AT FIRST IT WAS JUST COP SCHOOL

Bandung, the metropolitan city in which I was born, is more familiar with fashion and cuisine than environmental issues. Until one day, a question suddenly appeared in my mind, “What have I given to nature?” A question that I myself could not answer.

In early 2015, I received information about COP School Batch #5 in Yogyakarta. Without a second thought, I took a shot at applying to be a COP School student for Batch #5. Luckily, I passed the administration phase and was able to proceed to undertaking the assignments given to me by COP. From there I began to learn little by little about the state of the forests and wildlife at the time. It was pretty sad, it seemed.

I passed the selection process and continued on in Yogyakarta. In early June 2015 for the first time I was able to meet face to face with others who had the same desire as I did, to help the lives of wild animals and their habitat. I even acquired new material on everything from orangutans and their enrichment, the rescue process, creating action with presenters that were not only Indonesian people who were experts in their field, but also people from Canada and the Philippines.

At the end of September, I was given the opportunity to become a COP volunteer. Banjarbaru, South Kalimantan, was my first stop. In Van der Pijl Park, I, along with the Banjarbaru orangufriends, Elin Evita and Indira, made renovations to the animal enclosures and fed the animals. I spent 30 hours alongside the APE CRUSADER team, who carried out the rescue of orangutans Septy and Njoto, and brought them to the COP Borneo Orangutan Rehabilitation Centre, East Kalimantan. Sadness blanketed my mind. My image of a Kalimantan filled with forests vanished. All there was was palm oil plantations, timber plantations, and mines. Even forest fires were considered normal. So this is the real condition of Kalimantan, the place they call the ‘lungs of the world’.

Two months of following the process of “forest school”, caring for sick orangutans, and releasing orangutans onto their own island made the 2015 year a truly meaningful one. Not only that, I even learnt to assimilate with the Dayak tribe that lives in Merasa village. What else are you waiting for! You, too, can be a part of helping to save the wildlife and their habitat by joining COP SCHOOL BATCH #6. You’re guaranteed to make new friends and incredible experiences that you will never forget. (Ikhwanussafa Sadidan, COP School Batch #5 Alumni)

AWALNYA HANYA COP SCHOOL
Bandung yang menjelma menjadi kota metropolitan dimana saya dilahirkan lebih mengenal fashion dan kuliner dibandingkan isu lingkungan. Hingga pada suatu hari, sebuah pertanyaan tiba-tiba hinggap dibenak saya, “Apa yang sudah saya berikan pada alam?” Pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya.

Awal tahun 2015, saya mendapatkan informasi COP School Batch #5 di Yogyakarta. Tanpa berfikir panjang akhirnya saya mencoba untuk mendaftarkan diri menjadi siswa COP School Batch #5 ini. Beruntung saya lolos tahap seleksi administrasi dan bisa lanjut untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh COP. Dari situ saya mulai mengetahui sedikit demi sedikit mengenai keadaan hutan dan satwa saat itu. Cukup miris rasanya.

Lolos seleksi dan melanjutkannya di Yogyakarta. Awal Juni 2015 untuk pertama kalinya saya bertemu langsung dengan teman-teman yang memiliki keinginan yang sama untuk membantu kehidupan satwa liar dan habitatnya. Materi baru pun saya peroleh mulai dari orangutan dan enrichmentnya, bagaimana rescue, membuat aksi dengan pemateri yang tidak hanya orang Indonesia yang ahli di bidangnya, tetapi ada yang dari Canada serta Filipina juga.

Akhir September 2015, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan COP. Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah persinggahan saya yang pertama. Di Taman Van der Pijl saya bersama orangufriends Banjarbaru, Elin Evita dan Indira merenovasi kandang satwa dan memberi pakan satwanya.

Sepanjang 30 jam bersama tim APE CRUSADER yang melakukan rescue orangutan Septy dan Njoto dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Perasaan sedih menyelimuti pikiran saya. Bayangan tentang Kalimantan yang dipenuhi hutan sirna. Yang ada perkebunan sawit, kayu, dan pertambangan. Kebakaran hutan pun seperti hal yang sangat biasa. Ternyata seperti inilah kondisi nyata Kalimantan yang digadang-gadang sebagai paru-paru dunia itu.

Dua bulan mengikuti proses sekolah hutan, merawat orangutan yang sakit, hingga melepasliarkan orangutan ke pulau menjadikan tahun 2015 begitu bermakna. Tidak hanya itu, saya pun belajar berbaur dengan Suku Dayak yang tinggal di desa Merasa. Tunggu apalagi! Mari ikut membantu menyelamatkan satwa dan habitatnya dengan mengikuti COP SCHOOL BATCH #6
Dijamin kalian akan mendapatkan teman dan pengalaman yang hebat dan tak terlupakan.(Ikhwanussafa Sadidan, alumnus COP School Batch #5)

COP IS NINE YEARS OLD

For nine years Centre for Orangutan Protection has been existing as a non-governmental organizations which is focus on orangutans and their habitat. It started from a concern of three founders about the ongoing rescue of orangutan from land clearing for oil palm plantations. “This is
like mopping the floor which is wet because the tap is leaking. We must fix the faucet, “said Hardi Baktiantoro year 2007.

Focus on working on orangutans and their habitat is the key to the existence of the COP. With the support from Orangufriends, COP’s support group with no age and background limitary, which greatly assist the work of the COP. Their ideas are creative and incessantly make the event to raise moral as well as financial support. It becomes very unique, because everything is driven on their concern about the orangutan. “Who said that the Indonesian people do not care about orangutan? We care, but do not know what to do.”, Said Wahyuni in Sound For Orangutan, an annual charity music event organized by Orangufriends.

In the last five years, COP established a school for those who care about conservation and orangutans in particular. That is COP School. Students should pass the selection administration, and they will be given materials, assignments and discussions on line for a month. After passing the selection process, the students will learn about the main material in Yogya. Some of the speakers who have been involved were vet. Erni Suryanti,Nigel Hicks (OVAID), Jamartin Sihite (BOSF), Panut Hadisiswoyo (OIC), Ian Singleton (SOCP), Janifer G and May (IFAW), Suwarno (Animals
Indonesia), Rizki R (Mongabay),as well as the captain of APE Crusader, APE Defender, and APE Warrior. “Hopefully COP School can  the agents of change into the world for the environment. “, said Hery Susanto. Feel free to contact hery@cop.or.id to join COP School Batch #6 this year. (YUN)

COP BERUSIA SEMBILAN TAHUN
Sembilan tahun Centre for Orangutan Protection hadir sebagai lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada orangutan dan habitatnya. Berawal dari keprihatinan tiga orang pendirinya, terhadap orangutan yang terus menerus diselamatkan dari pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. “Ini seperti mengepel lantai yang basah karena kerannya bocor. Kita harus memperbaiki keran itu.” ujar Hardi Baktiantoro ditahun 2007 (1 Maret).

Fokus bekerja pada orangutan dan habitatnya adalah kunci keberadaan COP. Dengan dukungan orangufriends yang merupakan kelompok pendukungnya yang tidak terbatas usia, latar belakang sangat membantu pekerjaan COP. Ide-ide orangufriends yang kreatif dan tak putus-putusnya membuat event untuk mengumpulkan dukungan moral maupun finansial. Ini menjadi sangat unik, karena semuanya digerakkan atas kepedulian mereka terhadap orangutan. “Siapa bilang orang Indonesia tidak peduli orangutan? Kita peduli, tapi tidak tahu bagaimana.”, jelas Wahyuni saat Sound For Orangutan merupakan acara musik amal tahunan yang dikoordinir orangufriends berlangsung.

Dalam lima tahun terakhir ini, COP menjalankan sekolahan untuk mereka yang peduli dunia konservasi khususnya orangutan. COP School namanya. Siswa melalui seleksi administrasi, lalu selama sebulan akan diberi materi, tugas dan diskusi secara online. Setelah lulus dari seleksi lanjutan itu, siswa kana mengikuti materi utama di Yogya. Beberapa pemateri yang selama ini terlibat adalah drh. Erni Suryanti, Nigel Hicks (OVAID), Jamartin Sihite (BOSF), Panut Hadisiswoyo (OIC), Ian Singleton (SOCP), Janifer G dan May (IFAW), Suwarno (Animals Indonesia), Rizki R (Mongabay), serta kapten tim APE Crusader, Defender, Warrior. “Harapan COP School dapat melahirkan agen-agen perubahan untuk lingkungan.”, tegas Hery Susanto. Segera kirim email ke hery@cop.or.id untuk mengikuti COP School Batch #6 tahun ini. (YUN)

SAAT GUNUNG BERAPI MEMANGGIL

YOGYAKARTA – Letusan gunung Merapi di akhir tahun 2010 merupakan awal saya mengenal dunia relawan. Saat itu LSM satwa tergabung menjadi sebuah tim Animal Rescue untuk menangani satwa-satwa yang ada di sekitar gunung Merapi khususnya di daerah Yogyakarta. Mereka adalah Animal Friends Jogja (AFJ), Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Tim Animal Rescue dibagi menjadi tim pakan satwa hingga tim kesehatan satwa. Saat itu saya bergabung dalam tim pakan satwa, dimana tugas kami adalah mencari rumput untuk hewan ternak dan memberikan pakan satwa domestik yang sudah ditinggalkan pemiliknya karena mengungsi ke beberapa posko bencana alam. Selain itu memberikan buah-buahan kepada monyet ekor panjang yang sering turun kepemukiman warga sekitar gunung Merapi. Hampir setengah bulan kami melakukan ini, hingga keadaan benar-benar membaik.

Usai erupsi gunung Merapi, saya menggabungkan diri lagi pada tim Animal Rescue dari Centre for Orangutan Protection dan Animals Indonesia di tahun 2014 dalam menangani bencana letusan gunung Kelud di daerah Jawa Timur. Kami mengerjakan hal yang hampir sama saat menangani satwa bencana gunung Merapi. Karena kandang satwa banyak yang rusak, kami membantu membuatkan kandang sementara dan memperbaiki atap kandang yang sudah ada agar satwa dapat berlindung dari hujan dan panas. Dua minggu bekerja sukarela di bencana erupsi gunung Kelud tidak akan pernah terlupakan. “Bertemu sahabat-sahabat baru yang peduli pada satwa bencana letusan gunung Kelud itu akan semakin membuat kita bersyukur, atas apa yang kita peroleh saat ini.”, kenang Inoy. (Inoy, Orangufriends Yogyakarta)