THERE ARE ORANGUTANS IN INDOCOMTECH 2018

This was the first time for Center for Orangutan Protection to participate at the electronic exhibition, Indocomtech at the Jakarta Convention Center, Senayan Jakarta. It all began with the unexpected invitation from the committee which turned out to be an extraordinary excitement. October 31 to November 4, starting at 9:00 a.m. to 10:00 a.m. Who else made it hillarious … yes Orangufriends, a support group for the Center for Orangutan Protection. Not only in Jakarta, Novi (Orangufriends Padang) also took time to stop after becoming an Animals Warrior volunteer in the tsunami earthquake in Palu, Central Sulawesi.

Only at the COP booth those who wanted to take pictures with orangutans are allowed. There were even 4 orangutans that could accompany you with your best style. There were also prizes for those who then upload to social media by tagging @orangutan_cop on Instagram. It was exciting! Of course, these orangutan dolls will stay silent, they won’t bite you or transmit their disease to you.

Do you still remember the campaign Orangutan is not a toy right? Yes, we share the same DNA with orangutans at 97%. If you have the flu, of course the orangutan can catch it from you so he becomes a cold. What if the opposite? Yes, if the orangutan is exposed to hepatitis, you can also get hepatitis from him. Say no photos with orangutans! Except for stuffed orangutans at the Indocomtech COP booth. (EBO)

ADA ORANGUTAN DI INDOCOMTECH 2018
Ini adalah keikutsertaan Centre for Orangutan Protection yang pertama kali di acara pameran elektronik, Indocomtech di Jakarta Convention Center, Senayan Jakarta. Ini juga karena undangan dari panitia yang tak disangka ternyata menjadi keseruan luar biasa. 31 Oktober hingga 4 November mulai dari jam 09.00 pagi hingga 10.00 malam. Siapa lagi yang bikin ramai… ya orangufriends, kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection. Tidak hanya yang di Jakarta loh, Novi (Orangufriends Padang) juga menyempatkan diri mampir usai menjadi relawan Animals Warrior di gempa tsunami Palu, Sulawesi Tengah.

Hanya di booth nya COP loh, untuk kamu yang ingin berfoto bersama dengan orangutan diperbolehkan. Bahkan ada 4 orangutan yang bisa menemani kamu dengan gaya terbaikmu. Ada hadiahnya juga untuk kamu yang lalu mengunggah ke media sosialmu dengan mencolek @orangutan_cop di instagram. Seru kan! Tentu saja, boneka orangutan ini akan diam saja, tidak akan mengigit kamu ataupun menularkan penyakit ke kamu.

Masih ingat kampanye Orangutan Bukan Mainan kan? Ya, kita berbagi DNA yang sama dengan orangutan sebesar 97%. Jika kamu flu, tentu saja orangutan bisa tertular dari kamu sehingga dia menjadi flu. Bagaimana jika sebaliknya? Ya, jika orangutan tersebut terkena hepatitis, kamu pun bisa tertular hepatitis darinya. Katakan tidak foto dengan orangutan ya! Kecuali boneka orangutan di booth COP Indocomtech.

RELEASING NOVI AND LECI IN THIS NOVEMBER

There was no dramatic moment when the former rehab orangutans of COP Borneo were released. No orangutan hugged his nurse to say goodbye. Nor does anyone come down to give a flower as orangutans do to conservation experts. Everything was fast and spontaneously. When we release orangutans from the cage, there are only two possibilities: Jump and climb trees as high as possible and then disappear or attack people.

November 3rd is a thrilling day for the Center for Orangutan Protection family. This was our second orangutan release after a year earlier. In 2017, we released orangutan from the zoo, named Oki. Oki managed to make an achievement as an orangutan who used to live behind bars and could go back wild. Now, Novi and Leci also get their chance to return to their habitat.

Novi, previously kept under a house with chains around his neck. In April 2015, Novi was rescued from Kongbeng, East Kalimantan. His body was so small because of lack of nutrition, as he did not eat proper food for orangutans. At that time, Novi made friends with dogs.

While Leci is a wild agile orangutan who lost his mother in the middle of a field. How were Novi and Leci when their cage doors were lifted? (IND)

MELEPAS NOVI DAN LECI DI AWAL NOVEMBER
Tidak ada momen yang dramatis pada saat orangutan mantan pusat rehabilitasi COP Borneo dilepasliarkan. Tidak ada orangutan yang memeluk perawatnya untuk berpamitan. Pun tidak ada yang turun memberikan sekuntum bunga seperti yang dilakukan orangutan ke para pakar konservasi. Semuanya akan berlangsung cepat dan waspada. Orangutan yang dilepaskan dari kandang, kemungkinannya hanya dua. Langsung melompat dan memanjat pohon setinggi mungkin dan lalu menghilang atau menyerang orang – orang.

3 November menjadi hari yang mendebarkan keluarga Centre for Orangutan Protection. Walaupun ini adalah pelepasliaran orangutan kedua setelah setahun sebelumnya, orangutan mantan dari kebun binatang berhasil dilepasliarkan. Orangutan Oki namanya. Oki berhasil mengukir prestasi sebagai orangutan yang terbiasa tinggal dibalik jeruji besi dan bisa kembali liar. Kini, orangutan Novi dan Leci mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya.

Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu mengalungi lehernya hingga meninggalkan bekas akan mendapatkan kebebasannya. April 2015, Novi diselamatkan dari Kongbeng, Kalimantan Timur. Tubuhnya kecil karena kurang gizi, dia dipelihara dengan makan makanan yang bukan makanannya. Saat itu, Novi bertemankan anjing.

Sementara Leci, adalah orangutan lincah nan liar yang kehilangan induknya di tengah ladang buah. Bagaimana Novi dan Leci saat pintu kandang diangkat?

PLEASE HELP US BUYING A KETINTING MACHINE

Orangutans on the island are those who ready to be released. They are learning to live independently without human intervention. But the limitations of natural food on the island makes the team in monitoring post need to send food every morning and evening. The monitoring team is there to keep observing on the existence and development of orangutans on the pre-release island.

Routine patrols are carried out using a motorized boat or often called ketinting. Unfortunately, the ‘way back home’ boat continues to have leaks. Maybe because of the boat age and relentless use to send food and to patrol. “It’s time to buy a new one. But the team is still trying to patch it because the price of the boat is quite expensive,” said Danel, assistant logistics officer for the COP Borneo Rehabilitation Center.

Not only the boat is broken but also the boat machine. The monitoring team is not losing their minds. They were tinkering the machine. Two machines from different years, manufactured in 2015 and 2017, are transformed into one usable machine. “It’s a pleasure, the two broken machines can produce one machine that can deliver orangutan food to the pre-release island,” said Danel again.

But sadly, a month later, the machine has a problem again. This time the piston ring is replaced. If the ketinting machine really can’t be used like before, the team was forced to rent a machine to the local residents. Of course, this will inhibit our team activity. Please help the COP Borneo Rehabilitation Center to buy a new ketinting machine. Donations can be sent to https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Thank you. (IND)

BELIKAN MESIN KETINTING DONK!
Orangutan yang berada di pulau adalah orangutan yang siap dilepasliarkan. Mereka adalah orangutan-orangutan yang sedang belajar mandiri tanpa ikut campur tangan manusia. Tapi keterbatasan pakan alami yang berada di pulau, menjadwalkan tim Pos Pantau untuk mengirim makanan pada pagi dan sore hari. Ini dilakukan untuk terus mengawasi keberadaan dan perkembangan orangutan yang berada di pulau pra-rilis.

Patroli berkala dalam satu hari dilakukan dengan menggunakan perahu bermesin atau sering juga disebut ketinting. Tapi sayang, perahu ‘way back home’ terus menerus mengalami kebocoran. Mungkin karena usia dan penggunaan tanpa henti untuk kirim pakan dan patroli. “Sudah satnya beli yang baru. Tapi tim masih berusaha menambalnya, karena harga perahu yang cukup mahal.”, ujar Danel, asisten Logistik pusat rehabilitasi COP Borneo.

Tak hanya perahu/ketinting yang mengalami kerusakan. Mesin yang menggerakkan perahu pun kembali rusak. Tim pos pantau tak kehilangan akal. Utak-atik mesin dilakukan. Dua mesin dari berbeda tahun yaitu pembelian mesin 2015 dan mesin tahun 2017 disulap menjadi satu mesin yang bisa digunakan. “Senang sekali, kedua mesin rusak bisa menghasilkan satu mesin yang bisa mengantarkan pakan orangutan ke pulau pra rilis orangutan.”, ujar Danel lagi.

Tapi apa daya, sebulan kemudian, mesin pun kembali bermasalah. Kali ini ring pistonnya yang diganti. Jika mesin ketinting benar-benar tidak bisa digunakan seperti kemarin, tim terpaksa menyewa mesin ke warga. Tentu saja ini sangat menghambat aktivitas. Bantu pusat rehabilitasi COP Borneo beli mesin ketinting yang baru yuk. Donasi bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Terimakasih…