MENYELAMATKAN ORANGUTAN ITU PILIHAN

Aganto Seno pun akhirnya bercerita tentang menyelamatkan orangutan yang terjebak di derasnya air terjun Gorilla, Kalimantan Timur. Sepanjang dia bertugas di Kalimantan Timur sebagai koordinator BKSDA SKW I Berau, mungkin ini adalah moment yang tak akan pernah dia lupakan.

Ini adalah hari ke-5 saya berada di lapangan dengan Centre for Orangutan Protection. Sebuah organisasi yang berisi anak-anak muda yang gila kerja dan tak kenal takut. Rencananya, kami akan survei sarang orangutan yang ada di jalur camp Lejak ke air terjun Gorilla yang berada di Hutan Lindung Sungai Lesan.”, cerita Aganto.

Suara air terjun semakin terdengar. Sudah mau sampai sepertinya. Melihat dari atas aliran sungai sembari mengambil nafas dan istirahat. Batu yang di tengah sungai menjadi tempat yang enak sambil berendam sepertinya. Sambil tertegun, menajamkan penglihatan, memperhatikan batu di tengah sungai, sepertinya ada orangutan di batu itu. Sedang berendam? Pasti segar… di tengah hari yang panas ini. Orangutan tak berenang. Lalu???

Segera tersadar, orangutan ini membutuhkan bantuan. Dia terlihat semakin lemah. Mengangkat tangannya, berusaha melalui arus yang deras namun kembali lagi berpegangan pada batu, karena terhanyut. Segera mereka mendekati bibir sungai… bagaimana cara menolong orangutan ini?

Terselip rasa takut, orangutan ini cukup besar. Tapi sepertinya sudah kelelahan, bertahan diderasnya air terjun gorilla. “Ranting-ranting… biar dia bisa berpegangan menyeberang… kita tahan dari ujung ke ujung.”, ujar Sam. “Tak cukup kuat, perlu batang pohon yang lebih besar.”, ujarku. Sam pun mengambil batang pohon yang agar besar dan membawanya ke tengah sungai. Tapi apa daya, tiba-tiba Sam hilang ditelan sungai… hanyut dan segera berbalik arah. “Sam… kamu baik-baik saja?”, tanyaku lagi. Menyelamatkan orangutan ini adalah pilihan. Harus dengan strategi.

Setelah beberapa kali percobaan, sampai-sampai, orangutan pun menolak dengan ranting kecil karena memang tak cukup kuat untuk dia menyeberang. Akhirnya, orangutan ini pun menyeberang sungai dengan batang pohon yang kami pegangin dari ujung ke ujung. Orangutan pun meraih pohon terdekat di pinggir sungai, memanjatnya dengan perlahan karena tenaganya yang terkuras. Berhenti sejenak… memandang kami… dan lanjut memanjat lagi.

Masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Bahagia bisa menyelamatkannya. Hari ini, tidak akan pernah terlupakan.

COP AND MINISTRY OF FORESTRY ASSESS SAMARINDA ZOO

This zoo have be to closed down soon due to mismanagement. Ironically, many others being proposed and waiting for approval from Ministry of Forestry. COP with the support from With Compassion and Soul is the only group In Indonesia who work directly to assist ex site conservation institutions to improve the welfare of the animals as well as campaigning to close down them that technically could not be improved. At least 12 zoos have been assisted and 4 zoos have been closed down. 

Most zoos in Indonesia are wrongly managed in every level and facing serious problem with the animal welfare issues. Lacking technical capacity and corruption are among the key problems. The zoo investors, mostly local governments believe that zoo is good investment. In fact, it is a heavily cost industry. Several zoos are involved in illegal wildlife trade.

Kebun binatang Samarinda yang berada di jalur tol yang menghubungkan kota Balikpapan dengan Samarinda dibongkar paksa oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada 28 Maret 2017 yang lalu.

Ini berdampak pada satwa yang menghuni kebun binatang yang dikelola oleh PT Samarinda Golden Prima ini. Terdapat 7 Merak Hijau, 1 Jalak Bali, 3 Rangkong Putih, 8 Kakak Tua, 3 ekor Kangkareng, 8 Elang, 5 Burung Hantu, 3 Ayam Hutan, 3 Musang pandan, 2 Kijang, 2 Kucing Hutan, 1 Tarsius, 1 Macan Dahan, 3 Beruang Madu, 3 Orangutan, 8 Owa-owa, 1 Bulus dan 32 Buaya Muara.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA SKW 1 Berau akan mengevakuasi sebagian satwa yang ada untuk direhabilitasi dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

PENANAMAN POHON BERSAMA DI LESAN DAYAK

Ini adalah penanaman bersama COP, KPHP Berau Barat, Dinas Pariwisata pada 1 April 2017 yang lalu. Berbagai jenis pohon buah-buahan dan tanaman hutan di lahan yang terbuka dengan bantuan anak SMA didikan Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI) yang kebetulan sedang mengadakan perkemahan.
“Semakin banyak yang terlibat penanaman pohon, maka akan semakin banyak pula harapan baru yang akan tumbuh.”, demikian kata Paulinus sambil menanam pohon rambutan.

Penduduk asli pulau Kalimantan adalah suku Dayak. Dayak berarti orang pedalaman. Umumnya masyarakat dayak adalah peladang berpindah padi huma yang menghuni tepi sungai di Kalimantan. Budaya menanam pohon diperkenalkan sebagai usaha untuk memperbaiki kondisi alam yang terbuka.