PERKEMBANGAN ORANGUTAN MICHELLE DAN KOLA DARI SATU PULAU KE PULAU YANG LAIN

Sebelum dilepasliarkan ke habitatnya, orangutan harus dipastikan kesehatan dan kemampuan bertahan dirinya agar bisa beradaptasi di hutan. Seperti orangutan Michelle dan Kola yang begitu menarik diamati. Fhajrul Karim, Antropolog COP menceritakan kedua orangutan yang sudah dua kali masuk pulau pra-release ini. Pulau pertama yang dijajakinya yaitu pulau pra-release yang berada di sungai Bawaan, kampung Merasak, Berau. Selama orangutan Michelle dan Kola berada di sana memang kurang menunjukkan prilaku bertahan hidup sebagaimana di alam semestinya. Kedua orangutan ini cenderung dominan beraktivitas di tanah serta cukup malas mencari pakan alami yang tersedia di pulau. Kondisi sungai yang sering banjir akibat luasnya aktivitas pertambangan menyebabkan daratan pulau sering tenggelam. Kebiasaan keduanya yang banyak menghabiskan waktu di tanah dan tidak mau mencari makan tentu membahayakan keselamatan diri mereka kedepannya. Michelle dan Kola sempat dipulangkan kembali ke kandang karantina BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) untuk sementara waktu sebelum dipindahkan ke pulau pra-release baru di pulau Dalwood Wylie dan Lambeng, kecamatan Busang, Kutai Timur.

Perubahan prilaku bertahan hidup dan adaptasi kedua orangutan ini menunjukkan perkembangan yang signifikan.Orangutan Kola yang sebelumnya hanya rebahan tanpa ada upaya mencari makan, kini sudah mandiri menemukan pakan alaminya. Memakan pucuk daun dan buah hutan, seperti buah Besuk dan Ara menjadi makanan favoritnya. Beberapa kali prilaku adaptasi ini terpantau dari ujung seberang pulau. Rasa ingin Kola menjelajahi keseluruhan bagian pulau juga begitu tinggi. Tidak hanya itu saja, kemajuan juga diperlihatkannya dengan menghabiskan waktu di atas pohon sambil mengunyah daun kesukaannya.

Sedangkan kemajuan dari orangutan Michelle yaitu dirinya sudah terbiasa mencari buah hutan untuk mengisi perutnya yang kosong. Michelle suka memakan buah hutan seperti buah Ara, buah Asak, dan buah Besuk. Rasa ingin mencari pakan alami orangutan Michelle begitu tinggi. Hal ini terlihat pada saat ranger berupaya menghiraukan Michelle untuk tidak diberikan makan di saat buah hutan banyak di pulau. Secara mandiri Michelle pergi ke dalam pulau untuk menemukan buah hutannya sendiri. Kemajuan juga ditunjukan pada prilaku bersarang. Orangutan Michelle sudah mau membuat sarang untuk ditempatinya. Hal yang menarik lainnya dari Michelle, yaitu pada saat cuaca malam di hulu sungai menunjukkan akan turunnya hujan deras serta guntur, orangutan Michelle akan memilih pohon tertinggi dan besar dengan percabangan yang banyak sejak sore hari untuk ditempatinya. Insting alami mengenal cuaca ini sangat dikuasai oleh Michelle, sehingga pada saat hujan deras pun terjadi, Michelle merasa aman melanjutkan tidurnya. (JUN)

MENGENAL MABAS DAN SEMANGAT KONSERVASI DI TINADA

Sabtu pagi yang sejuk menyelimuti Tinada, Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Di sebuah ruang kelas sederhana SDN 030428 Tinada, anak-anak kelas 4, 5, dan 6 duduk denga penuh antusias menunggu kehadiran kami yang selama sepekan ini roadshow edukasi di sekitar lokasi pembangunan sekolah hutan untuk Orangutan Sumatra.

“Anak-anak tahu gak kita mau belajar apa hari ini?”, sapa Bukhori dari tim APE Sentinel COP yang biasanya berada di Medan dan fokus pada penggalangan dukungan publik dan pengembangan edukasi serta penyadartahuan tentang konservasi Orangutan. “Orangutan”, teriak seorang siswa sambil menunjuk boneka orangutan yang dipegang Bukhori. “Betul. Kenalkan, ini Mabas. Mabas adalah orangutan yang hidup di hutan kita. Ada yang tahu apa arti mabas dalam bahasa kita?”, tanya Bukhori. “Orangutan, kak”, jawab seorang anak dengan cepat. Boneka orangutan it langsung mencuri perhatian, bahkan anak-anak kelas 3 yang tidak termasuk dalam kegiatan hari itu mulai mengintip dari jendela. Melihat itu, Nabil tertawa dan mengajak, “Ayo, yang di jendela juga masuk saja. Tapi duduknya rapi ya”.

Orangutan dan perannya di hutan, seperti anak-anak yang punya peran di keluarga, sekolah, dan lingkungannya. Ketika Bukhori bertanya apakah ada yang pernah melihat orangutan secara langsung, seorang anak mengangkat tangan. “Kak, saya pernah melihat orangutan di ladang ayah saya. Tapi dia cuma duduk, gak ganggu”, jelasnya. “Orangutan memang biasanya hanya mencari makan. Mereka gak mau mengganggu manusia. Yuk kita bermain “pemburu dan Penebang”, ajak Bukhori. Melalui permainan ini, siswa diajak merasakan bagaimana rusaknya hutan akibat perburuan dan penebangan liar. Menariknya, seorang siswa kelas 5 dengan percaya diri mampu menjelaskan filosofi permainan tersebut dengan lugas. Tiba waktunya tim berpamitan, meninggalkan Tinada yang penuh semangat demi kehidupan satwa liar yang lebih baik. (DIM)

SEMANGAT KONSERVASI DI TENGAH RINTIK HUJAN UNTUK SD MUHAMMADIYAH 1 SIDIKALANG

Hanya di seberang jalan, tim APE Sentinel pun melanjutkan mengunjungi SD Muhammadiyah 1 Sidikalang. Meski ritik hujan terus membasahi kota, semangat tak pudar. Kali ini ada 50 siswa dari berbagai kelas dan enam orang guru pendamping menyambut tim edukasi Centre for Orangutan Protection dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Seksi Kerja Wilayah (SKW ) 1 Sidikalang. Sedikit berbeda, dengan bantuan boneka orangutan, Bukhori menyapa anak-anak yang sedang terpaku, “Ini siapa namanya?”, sambil menggerak-gerakkan boneka. “Orangutan!”, seru murid yang duduk di tengah-tengah. “Betul sekali! Orangutan adalah satwa yang sangat pintar dan juga penting untuk hutan kita”, timpal Bukhori, membuat semua anak mendekat, penasaran dengan kisah orangutan.

Bukhori pun mengajak seorang siswa maju ke depan untuk menggambarkan skema rantai makanan. Melalui diskusi inetaraktif, siswa dan guru mulai memahami bahwa satwa liar, termasuk orangutan memiliki peran tak tergantikan dalam menjaga keseimbangan alam. Anak-anak pun diajak untuk berhitung dan mulai berkelompok. Kali ini permainan seru antara kelompok satwa liar, pohon, pemburu, dan penebang membuat kegaduhan di ruangan. Mereka berlarian dengan penuh semangat, mensimulasikan kerusakan hutan akibat perburuan dan penebangan liar. Semakin ramai saat dua guru mereka pun ikut bergabung, berlari bersama siswa. “Lindungi pohonmu! Jangan biarkan ditebang!”, teriak salah satu siswa sambil melindungi teman-temannya yang menjadi pohon.

Gerimis pun mulai deras, seluruh siswa dan guru memberikan tanda dukungan pada konservasi orangutan di kertas putih. Tak lupa kami semua berfoto bersama di depan kelas dengan harapan bahwa semangat konservasi yang telah ditanamkan akan terus tumbuh dan menginspirasi generasi muda Sidikalang. (DIM)