ORANGUFRIENDS CELEBRATE HAPPY ORANGUTAN INTERNATIONAL DAY

Distance is not an obstacle for Orangufriends. Orangufriends are volunteers that support the protection of orangutans and their habitat in Centre for Orangutan Protection. Different background and age is not a barrier for them. Through World Orangutan Day Event, they work closely with each other to celebrate the World Orangutan day, August 19th 2017.

Stickers designed by Diska Anshari from Palangka Raya, located in Kalimantan Island, was distributed to students in Aceh, located in Sumatera Island. On Car free day in Palangkaraya, the citizens were enthusiastic about the stickers too. Not only in Sumatera and Kalimantan, Orangufriends in Java also created their own way to celebrate the Wolrd Orangutan Day. Orangufriends Bandung and Purwokerto also held a socialisation session in Car Free Day event in their own town, ready to educate the citizen about the endangered orangutans.

Orangufriends Padang even held a school visit. They prepared a road show to celebrate Wolrd Orangutan Day: from talkshow in Classy FM, school visit, campus visit, to musical dialog. This musical dialog were attended by COP founder, Zal Puteh (humanist, artist, and environmental activist), and collaboration with various organisation and communities. “Conservation is collaboration,” stated Hery Susanto, one of COP founder.

In August 21st, Orangufriends Malang was scheduled to hold a road show to communities to share the spirit of conservation for orangutan and their habitat. “COP rarely creates ceremonial event. For this year’s World Orangutan Day, we informed Orangufriends about it. Orangufriends responded with various activities. They coordinated, planned, and executed their own event with their own creativity. We are so proud of the events created by Orangufriends Aceh, Padang, Purwokerto, Bandung, Malang and Palangka Raya,” stated Ramadhani, COP’s communication manager.

In another occasion, Hardi Baktiantoro stated, “Orangufriends, you are so awesome! Many organisations envied us. The spirit of Orangufriends is the spirit of COP. COP is big because of Orangufriends.” (Zahra_Orangufriends)

Lokasi yang memisahkan mereka tak jadi halangan. Itulah Orangufriends. Orangufriends adalah relawan yang mendukung perlindungan orangutan dan habitatnya di Centre for Orangutan Protection. Latar belakang maupun usia tak menjadikan mereka berbeda. Lewat World Orangutan Day Event, mereka bahu membahu memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus 2017.

Desain stiker dari Diska Anshari yang berada di Palangka Raya sampai ke tangan para siswi di ujung utara pulau sumatera, yaitu Aceh. Stiker itu pula yang menjadi rebutan warga yang hadir di acara Car Free Day Palangka Raya di hari berikutnya. Tak hanya di pulau Sumatera maupun Kalimantan. Orangufriends yang berada di pulau Jawa pun tak mau ketinggalan. Orangufriends Bandung dan Purwokerto pun turun di acara Car Free Day sambil membawa poster dan siap memberi informasi tentang orangutan dan habitatnya yang semakin terancam.

Kunjungan ke sekolah atau yang sering disebut school visit juga hadir di Padang. Orangufriends Padang bahkan mempersiapkan rangkaian acara untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia 2017 ini. Mulai dari talk show di radio Classy FM, school visit, campus visit sampai Dialog Musikal di cafe dengan menghadirkan pendiri COP, Zal Puteh yang merupakan budayawan, seniman dan aktivis lingkungan asal Aceh serta kolaborasi oraganisasi dan kelompok lainnya. “Ya kerja konservasi adalah kerja bersama.”, ujar Hery Susanto, salah satu pendiri COP menegaskan.

Bahkan di tanggal 21 Agustus nya, Orangufriends Malang berencana masuk dari satu komunitas ke komunitas lainnya untuk menularkan semangat perlindungan orangutan dan habitatnya yang merupakan asal muasal COP berdiri.

“COP jarang sekali membuat acara ceremonial. Sementara untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia ini, kami memberitahu para orangufriends. Orangufriends yang merupakan para pendukung COP ini, merespon dengan berbagai kegiatan. Mereka mengkoordinir, merencanakan dan mengemas acara dengan kreatifitas masing-masing kota. Jadilah perayaan yang membanggakan dari Aceh, Padang, Purwokerto, Bandung, Malang dan Palangka Raya.”, ujar Ramadhani, manajer komunikasi COP.

Dalam kesempatan terpisah, Hardi Baktiantoro yang merupakan pendiri COP menyampaikan, ”Kalian hebat, Orangufriends! Kalian bikin iri banyak organisasi orangutan lainnya. Semangat orangufriends adalah semangat COP. COP besar karena orangufriends.”. (YUN)

PERAHU WAY BACK HOME II, SIAP PAKAI

Perahu Way Back Home Pertama terlihat terlalu capek bekerja sendirian. Dalam satu hari saja, perahu yang didanai dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang digagas oleh orangufriends (kelompok pendukung COP) bisa berputar 4 sampai 5 kali pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Itu di luar kejadian luar biasa yang mengharuskan pulau turun ke sungai kembali.

Satu perahu untuk rilis orangutan yang akan dilakukan bulan depan juga tidak cukup. Itu sebabnya, kami membuat perahu lagi dan kami beri nama Way Back Home Kedua. Perahu ini akan membawa orangutan menuju rumahnya. Perahu ini juga yang akan mewujudkan mimpi untuk kembali pulang. Perahu ini juga bukti kepedulian banyak orang pada orangutan.

Saat ini, perahu berada di dermaga, siap untuk mengantarkan orangutan-orangutan pulang ke rumahnya. Dengan daya tampung perahu sebanyak 7 orang termasuk motoris (orang yang mengendalikan perahu) atau juga sebanding dengan 3 kandang angkut orangutan. Perahu ini memang lebih besar dari perahu terdahulu. Perahu ini dengan impian yang lebih besar.

Terimakasih The Orangutan Project yang telah membantu mewujudkan impian para orangutan. Para orangufriends yang tersebar di penjuru dunia, kalian adalah malaikat orangutan di COP Borneo. (WET)

PATROLI TERPADU KARHUTLABUN

Musim kemarau sudah semakin dekat. Musim yang berpotensi memperburuk kebakaran hutan, lahan dan kebun (karhutlabun). Patroli terpadu pun melibatkan Manggala Agni regu 3/4 – Daops III Pangkalan Bun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kotawaringin Timur, TNI, Polri dan Centre for Orangutan Protection termasuk juga masyarakat sekitar.

Pembentukan pos-pos jaga di beberapa desa yang dianggap rawan karhutlabun, salah satunya di Jln. H.M Arsyad Km 7 Gg. Mawar Barat, Desa Eka Baharui, Kecamatan Mentaya Baru, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Pencatatan data kondisi cuaca seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan menjadi bagian dasar dalam patroli terpadu ini. Daerah lahan gambut dengan vegetasi semak belukar mendapat perhatian lebih dalam setiap patroli. Sumber air terdekat dengan daerah titik rawan langsung ditandai untuk mempermudah proses pemadaman jika muncul hotspot. Pengukuran kedalaman gambut dan uji remas daun serasah juga dilakukan untuk mengetahui tingkat kebasahan lahan.

Sosialisasi dalam bentuk penyuluhan juga menjadi bagian dari patroli. Himbauan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar berulang kali disampaikan untuk mencegah kebakaran hutan.

Kerugian material yang sangat besar jika terjadi karhutlabun diharapkan bisa semakin berkurang. Dampak yang langsung terasa bagi masyarakat sekitar saat terjadi karhutlabun adalah sesak napas akibat kabut asap bahkan mata perih. Selain berdampak pada kesehatan, kegiatan ekonomi pun sangat terganggu. Penerbangan dari dan ke provinsi maupun lintas daerah menjadi terhalang. Tidak hanya secara lokal maupun nasional, namun juga mengganggu negara tetangga.

Keseriusan pemerintah menangani karhutlabun tertuang pada Instruksi Presiden RI Nomor 11 tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Karhutlabun. “Optimalisasi pencegahan Karhutlabun adalah jalan terbaik daripada kita sibuk memerangi api.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader, koordinator tim COP untuk perlindungan satwa dan habitatnya. (Petz)