ANTISIPASI KONFLIK BUAYA DAN MANUSIA

Saat air sungai pasang, warga desa Bapinang, Kalimantan Tengah pun diliputi ketakutan. Buaya muara muncul di halaman rumah pak Sugian yang berjarak 5 meter dari sungai Bamandu. Kemunculan buaya muara sepanjang 3 meter pun segera dilaporkan kepada BKSDA Pos Sampit. APE Crusader bersama BKSDA Pos Sampit segera turun untuk menghindari konflik lebih lanjut.

Muriansyah selaku komandan BKSDA Pos Sampit langsung menanggapi laporan tersebut. Tim akhirnya memasang jaring untuk rumah terdekat dengan sungai. “Ini sebagai antisipasi terhadap serangan buaya yang sangat membahayakan jiwa manusia.”, jelasnya.

Senin, 16 September tim melakukan survei pada lokasi kemunculan buaya muara. Habitat buaya muara yang rusak membuat buaya kesulitan sumber makanan, inilah yang menyebabkan buaya berani mendekati pemukiman. Pada tahun 2013 hingga 2016 tercatat 11 kasus penyerangan buaya di kabupaten Kotawaringin Timur. Ada 5 orang yang meninggal, 2 diantaranya tidak ditemukan dan 6 orang menderita luka serius hingga putus jari tangan dan kaki.

“Kami, APE Crusader siap membantu penanganan konflik satwa dan manusia. Kerusakan habitat adalah penyebab utama konflik terjadi. Sebelum itu terjadi, kami akan maju untuk menyelamatkan hutan.”, tegas Faruq, kapten APE Crusader COP.

MAMPUKAH NOVI BERTAHAN DI TAHAP AKHIR?

Tatapan matanya semakin tajam saat suara mesin perahu mendekati pulau. Sikapnya sangat awas sekali. Terisolir dari campur tangan manusia membuatnya begitu asing dengan manusia. Tak terkecuali animal keeper yang selalu mengirim makan pagi dan sore. Bahkan dia dengan sabar menunggu pakan diletakkan dan animal keeper menjauh. Itu adalah Novi. Orangutan jantan remaja yang menghuni pulau pra rilis orangutan di COP Borneo sejak Desember 2015 yang lalu.

Novi adalah orangutan yang diselamatkan APE Defender dari kecamatan Kongbeng, Kalimantan Timur. Hilangnya hutan sebagai habitatnya yang mengantarkan mimpi buruknya berada di kolong rumah dengan rantai terikat di leher. Rantai itu menghiasi lehernya selama 5 tahun, sepanjang hari dan malam hingga meninggalkan bekas. Berteman seekor anjing pemburu, Novi bertahan hidup.

Masih teringat saat Novi pertama kali masuk sekolah hutan. Novi tampak merinding dan bingung saat ditinggal di atas akar. Dia mencoba memanjat lebih tinggi lagi sambil menggigiti akar maupun daun yang diraihnya. Novi pun tak bisa membedakan mana akar, dahan atau duri rotan hingga tangannya terluka.

Kini Novi terlihat lebih sering menyendiri. Novi juga lebih sering mencari makanannya sendiri tanpa berharap makanan yang diantar animal keeper setiap pagi dan sore hari. Sarang buatannya pun semakin kokoh. Apakah Novi orangutan selanjutnya yang akan dilepasliarkan kembali ke alam tahun ini?

Mari berikan dukunganmu lewat https://en.kitabisa.com/orangindo4orangutan?ref=2a0a9&utm_source=embed&utm_medium=usershare&utm_campaign=embed COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia. Centre for Orangutan Protection adalah satu-satunya gerakan akar rumput lokal untuk menyelamatkan orangutan Indonesia. Sekarang kamu tahu, Indonesia bisa!

ENRICHMENT BENTUK SARANG LEBAH

Jevri, alumni siswa COP School Batch 7 ini adalah seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ide kreatifnya kali ini membuat enrichment dari akar pohon yang bergelantungan.

Sepanjang jalan dari camp COP Borneo menuju ke kandang orangutan memang banyak akar-akar yang bergelantungan. Awalnya, Jevri menjadikan akar-akar ini mainan untuk dirinya sendiri. Jevri mengikat batu-batu sebesar telapak tangan pada akar-akar tersebut. “Iseng aja.”, katanya. Dari keisengannya itu, dia jadi tahu, akar itu sangat kuat sekali dan mulailah dia berkreasi.

Enrichment yang dibuatnya kali ini diberi nama, enrichment sarang lebah. Akar-akar pohon tersebut dililit-lilit hingga menyerupai sarang lebah, lalu di dalamnya diberi daun dan juga kuaci, tidak lupa dilumuri dengan madu diluarnya. Sangat susah dan membutuhkan kesabaran yang tinggi untum membuat enrichment ini. Dari bentuknya sangat sayang kalau enrichent sarang lebah hanya akan dirusak oleh orangutan Ambon maupun Debbie hanya dalam waktu singkat. Karena untuk membuat satu enrichment, Jevri menghabiskan waktu 30 menit sendiri. Dan benar… tak sampai 10 menit orangutan Ambon berhasil membuka dengan mengigitnya. Sama halnya Memo yang tumbuh menjadi orangutan betina dewasa yang tak mungkin kembali ke hutan karena penyakit hepatitis yang dideritanya. Memo pun menggigit akar-akar itu dengan mudah dan menikmati kuaci yang terseimpan di dalamnya.

“Tujuan enrichment ini sih untuk membuat orangutan sibuk dan melatih insting liarnya dalam mencari makanan.”, jelas Jevri pada saat menjalin akar-akar gantung tersebut. Yang terjadi… ini enrichment untuk orangutan atau manusia ya? (WET)