GERAK CEPAT BKSDA SUMBAR BERSAMA APE PROTECTOR TANGANI KONFLIK BERUANG MADU

Kemunculan empat beruang madu di area perkebunan masyarakat di Jorong Limpato, Nagari Kajai, Sumbar dilaporkan warga Pasaman Barat. Tim segera melakukan penyisiran di sekitar perkebunan masyarakat yang menjadi lokasi terakhir kemunculan dua indukan dan dua anakan beruang Sumatera. Namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan maupun aktivitas satwa.
Pemantauan dilanjutkan pada malam harinya, APE Protector COP bersama BKSDA Sumbar melakukan upaya penghalauan di lokasi yang sebelumnya menjadi tempat beraktivitas beruang madu. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi pertemuan kembali antara satwa dan masyarakat. Tim pun akhirnya melanjutkan penyisiran keesokan harinya.
Kemunculan satwa liar di sekitar perkebunan atau pemukiman bukan hanya persoalan keberadaan satwa yang dianggap mengancam. Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya pertemuan antara ruang aktivitas manusia dan ruang hidup satwa liar. Situasi ini perlu mendapat perhatian, terlebih ketika perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi pola pergerakan dan sumber pakan satwa. Dalam kondisi tertentu, satwa dapat bergerak lebih dekat ke area yang digunakan manusia untuk mencari makanan atau tempat berlindung.
Centre for Orangutan Protection memandang konflik satwa liar dari Dua Sisi, yaitu ada masyarakat yang perlu mendapatkan rasa aman, tetapi ada pula satwa liar yang harus dilindungi agar tidak menjadi korban ketika berada terlalu dekat dengan manusia. Karena itu, respons terhadap laporan konflik tidak cukup hanya dengan mengusir satwa. Diperlukan verifikasi, pemantauan, pengumpulan informasi dari masyarakat, hingga tindakan yang terukur untuk memahami situasi di lapangan. Ketika manusia dan satwa liar bertemu di ruang yang sama, tujuan akhirnya bukan memenangkan salah satu pihak, yang dicari adalah cara agar masyarakat tetap aman dan satwa tetap memiliki kesempatan untuk kembali ke habitatnya. (APE_Protector)

Comments

comments

You may also like