CHARISHA’S EXPERIENCE WITH COP (3)

Social media has always been a good way of getting the message across to the world just by a click. Before coming to COP Borneo, I always thought it was “cool” saving the orangutan because you get to be on the media and all. Little did I realize that this was more than a hero’s job and how endless and tireless the team works. Listening to Linus and Reza story me about the rescue missions and behaviors of these beautiful brown souls only fueled me up even more to want to work in this field. The team is more of a family than just keepers, vets and team leaders. I helped them clean the cages to know what it’s like to be a keeper because I have always believed that it is important to know wildlife from scratch. No one earns their way up by not knowing the basics and that definitely includes cage cleaning.

Saving the orangutans I believe is the bridge to saving the forest and the life it contains and perhaps, humanity too. How can we allow destruction to a species that are in so many ways, just like us? Has greed consumed so much for our growing population that we tend to forget these simple and important things in life? Poaching these wildlife to keep them as pets or sell them to the wildlife trade is as mean as it can get. This is merely taking something that does not belong to us. Clearing the land for palm oil plantation and coal mining and not taking responsibility that has caused harm upon the homes of these animals? That is purely selfish. When there are those who destroy the forest, always remember there will always be good, dedicated, hardworking and responsible people who will keep fighting against it. We have to wake up before we lose our forest forever to the hands of irresponsible people.

When you have spent long enough with an orangutan or any other species of animal, you will realize that we are not planet earths only thinking species. With the dwindling number of Orangutans in the wild and them now being an endangered species, I personally think it’s important for everyone to help and protect them and the other wildlife as well. We need to stop saying “Let them do it” and realize that each of us play a part in their survival.

Am extremely thankful to have attended COP school and to be able to know and keep myself updated with the current status and issues of wildlife and conservation. I would personally like to thank the Captain of Ape Guardian, Paulinus Kristianto, the Captain of Ape Defender, Reza, Drh Ade, Wety, Uci and the whole team who have taught me so much about the meaning of conservation and what it truly means to be dedicated in fighting for the wildlife, forest and the people. I have learned more than just veterinary medicine. I saw the strength of team work and hard work. Thank you for teaching me the essentials of conservation. Come time, I hope to work alongside with these amazing and dedicated people.

To come together and work as one, I believe everyone should hold this quote deeply.
 “Compassion hurts. When you feel connected to everything, you also feel responsible for everything. And you cannot turn away. Your destiny is bound with the destinies of others. You must either learn to carry the Universe or be crushed by it. You must grow strong enough to love the world, yet empty enough to sit down at the same table with its worst horrors ~ Andrew Boyd” 
Thank you from the bottom of my heart. (Charisha_Orangufriends)

BONEKA ADALAH ALAT BANTU KELOMPOK 2 COP SCHOOL BATCH 7

Selama satu jam, mental kami diaduk-aduk. Siswa kelas 2 SD Negeri Kepek, Progo, Yogyakarta menerima materi satwa liar. Apa sih ancaman utama satwa liar dan apa pentingnya satwa liar di habitat aslinya, khususnya orangutan. Inilah kami, kelompok 2 COP School Batch 7.

Perkenalan adalah bagian penting memulai suatu kegiatan. Untuk menarik perhatian siswa yang berusia 7-9 tahun ini, kami menggunakan alat bantu. Boneka-boneka satwa yang lucu berhasil mencuri perhatian mereka. Ada boneka belalang, bunglon, elang, kelelawar, ular kobra, kodok, katak, tupai dan tentu saja orangutan. Jangan salah… para siswa sudah tahu loh tentang satwa-satwa yang diceritakan. Tapi…

Lagi-lagi, boneka menyelamatkan kelompok 2. Mike dan Dinul menggunakan boneka tangan untuk memerankan tokoh Toro dan Tara yang merupakan anak orangutan. Kemudian Felita memerankan tokoh Pongo, orangutan yang merupakan ibu dari Toro dan Tara. Faruq berperan sebagai dokumentator selama kegiatan berlangsung. Sungguh tragis cerita yang disampaikan, saat Tara dan Toro bersama ibunya, Pongo harus kehilangan rumahnya karena penebangan pohon oleh manusia.

Acara diakhiri dengan menyanyikan lagu tentang satwa liar dan ajakan untuk menjaga alam. Permainan interaktif mengenai pemburu dan hutan untuk semakin meningkatkan kesadaran para siswa mengenai pentingnya keberadaan orangutan dan satwa liar lainnya di alam. “Kamu harus punya cerita se-liar anak-anak SD itu. Siapkan mental dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang sungguh menakjubkan.”, ujar Faruq. (Kelompok2_COPSCHOOL7)

MENGEMBALIKAN ADRENALIN YANG SURUT

Tujuh hari bersama di COP School Batch 7 telah usai dan meninggalkan banyak rasa. Baik oleh staff, panitia dan tentu saja siswa. Ada cukup banyak perubahan konsep pada setiap angkatan mengikuti perkembangan waktu. Kami selalu mencoba mencari formula mana yang terbaik agar para siswa bisa benar-benar menjadi agen perubahan di lingkungan asalnya sesuai dengan bakat dan kemampuan individunya.

Proses belajar menjadi 30 persen secara online, 50 persen tatap muka dan 20 persen praktek. Belajar online sekitar 50 hari dalam proses seleksi tentunya menjadi awal pembuka pemikiran dan wacana tentang konservasi untuk mempermudah tatap muka di Yogyakarta. Tantangan tersendiri buat siswa ialah menjalankan program mandiri baik secara kolektif dengan sesama teman satu kota atau menjalankannya sendiri. Waktu yang akan membuktikan apakah akan menghilang atau bertahan menjadi barisan “menolak punah”.

Setiap COP School dilakukan, teori-teori ekonomi tidak bisa digunakan. Seperti dalam konsep ekonomi investasi Time Value of Money di “Capital Recovery Factor” jika prediksi ke depan keuntungan bernilai nol maka proses investasi tidak boleh dilanjutkan. Namun COP School bukannya sebuah kegiatan investasi ekonomi tapi sebuah regenerasi yang akan berbuah jauh ke depan dalam menyelamatan satwa liar Indonesia.

Kami percaya masih ada anak-anak muda yang peduli dengan satwa liar Indonesia namun hanya tidak tau bagaimana bergerak. Seperti kata Jane Goodall, seorang perempuan peneliti ahli primata simpanse yang salah satu temannya mati terbunuh karena menyelamatkan gorila di Afrika, “Only if we understand, will we care. Only if we care, will we help. Only if we help shall all be saved. The least I can do is speak out for those who cannot speak for themselves. The greatest danger to our future is apathy.”. Semangat menjadi agen perubahan untuk bisa membuat banyak orang menjadi tahu dan peduli adalah tantangan buat kita yang berada di negara berkembang.

Di sisi lain untuk kami yang sudah cukup lama menghadapi persoalan langsung dengan kasus orangutan hampir setiap hari yang didapatkan adalah persoalan konflik yang sangat melelahkan. Kemenangan dalam bentuk bisa menyelamatkan orangutan secara luas dan lebih banyak adalah tujuan dasarnya, namun kadang kekalahan dan persoalan tentu tidak semua bisa diselesaikan dengan tuntas. Semangat itu tentu akan berkurang dan pelan-pelan akan menghilang. Ketika kita kehilangan semangat perlawanan itu maka tidak akan ada masa depan untuk kemenangan dalam penyelamatan orangutan. Sisi lain ialah, “Ketika kita terus menerus melihat keburukan maka akan menjadi terlihat biasa.” (Andy Warhol). Itulah yang harus dihindari dari teman-teman yang berada di garis depan bahwa kita harus melihat situasi dengan benar dan tidak boleh menyerah dengan kondisi.

Di saat seperti itulah terkadang “kami” berpikir kami berjalan sendiri. Tanpa ada dukungan sama sekali. Namun COP School dan Orangufriends selalu membuat teman-teman yang berada di lapangan kembali bersemangat dan menemukan semangat baru yang luar biasa. Adrenalin itu kembali naik dan mengaliri seluruh pembuluh darah. Melihat masih banyaknya semangat anak-anak muda peduli dengan satwa liar, tentu membuat kami kembali bersemangat dan merasa tidak sendiri.

Terimakasih telah menjadi keluarga besar COP dan membuat semangat kami kembali. Terimakasih teman-teman panitia yang membantu dari awal hingga akhir dan bela-belain datang ke Yogya dengan banyak pengorbanannya. Terimakasih siswa COP School untuk semua semangatnya. (DAN)