mulai mengangguk, beberapa terlihat kagum. “Apa yang terjadi kalau habitat mereka hilang?”, tanyanya lagi. “Orangutan tak punya tempat tinggal, Kak!”, jawab salah satu siswa dengan lantang. “Betul sekali! Itu juga berdampak pada kita sebagai manusia”, jawab Hafsah sambil tersenyum.

Suasana semakin seru saat para siswa diajak bermain permainan “Pemburu dan Penebang”. Permainan ini menjadi refleksi nyata tentang kondisi hutan yang terganggu dan dampaknya terhadap satwa liar. Siswa aktif berpartisipasi, menjawab pertanyaan serta menjawab tebak-tebakan dengan antusias. Salah satu momen menarik adalah cerita seorang siswa yang pernah melihat orangutan singgah di kebun keluarganya tanpa merusak tanaman.Pengalaman ini menjadi titik diskusi yang menggugah pemahaman tentang pentingnya hidup berdampingan dengan satwa liar. Semangat dan rasa ingin tahu siswa menciptakan suasana diskusi yang penuh makna.

Di akhir kegiatan, para siswa membuat tanda tangan dan cap jari di atas kertas besar sebagai simbol komitmen mereka mendukung konservasi orangutan. “Karya ini akan kami pajang di mading sekolah agar semua orang tahu bahwa kita peduli”, ujar Ibu Sihombing dengan bangga. Dengan semangat yang tertinggal di SMAN Sigunung, Tim APE Sentinel yakin bahwa generasi muda Pakpak Bharat akan menjadi penjaga alam yang berani dan penuh tanggung jawab.