BENTENG TERAKHIR PERLINDUNGAN ORANGUTAN, KILAS BALIK APE DEFENDER SEPANJANG 2025

Pagi di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dimulai jauh sebelum matahari benar-benar naik. Saat langit masih gelap dan berkabut, para babysitter telah berangkat menuju baby house untuk memberi susu dan membersihkan kandang lebih awal. Di gudang pakan, buah dan sayur disiapkan serta ditimbang satu per satu sesuai kebutuhan setiap individu orangutan. Tepat pukul delapan, anggota tim APE Defender berkumpul untuk briefing singkat membahas kondisi individu, rencana sekolah hutan, enrichment, serta pekerjaan kandang hari itu. Setelahnya, kandang dicuci, peralatan enrichment disiapkan, dan sebagian tim berangkat menuju lokasi sekolah hutan mengantar orangutan muda belajar kembali tentang dunia yang seharusnya mereka kenal sejak lahir.

APE Defender merupakan Tim yang menjalankan program rehabilitasi Orangutan Kalimantan di Centre for Orangutan Protection (COP). Secara fungsional, tim ini berperan sebagai benteng pertahanan terakhir bagi orangutan yang telah diselamatkan dari berbagai situasi ekstrem. Di tangan mereka, arah masa depan setiap individu orangutan dibentuk secara perlahan, hari demi hari, melalui keputusan-keputusan kecil yang tak pernah sepele. Dari rangkaian proses inilah muncul pertanyaan paling mendasar dalam rehabilitasi, apakah individu orangutan tersebut masih memiliki peluang untuk kembali hidup mandiri di alam liar, atau hanya mampu bertahan secara fisik tanpa kemungkinan untuk dilepasliarkan karena keterbatasan fisik maupun mental yang tertinggal dari masa lalunya.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 25 individu orangutan menjalani proses rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan aktif di pusat rehabilitasi BORA. Dari jumlah tersebut, lima individu merupakan kedatangan baru sepanjang tahun ini, yang masuk ke dalam program rehabilitasi dan pemulihan setelah diselamatkan dari zona interaksi negatif dengan manusia. Tiga di antaranya adalah bayi orangutan yang kehilangan induknya, yakni Felix, Pansy, dan Jack. Kehilangan figur induk di usia sangat dini membuat mereka membutuhkan pendampingan intensif untuk membangun kembali keterampilan dasar yang seharusnya diperoleh secara alami di alam.

Selain itu, terdapat Beti, individu betina dewasa yang telah dipelihara secara ilegal selama lebih dari dua dekade di Jawa Tengah. Proses penyelamatannya melibatkan translokasi lintas pulau, sebuah langkah kompleks yang menandai awal perjalanan panjang Beti untuk kembali mengenal kehidupan di luar ketergantungan manusia. Sementara itu, Surti merupakan individu liar yang diselamatkan di area pertambangan. Berbeda dengan individu lain, Surti tidak memerlukan rehabilitasi perilaku jangka panjang, melainkan pemulihan kondisi fisik sementara di BORA sebelum akhirnya dapat dikembalikan ke habitat alaminya.

Sepanjang 2025, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, COP berhasil melepasliarkan tujuh individu orangutan yang sebelumnya menjalani rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan di BORA. Lima individu di antaranya merupakan orangutan bekas peliharaan ilegal, yaitu Bonti, Jojo, Mary, Popi, dan Charlotte yang telah menjalani rehabilitasi selama beberapa tahun. Dua individu lainnya, Paluy dan Surti, merupakan orangutan liar yang diselamatkan dari zona interaksi negatif dan memerlukan perawatan sebelum dikembalikan ke alam.

Rehabilitasi orangutan bukan proses yang dramatis. Ia berjalan lambat, bertahun-tahun, dalam rutinitas yang nyaris tak pernah terlihat publik. Mengajari kembali cara memanjat dan membangun sarang. Mengasah insting mencari pakan alami. Memulihkan trauma akibat interaksi manusia yang terlalu dekat. Dan yang paling sulit, mengembalikan jarak antara orangutan dan magnesia, jarak yang justru menentukan keberhasilan rehabilitasi itu sendiri.

Di luar pusat rehabilitasi, APE Defender juga tidak bekerja sendirian. Sepanjang 2025, tim ini terlibat langsung bersama APE Crusader dalam berbagai aksi penyelamatan orangutan di lapangan bersama BKSDA Kalimantan Timur. Sekitar 52 individu orangutan berhasil diselamatkan dari zona konflik, pemeliharaan ilegal, dan kondisi darurat lainnya. Pada penghujung tahun 2025, dokter hewan dari tim APE Defender juga terlibat dalam proses pemulangan empat individu orangutan korban perdagangan satwa ilegal dari Thailand ke Sumatra.

Di balik seragam lapangan yang kerap dilumuri lumpur, para anggota APE Defender menjadi saksi perubahan-perubahan kecil yang menentukan. Tatapan yang perlahan tak lagi mencari manusia. Tangan-tangan yang mulai melepaskan pelukannya. Gerak yang kembali lincah tanpa arahan. Keberhasilan rehabilitasi berakar pada detail-detail sunyi seperti ini, yang jarang terlihat dunia, namun menentukan arah masa depan setiap individu.

Sepanjang 2025, rehabilitasi mengajarkan bahwa perubahan sejati jarang berlangsung cepat. Sebagian individu melangkah maju, sebagian lain masih harus menunggu. Memasuki 2026, pusat rehabilitasi tidak menawarkan janji besar, hanya komitmen yang sama seperti sebelumnya, untuk terus hadir hari demi hari, menjaga peluang agar setiap individu orangutan yang diselamatkan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. (RAF)

Comments

comments

You may also like