SAAT CHARLOTTE MENOLONG ANIMAL KEEPERNYA

Pernah kepikiran jadi animal keeper? Atau tau ga sih animal keeper itu apa? Pasti pernah menonton video-video pendek tentang “orang yang merawat” Panda di kebun binatang Cina kan? Menggemaskan bukan? Melihat dan langsung berinteraksi dengan hewan-hewan seperti itu. Nah itulah Animal Keeper atau bisa disebut perawat satwa. Inilah aku, seorang Animal Keeper, tapi… mari kita ubah mindset mau menjadi animal keeper karena hewannya menggemaskan, mau pegang-pegang hewan, enak yah bekerja bersama hewan bisa main dengan mereka terus. Kata-kata tersebut banyak sekali kudengar dari orang-orang entah dari komentar di postingan video atau dari temanku sendiri yang tahu aku bekerja sebagai animal keeper. Well, I would say it’s not false to have opinion like that, maybe that would be another privilege that we have as animal keepers.

Mari kita luruskan lagi pemikiran seperti itu dengan pengalamanku sebagai salah satu perawat satwa di tempat rehabilitasi orangutan. Bekerja sebagai animal keeper orangutan menjadi pengalaman pertamaku melihat dan berinteraksi langsung dengan orangutan itu sendiri, yang mana dulu hanya bisa lihat dari jauh dibalik jeruji kandang mereka di kebun binatang. Dimulai dari diperkenalkannya orangutan yang masih bayi hingga yang jantan dewasa gede sekali. Jujur awal bertemu orangutan besar itu bikin deg-deg an sendiri, lebih ke rasa takut kalau orangutannya agresif dan tiba-tiba menyerang gimana yah? Tapi kami diajarkan untuk bisa mengontrol rasa takut kami karena orangutan bisa merasakannya juga loh. Walau begitu kami juga diajarkan untuk selalu was-was dengan pergerakan mereka.

Berada di site hutan? Seru dong, apalagi dengan adanya program sekolah hutan untuk orangutan yang berada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ini, jadi semakin bisa melihat tingkah-tingkah mereka, semakin mengenal perilaku per individu. Setiap keeper juga memiliki orangutan favorit di hati. Sebagai keeper, kita selalu bersama orangutan, menjadi lebih peka dengan perubahan perilaku maupun perkembangan orangutan. Inilah salah satu peran penting seorang keeper di luar kerjaan rutin kami dalam menjaga kebersihan serta memberikan makanan harian. Berinteraksi langsung, mengamati entah dari jarak jauh maupun dekat sekalipun, secara tidak langsung orangutan pun juga menunjukkan perilaku mereka dengan sendirinya, sehingga kami para keeper pun dengan terbiasa dapat mengatasi maupun mengerti beberapa sikap orangutan.

Contoh kecilnya adalah pertama kalinya aku bertemu dengan orangutan Charlotte. Charlotte itu paling tidak suka dengan orang baru, jika dia melihat orang baru maka perkenalan pertamanya ialah dengan menarik maupun tidak jarang memukul atau pun melempar batang kayu dedaunan yang berada di kandangnya. Aku baru di kandang sosialisasi dan bertemu dengan Lotte (begitu panggilannya) yang tak luput oleh perkenalan awal bersamanya, sehingga benar-benar membuatku menjauh darinya atau lebih tepatnya tidak mau berurusan dengannya. Hingga suatu hari, aku membawa Popi untuk sekolah hutan, Charlotte pun dikeluarkan untuk sekolah hutan juga. Tak lama setelah melakukan sekolah hutan, aku mengamati tingkah orangutan Popi yang gelisah dan mendekati keeper, padahal awalnya dia sangat aktif travelling dan mencari makan, ada apakah gerangan? Popi segera meminta untuk digendong dan pergi dari tempat terakhir kami sekolah hutan, tak lama kemudian Linau (keeper BORA) mendatangiku dan memintaku untuk membawa orangutan Jainul untuk pulang duluan ke kandang karena harus memanggil orangutan Mery yang belum mau turun. Kenapa semua begitu panik dan ingin cepat pulang?

Yahhh… kami diserbu oleh lebah, karena itu sekolah hutan hari itu berakhir dengan cepat dan kami harus segera menyelamatkan diri besama orangutan, menjauh dari tempat itu sesegera mungkin. Dengan membawa dua orangutan aku sesegera mungkin berjalan cepat meninggalkan lokasi sekolah hutan. Namun seketika ada yang memegang tanganku dari belakang. (Ingat ini di hutan, tidak ada kisah romantis). Ya itu adalah Charlotte. Charlotte berlari ke arahku dan meraih tanganku dan menarikku lari… Hahahaha, iya aku yang ditarik orangutan lari, bukan aku yang menarik orangutan untuk lari menyelamatkan diri. Entah rasanya lucu jika mengingat awalnya Charlotte paling tidak suka aku pegang dan dekati selama ini di kandang, namun dia yang datang pertama kali dan mengajakku untuk kabur dari serangan lebah itu. Semenjak dari peristiwa itu, hubunganku dengan Charlotte membaik, dia sudah mau kupegang dan tidak mengganggu selama di kandang sosialisasi, bahkan dia sudah mau kubawa saat sekolah hutan.

Ini hanyalah salah satu pengalamanku saat menjadi orangutan keeper, sungguh menyenangkan melihat dan belajar mengenai tingkah mereka, sedikit demi sedikit kita juga semakin dekat dengan mereka sehingga mereka akan menunjukkan perilaku yang tidak mereka perlihatkan ke semua orang. (SAR)

EDUKASI SERU TENTANG ORANGUTAN DI SDIT PLUS AZ-ZAHRA

“Kak, orangutan itu beneran pintar kayak manusia?”, tanya seorang anak perempuan kelas 5 sambil mengangkat tangan dengan semangat. “Iya, betul sekali!” Jawab Medi dengan senyum. “Orangutan punya kecerdasan luar biasa. Mereka bisa pakai alat sederhana, seperti daun untuk melindungi kepala dari hujan, atau ranting untuk mengambil buah”. Anak-anak di aula langsung bersorak kagum, seakan membayangkan orangutan membawa payung daun di tengah hutan.

Pagi itu, aula SDIT Plus Az-Zahra dipenuhi keceriaan. Sebanyak 220 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 duduk rapi, siap mendengarkan cerita dari tim APE Sentinel bersama Orangufriends Medan yaitu Medi dan Aulia. Dengan gaya bercerita yang seru, Medi mengenalkan kehidupan orangutan, satwa liar yang menjadi ikon penting hutan Indonesia. “Kalau kalian lihat orangutan di alam, apa yang harus kalian lakukan?”, tanya Medi sambil menatap para siswa. “Jangan ganggu! Jangan kasih makan!”, seru dorang anak laki-laki dari kelas 3. “Betul! Hebat kamu!”, puji Aulia sambil memberikan jempol. “Kita harus jaga jarak dan biarkan mereka hidup bebas di habitatnya.”.

Setelah sesi bercerita, suasana semakin seru saat Medi memimpin permainan “Pemburu dan Penebang”. Anak-anak berlari kesana-kemari, berpura-pura menjadi pohon, satwa liar, atau pemburu. Terikan dan tawa memenuhi halaman sekolah. “Ayo, lindungi pohonmu! Jngan sampai ditebang!”. Tim memberikan semangat dan anak-anak berlomba-lomba menjaga ‘hutan’ kecil mereka dari pemburu dan penebang. Ketika permainan usai, seorang guru mendekati Medi dan Aulia. “Kegiatan ini luar biasa. Anak-anak jadi lebih paham pentingnya menjaga alam”, ujar beliau dengan penuh apresiasi.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama di halaman sekolah. Semua anak tersenyum lebar, beberapa mengangkat tangan sambil berteriak, “Lestarikan orangutan!”. Hari itu bukan hanya sekedar belajar, tetapi juga langkah kecil untuk menanamkan kesadaran konservasi kepada generasi muda dan menjadi momen penting untuk mengenalkan konservasi orangutan kepada masyarakat Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. (DIM)

DARI SI CENGENG JADI SI PEMBERANI

Arto adalah salah satu bayi orangutan yang berhasil diselamatkan dari masyarakat. Sekarang, si lucu Arto sudah berusia 1,7 tahun, usia yang cukup untuk memulai sekolah hutan. Dengan berat 5 kg, Arto sudah mampu bersaing merebut makanan di atas pohon bersama orangutan lainnya. Kemampuannya berkembang pesat, dari yang dulu suka menangis, kini Arto tumbuh menjadi pemberani. Dia sangat cepat memanjat, bahkan bisa mencapai ketinggian lebih dari 10 meter. Arto juga sangat menikmati berayun-ayun sambil bergulat dengan orangutan yang lebih besar darinya.

Arto termasuk bayi yang mandiri. Ukurannya yang masih mungil tidak menghalanginya untuk terus belajar hal-hal baru, baik di kandang maupun saat di sekolah hutan. Baru-baru ini, Arto terlihat berusaha mencari buah di atas pohon. Pernah suatu hari, saat keeper memberikan sarang rayap, dengan percaya diri dan kelucuannya, Arto mulai mengacak-acak sarang tersebut, mencoba menemukan rayap. Dia bahkan mencoba menghisap sarang itu hingga akhirnya berhasil menemukan rayap yang dicari. Meski awalnya sedikit takut melihat banyaknya rayap yang keluar, rasa takutnya perlahan berubah menjadi penasaran. Walaupun Arto tidak memakan rayap tersebut, keberaniannya patut diapresiasi.

Tingkah lucu lainnya adalah saat keeper harus berpura-pura lemah dihadapannya karena Arto, si bayi pemberani ini, mencoba menunjukkan sisi dominannya. Sepatu boot keeper menjadi sasaran empuk untuk digigit-gigit. Setelah puas dengan sepatu, Arto mulai menarik-narik wearpack keeper, seakan ingin menunjukkan bahwa dia sekarang sudah kuat dan berani. Tingkah laku ini membuat kepercayaan dirinya meningkat, seolah-olah dia ingin menjadi jantan dominan saat itu juga. Arto tidak hanya bersikap demikian kepada keeper, tetapi juga kepada sahabat sejatinya, Harapi. Saat Arto mencoba mengajak Harapi bergulat, Harapi hanya merespon dengan diam dan meletakkan kedua tangannya di depan, sementara Arto tetap gigih menarik-nariknya.

Kemampuan belajar adaptasi Arto terbilang sangat cepat. Harapan terbaik untuk Arto, yaitu agar semua yang dipelajari selama di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) dapat menjadi bekal berharga ketika suatu hari nanti dia sudah cukup besar untuk dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. Rasa gemas dan tawa tentu sudah menjadi hal biasa bagi para keeper yang berinteraksi langsung dengannya. Perubahan yang dialami Arto selama hampir setahun di BORA sangat jelas, dari yang dulunya tukang nangis, kini dia telah menjadi Arto si pemberani yang selalu bersemangat pergi ke sekolah hutan. (MUN)