PEMBANGUNAN KANDANG KARANTINA DI MINGGU KEDUA

Tak terasa pembangunan kandang karantina ke-2 di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo memasuki minggu kedua. Lantai kandang sudah berhasil dicor, jeruji kandang juga sudah dilas. Kendala di minggu ini nyaris tidak bisa diatasi. Cuaca yang tiba-tiba hujan menghentikan pengerjaan.

Tukang langsir atau orang yang membawa bahan-bahan bangunan dari kendaraan ke lokasi pembangunan kandang tiba-tiba menghilang. “Mungkin karena beratnya bahan bangunan dan jalan menuju pembangunan yang licin, curam dan terjal yang membuat tukang langsir lenyap.”, hela Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP.

Selain kendala cuaca dan orang, terminal listrik juga bolak-balik terbakar karena digunakan untuk mengelas. “Bilang sama Dilan, bangun kandang itu berat.”, kata Hery Susanto, koordinator APE Warrior dikejauhan.

Untuk para pendukung COP yang ingin membantu pembangunan kandang karantina ini dari kejauhan bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Pembangunan kandang karantina ini untuk empat orangutan yang akan menjalani pemeriksaan medis sebelum dilepasliarkan ke habitatnya dalam tahun 2018 ini.

DIARY VOLUNTEER: SEKOLAH HUTAN

Mungkin masih banyak yang tak tahu klau kemiripan DNA yang dimiliki manusia dan orangutan mendekati sempurna, yaitu hampir 97%! Kesamaan ini meliputi kesamaan struktur fisik dan anatomi, cara bereproduksi, pola pengasuhan anak, tingkat kecerdasan hingga penyakit yang diderita. Itu sebabnya, orangutan disebut-sebut sebagai primata yang menjadi kerabat dekat manusia. Kedekatan inilah dapat dilihat saat penanganan orangutan sakit.

Bayi atau Balita orangutan yang masuk ke pusat rehabilitasi biasanya adalah korban perdagangan maupun akibat konflik manusia dan satwa. Hutan yang merupakan habitat orangutan dialih-fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Induk orangutan tewas terbunuh atau sengaja dibunuh akhibat konflik tadi karena melintas maupun berada di perkebunan yang sebenarnya habitat orangutan. Ada juga orangutan yang berasal dari kepemilikan ilegal bahkan jeleknya manajemen kebun binatang.

Idealnya bayi orangutan berada dalam pengasuhan induknya hingga berumur 6-9 tahun. Waktu itu digunakan untuk belajar langsung dari induknya bagaimana cara bertahan hidup. Tapi karena induk tadi mati, maka peran induk digantikan para pengasuh dari manusia yang disebut baby sitter dan animal keepers. Bayi-bayi ini berkesempatan untuk memanjat pohon, membuat sarang dan mengenali makanan alami di hutan. Insting keliaran orangutan akan tumbuh alamiah. Ini adalah proses penting saat waktunya tiba untuk mereka dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Proses pengenalan kembali (reintroduksi) selayaknya orangutan hidup di hutan inilah yang disebut tahapan para bayi orangutan berada di “Sekolah Hutan”.

Proses ini memang menjadi bagian yang sangat penting, betapa orangutan sangat tergantung sekali dengan pohon dengan habitatnya yaitu hutan. Pusat rehabilitasi adalah tempat penampungan sementara untuk menghilangkan trauma dan menjalani proses belajar menimbulkan insting alamiah orangutan. Sebagai relawan, akupun mengikuti proses pembelajaran itu. Lewat pekerjaan-pekerjaan mengasuh dan membimbing bayi-bayi orangutan mengikuti kegiatan sekolah hutan. Aku, Novi cukup bangga mendapatkan kesempatan ini. (Novi_Orangufriends)

SEKOLAH RIMBA DI MERASA

Tak mesti pakai baju seragam di sekolah ini. Tak mesti duduk di kursi dengan menghadap papan tulis dan berada di dalam ruangan. Tapi bisa disesuaikan dengan tema, kebutuhan dan cuaca tentunya. Ini adalah cara belajar berbeda dari biasanya. Sekolah Rimba namanya. Tentu saja hanya ada di Merasa, Berau, Kalimantan Timur.

Murid kelas 5 dan kelas 6 SD sudah berkumpul di tepi sungai. Boleh pakai celana panjang, boleh juga celana pendek. Perempuan dan laki-laki berkumpul bersama. Yang menarik lagi ada relawan dari Republik Cheko yang membantu. “Anak-anak jadi lebih bersemangat.”, seru Uci.

Kurikulum dan Silabus Sekolah Rimba disusun bersama. Uci, Agus, dan guru-guru saling bahu membahu menjalankan kegiatan ini. Setiap 2-3 hari jadwal tetapnya. Materi hari ini adalah pengenalan dalam bahasa Inggris. Semuanya dikemas dalam bentuk permainan. “Siapapun suka bermain. Apalagi anak-anak. Ini memang dunia mereka. Agar materi yang disampaikan bisa diterima mereka… ya harus dikemas dengan permainan.”, jelas Soesilawati Jalung.

Kamu ingin mengajar juga? Yuk ke desa Merasa. Desa ini adalah desa terdekat dengan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Banyak harapan tentunya untuk masyarakat desa Merasa. Mereka adalah garis depan pelestarian orangutan. Iya, orangutan yang merupakan satwa endemik Indonesia.