‘BANANA NOT BULLET’ DI PADANG

Dunia harus tau, bahwa anak-anak Indonesia tidak diam. Anak-anak Indonesia terus bergerak dan melawan!

Lalu… Kenapa pisang? Dan apa pula hubungannya sama “Hari Berkasih Sayang”? Masih banyak yang belum tahu, kalau senjata api/angin masih menjadi teror yang mengerikan bagi satwa liar, terutama orangutan. Sebagai salah satu kera besar di dunia yang hidup di daratan Asia (indonesia dan sebagian kecil Malaysia), orangutan menjadi simbol bahwa masih saja terus terjadi pembunuhan terhadap satwa liar dengan menggunakan senapan. Pada orangutan saja, dalam kurun waktu kurang 14 tahun (2006-2020) total 914 peluru yang ditemukan bersarang di tubuh mereka yang ditemukan tak berdaya di lahan-lahan yang menjadi konflik (Sumatera dan Kalimantan). 11 diantaranya berujung pada kematian (data yang dihimpun dari seluruh pusat rehabilitasi yang beroperasi di Indonesia). Ironisnya, pada Februari 2018, orangutan ditemukan mati ditembak di Taman Nasional Kutai, kalimantan Timur dan ditemukan 130 peluru.

Dari cerita saya di atas, ini jelas mengerikan! Orangutan merupakan “Umbrella Species” yang memayungi satwa liar lainnya. Bila terhadap orangutan saja kejadiannya seperti itu, bagaimana dengan satwa liar lainnya? Dan kejadian seperti ini juga menegaskan bahwa banyak aturan yang tidak berjalan, salah satunya adalah kepemilikan senjata! Yang jelas-jelas ada Preraturan Kapolri yang mengaturnya. Dimana senjata hanya boleh digunakan untuk olahraga dan di sasaran tembak. Bukan digunakan untuk membunuh satwa liar! 

Nah… lewat “Banana Not Bullet”, saya… kami dari Orangufriends Padang cuman ingin menyampaikan pesan-pesan yang telah diuraikan di atas menjadi lebih sederhana lewat simbol pisang. Bahwa orangutan butuh kasih sayang (perhatian) dari kalian semua. Bukan peluru! Dan saya tidak sendiri melakukan ini. Ada teman-teman saya dari Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Pontianak dan kota-kota lainnya yang menjalankan aksi ini serentak! Bertepatan dengan “Hari Berkasih Sayang”. Orangutan adalah satwa endemik Indonesia. Dan kami (orangufriends) semua… adalah Indonesia! (Novi_OrangufriendsPadang)

 

BISAKAH BAYI ORANGUTAN MEMBUKA KELAPA?

Kelapa… untuk membukanya saja kita memerlukan alat yang tajam. Lalu, bagaimana cara para bayi orangutan di pusat rehabilitasi COP Borneo membuka kelapa?

Karena ini tujuannya untuk membuat para orangutan sibuk, maka kami menaruh kelapa-kelapa tersebut di atas kandang. Setengah jam berlalu, kelapa hanya berguling kesana-kemari sebagai bahan rebutan. 

Tidak sabar, akhirnya kami membuka pintu kandang lalu menaruh kelapa di dalam kandang. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit, Bonti dan Berani berhasil meminum air dan memakan daging kelapanya.

Hari ini, Bonti beruntung karena teman-teman sekandangnya sedang sekolah hutan, jadi tidak ada yang mengganggunya menikmati kelapa muda yang sangat segar. Para bayi-bayi ini memiliki gigi yang sangat tajam untuk mengupas kulit dan tempurung kelapa. Kebayang kan, kalau gigi-gigi itu mendarat di kulitmu? (WET)

APE WARRIOR: FACEBOOK STOP PERDAGANGAN SATWA LIAR!

Facebook merupakan media sosial paling digemari di Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh We Area Social yang bekerja sama dengan Hootsuite, sepanjang 2019 tercatat sebanyak 20 juta akun baru berhasil terdaftar sebagai pengguna Facebook. Indonesia memiliki 130 juta pengguna aktif bulanan yang rata-rata mengakses dunia maya setiap harinya. 

Di Facebook, setiap pengguna bebas berbagi cerita perjalanan, tips kecantikan, pengalaman atau sebagai tempat menjajakan barang dagangan. Namun tidak berhenti di situ, Facebook memiliki sisi kelam yang wajib diawasi setiap orang. Kemudahan yang dihadirkan Facebook kerap disalahgunakan untuk melakukan penawaran dan jual-beli ilegal, salah satunya adalah satwa liar dilindungi.

Meski Facebook telah menutup banyak grup dan akun-akun yang terindikasi memperjualbelikan satwa liar dilindungi, hal ini tidak menghentikan penjualan satwa secara online di Facebook. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Tim APE Warrior Centre for Orangutan Protection antara Agustus 2019-Januari 2020, setidaknya ada 27 grup aktif menjual satwa liar dilindungi dengan total anggota sebanyak 53.836 akun.

Dari 27 grup tersebut, 18 diantaranya merupakan grup yang baru dibuat tahun 2019. Di halaman resminya, Facebook secara terbuka memberi larangan tentang jual beli satwa, baik dilindungi maupun tidak dilindungi. Namun, perdagangan satwa liar melalui media sosial Facebook masih marak terjadi. Facebook seperti kurang tegas menanggapi isu perdagangan satwa di Indonesia. (SON)