LAGI, JERAT MEMBUAT BERUANG MADU MENJADI KORBAN

Perkebunan memang bukan menjadi tempat paling aman bagi satwa liar, terutama ancaman justru sering datang dari benda sederhana yang dipasang manusia di dalam kebun yaitu jerat kawat. Alat yang awalnya banyak digunakan untuk menangkap satwa buruan atau hama, terus memakan korban tanpa pandang bulu. Harimau, rusa, hingga beruang madu sama-sama berisiko terjebak dan mengalami luka serius bahkan kematian.

Peristiwa ini kembali terjadi. Lokasi kejadian berada di Sungai Pandahan, Nagari Sundata Selatan, KecamatanLubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Pada Jumat, 10 Juli 2026, APE Protector bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai beruang madu yang diduga terjerat.

Setibanya di lokasi, tim tidak lagi menemukan beruang tersebut. Yang tersisa hanyalah bekas tiang tempat jerat dipasang. Menurut keterangan warga sekitar, beruang tersebut masih berada di lokasi pukul 09.00 WIB. Namun beberapa jam kemudian satwa berhasil melepaskan diri. Sayangnya, jerat kawat masih melilit salah satu kakinya.

Banyak orang mengira, satwa yang berhasil lolos berarti telah selamat. Kenyataannya tidak demikian. Jerat yang masih menempel dapat terus melukai tubuh satwa setiap kali bergerak. Luka akan semakin dalam, aliran darah terganggu, infeksi muncul, hingga berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan pertolongan.

Menyadari risiko tersebut, tim langsung melakukan penyisiran dis kitar lokasi untuk mencari keberadaan beruang. Upaya penghalauan menggunakan petasan juga dilakukan guna mengarahkan satwa menjauh dari pemukiman sekaligus mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Warga sekitar diimbau untuk tetap berhati-hati saat beraktivitas di kebun dan segera melaporkan apabila kembali melihat keberadaan beruang.

Kasus ini menjadi kasus yang sering terjadi hingga tahun 2026, perlu diperhatikan mengingat bahwa jerat bukan hanya mengancam satwa target, tetapi seluruh satwa liar yang melintas di habitatnya. Beruang madu merupakan satwa yang gemar menjelajah hutan untuk mencari buah, serangga, madu, dan berbagai sumber pakan lainnya. Jalur jelajah tersebut sering kali tanpa sengaja melewati pemasangan jerat.

Selain menyebabkan penderitaan bagi satwa, keberadaan jerat juga menghambat upaya konservasi. Beruang madu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mulai dari membantu penyebaran biji hingga mengendalikan populasi serangga. Hilangnya satu individu akibat jerat berarti hilangnya salah satu penjaga keseimbangan alam.

Kasus di Pasaman hanyalah satu dari sekian banyak kejadian serupa yang masih terjadi dei berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam perlindungan satwa liar. Melaporkan keberadaan jerat, tidak memasang perangkap di habitat satwa, serta segera menghubungi petugas ketika menemukan satwa yang terluka merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa.

Selama jerat masih dipasang di hutan, ancaman terhadap satwa liar akan terus ada. Beruang madu hanyalah salah satu korban. Besok, bisa jadi satwa lain yang mengalaminya. Melindungi hutan berarti juga memastikan tidak ada lagi perangkap yang menunggu mangsa berikutnya. (RON)

Comments

comments

You may also like