RESCUED TWO ORANGUTAN BABIES TODAY

We have rescued two orangutan babies today. The first one in East Kalimantan and the second one in Central Kalimantan. They are now going to rescue centers. The first one, we named him Happi, is going to our own centre COP Borneo. The second one don’t have name yet, is going to Wildlife Authority Office in Sampit. Let’s hope the authority decide BOSF Nyarumenteng as her new home.
COP thanks to you all for kind support, especially who fund us through With Compassion & Soul ( COP Borneo Centre), The Orangutan Project (Ape Guardian Team) and Orangutan Outreach (The Ape Crusader Team).

TEROR OF AIR RIFLE

Ramadhani, Managing Director COP mengatakan, “Bayi orangutan bernama Apung/Bumi berumur baru sekitar 2-3 minggu, terlihat dari pusarnya yang masih basah, sudah kena tembak senapan angin. Besar tubuhnya hanya seukuran telapak tangan kita manusia. ada 1 peluru di belakang badannya. Bumi masih hidup dan entah induknya. Masih banyak individu orangutan yang penuh dengan peluru bahkan sampai ratusan peluru dalam satu tubuhnya. Kalau bayi manusia pasti sudah mati di tempat.” #terorsenapanangin

BELAJAR DAN BERBAGI DI CEMPAGA HULU

“Masih banyak masyarakat di daerah-daerah hulu yang perlu di beri pengetahuan lebih tentang perlindungan orangutan. Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat saya dukung, karena bisa menambah wawasan murid-murid di sini, karena di desa ini sering terjadi konfik antara masyarakat dan orangutan.”, ujar Mila, salah satu guru di SMP.
Maraknya alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, sangat berpengaruh langsung terhadap kehidupan satwa liar, terutama orangutan. Di Kotawaringin Timur, tepatnya di desa Tumbang Koling dulunya termasuk kantong habitat orangutan Kalimantan Tengah (pongo pygmeus wrumbii). Akan tetapi, sekarang hutan-hutan di sekitar sudah berubah semua menjadi perkebunan kelapa sawit. Lantas kemana orangutan-orangutan itu?
Bulan Juli lalu tim Centre for Orangutan Protection (COP) mengevakuasi 1 individu bayi orangutan tanpa induk, berumur kurang dari sebulan. Satu butir peluru bersarang di bagian punggung bayi ini. Kondisinya sangat lemah dan memaksa tim untuk langsung membawanya ke Pusat Reintroduksi Orangutan BOS Nyarumenteng, Kalimantan Tengah.
Kasus tersebut hanyalah salah satu jawaban dari sekian banyak pertanyan bagaimana nasib orangutan di Kalimantan Tengah. Semakin banyak hutan yang dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit, menyebabkan orangutan tersebut kehilangan sumber pakan. Beberapa orangutan yang beruntung, mungkin bisa lari dari kondisi ini. Tapi tidak sedikit juga yang masuk ke kebun masyarakat dan menimbulkan konflik baru orangutan dengan masyarakat.
Rabu, 24 Agustus tim COP melakukan kegiatan penyadartahuan perlindungan orangutan di SMPN SATAP Cempaga Hulu. Aga yang merupakan salah satu dari tim COP menjelaskan, “Kegiatan ini adalah lanjutan dari kasus yang kita temukan bulan Juli lalu. Melalui penyadartahuan ini, kami berharap ketika ada orangutan yang masuk ke kebun atau warga maupun anak-anak yang melihat atau memelihara orangutan, baik yang terluka atau tidak. Bisa langsung menghubungi pihak-pihak yang berwenang.”
Metode penyadartahuan tentang perlindungan orangutan disampaikan tim COP kepada siwa dengan media gambar cetak. Kemudian diisi dengan permainan kecil yang banyak mengambil unsur lingkungan. Bersyukur siswa-siswi di SMP ini sangat antusias mengikuti hingga selesai kegiatan.
Tidak banyak kegiatan penyadartahuan tentang perlindungan satwa liar yang dilakukan di daerah hulu. Di samping akses yang susah dan menempuh waktu yang lama menjadi kendalanya. Namun jika tidak ada yang mengambil peran tersebut, satwa-satwa liar yang tersisa tidak akan bertahan lama. Akan terus ada korban-korban berjatuhan akibat dari perburuan maupun pemeliharaan. (SAT)