ORANGUFRIENDS: ELEVEN OUTSTANDING YEARS

It’s began when I’m still wearing the White-Gray Uniform
(Indonesian High School Uniform Color is white top and gray skirt/pants- read),
Far beyond COP, fourteen years ago innocently, approaching one of three COP founder, “What can I do for Orangutans?”.

Since then, I, who can only help from behind a computer and makeshift mobile phone. From setting aside a little of the allowance, take to the streets for a campaign. Until finally I had to split up with my beloved country also COP and had to study to neighboring country. The Jakarta-Sydney line for two years did not escape an all day event with COP. An annual Charity concert Sound for Orangutan or Wild Trip. Up to monitoring friends from the other side of Mount Merapi (Mt. Merapi Eruption 2011). Until I returned to my homeland and again I asked, “ What can I do as a Graphic Designer for Orangutans?”

I was finally called to join COP School in 2016. Meeting new friends from all around the country and abroad with different backgrounds. Learn from the coolest and great mentors/people and you can not possibly get a lesson in any textbook. Although I had not had chance to go to Kalimantan, one day it will happen.

Not Stopping there, my job just started. And will continue to support COP as Orangufriends. I am not alone… I have new friends and family who care for orangutan and conservation.

I am Amadhea Widoretno Kaslan. I’m a Graphic Designer and Artist, Orangufriends from Jakarta, and COP School Batch#6 Alumni wishing Center for Orangutan Protection its 11th Annivesary and thank you for this eleven outsanding years.

Keep on.. Fighting, Protecting.. Never Stop, Never Give Up… One APE One Sound.(Dhea_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS: SEBELAS TAHUN YANG LUAR BIASA
Saya memulainya saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Jauh sebelum COP berdiri, 14 tahun yang lalu dengan lugu menghampiri salah satu dari tiga pendiri COP, “Apa sih yang bisa saya lakukan untuk orangutan?”.

Semenjak itu, saya hanya bisa bantu dari balik komputer dan handphone seadanya. Dari menyisihkan sedikit dari uang jajan, turun ke jalan untuk kampanye. Sampai akhirnya saya harus berpisah sementara dengan negara tercinta juga COP dan harus berkelana ke negeri tetangga. Jalur Jakarta-Sydney selama dua tahun tak luput dari waktu seharian bersama COP. Acara tahunanan Sound for Orangutan atau kegiatan Wild Trip. Sampai memantau teman dari sisi lain gunung Merapi. Hingga saya kembali ke tanah air dan kembali saya bertanya, “Apa sih yang bisa saya lakukan sebagai Graphic Designer untuk Orangutan?”.

Saya akhirnya terpanggil untuk ikut COP School di tahun 2016. Bertemu teman-teman baru dari penjuru tanah air dan mancanegara yang berlatar belakang berbeda-beda. Belajar dari mentor-mentor yang paling keren di bidangnya, belajar dari orang-orang hebat di lapangan dan tidak mungkin kalian dapat di buku teks pelajaran mana pun. Walaupun belum sempat ke Kalimantan, suatu saat nanti pasti terlaksana.

Tidak berhenti di sana, tugas saya baru mulai. Dan akan terus mendukung COP sebagai Orangufriends. Saya tidak sendiri… saya memiliki sahabat dan keluarga baru yang ikut peduli terhadap orangutan dan konservasi.

Saya Amadhea Widoretno Kaslan. Saya Graphic Designer dan Artist, Orangufriend Jakarta, Alumni COP School Batch 6 mengucapkan Selamat Ulang Tahun Centre for Orangutan Protection ke-11 dan terimakasih untuk 11 tahun yang luar biasa ini.

Keep on, Fighting, Protecting… Never stop, Never give up… One APE One Sound. (Dhea_Orangufriends)

AMBON OUT OF CAGE COP BORNEO

Thursday, March 1st 2018 at the same time with Center for Orangutan Protection (COP) 11th anniversary, Ambon the orangutan, an adult male who he spent twenty years of live inside the cage has been transferred to the island. Physical check up to Ambon run smoothly even the cloudy and showered rain made us more aware.

The dose should be appropriate. The distance of quarantine cage to orangutan island is quite far. The path to transit cage quite difficult. When rain the path is slippery, although previously the transport team had had enough physically training with afternoon workout, but still, Ambon gained weight makes the team stagger.

Not only stopping there… Ambon has entered the transit cage.. then? Let’s carry the transit cage again plus Ambon weight… This time should be foursome, Get the spirit!!! under the dock, the ‘ Way Back Home’ boat the result of orangufriends concern awaited. This boat brought Ambon to feel his new home.

Arriving at orangutan island… let’s lift the cage again. Ambon is still sleeping, though we began to see movement toward consciousness. When all is ready to get away, the cage is slowly opened .. Ambon!! Yes, Ambon ran to the forest.. is he hiding? Observe us to be exact. We also decided to step back from him… took a long time to be able to capture this photo. Ambon steps in to the grass… in land without human!

AMBON KELUAR KANDANG COP BORNEO
Kamis, 1 Maret 2018 bertepatan dengan ulang tahun Centre for Orangutan Protection (COP) yang ke-11, orangutan Ambon, jantan dewasa yang telah puluhan tahun hidup di dalam kandang telah dipindahkan ke pulau. Pemeriksaan fisik terhadap orangutan Ambon pun berjalan lancar walaupun cuaca mendung dan gerimis membuat kami lebih waspada.

Ukuran dosis bius harus tepat. Lumayan jauh jarak kandang karantina ke pulau orangutan. Perjalanan dari kandang karantina untuk ke kandang transit cukup sulit. Jalanannya menjadi licin saat gerimis, walau sebelumnya tim pemindahan sudah cukup berlatih fisik dengan olahraga di sore hari, namun tetap saja, ketambahan berat badan Ambon bikin tim jalan sempoyongan.

Tak hanya sampai di situ saja… Ambon sudah masuk kandang transit… lalu? Yuk gotong lagi berat kandang transit plus berat badan Ambon… kali ini harus berempat. Semangat… semangat!!! Di bawah dermaga, perahu ‘Way Back Home’ hasil dari kepedulian Orangufriends sudah menanti. Perahu ini mengantarkan Ambon merasakan rumah barunya.

Sesampai di pulau orangutan… angkat kandang transit lagi. Ambon masih tidur, walau mulai terlihat gerakan-gerakan menuju kesadaran. Saat semua sudah bersiap untuk menjauh, kandang secara perlahan dibuka… Ambon!!! Ya, Ambon berlari ke hutan… bersembunyi? Mengamati kami tepatnya. Kami pun memutuskan menjauh darinya… lama sekali hingga akhirnya kani bisa mendapatkan foto ini. Ambon menginjakkan kaki di rumput… di tanah tanpa manusia!

DEBBIE PUN AKAN PINDAH KE PULAU

O iya… kebahagiaan kami tak hanya untuk Ambon. Tapi juga untuk si cantik Debbie. Debbie, orangutan yang hampir tiga tahun di kandang karantina karena menunggu pulau orangutan siap dihuni, akan juga pindah ke sana.

Debbie adalah orangutan betina dewasa yang berasal dari Kebun Raya Samarinda. Perkenalan COP dengannya di awal 2010 menjadikan PR (pekerjaan rumah) tersendiri bagi kami. “Prihatin dengan kondisinya. Seperti tak ada semangatnya lagi.”, begitu kata Daniek Hendarto, manajer program Ex-Situ COP.

April 2015, Debbie akhirnya dipindahkan ke COP Borneo. Di dalam kandang karantina, Debbie menghabiskan hari-harinya. Walau ukuran kandangnya lebih kecil dibandingkan kandang sebelumnya di KRUS. “Lega, akhirnya Debbie bisa menikmati kandangnya sendiri, tanpa berbagi dengan Ambon.”, ujar Daniek lagi.

Penantiannya akhirnya berbuah manis. Walaupun dia harus menjadi lebih waspada dengan orangutan Ambon. Tepat di tahun ke-11 Centre for Orangutan Protection mengabdi pada orangutan, Debbie keluar dari kandangnya. “Rumput pertama yang diinjaknya dalam 20 tahun ini adalah masa-masa yang paling mengharukan bagi kami. Setiap kali melihatnya berada di kandang karantina membuat kami sedih karena ruang geraknya menjadi sangat terbatas. Tapi kini… ini adalah masa paling indah bagi kami.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter orangutan di COP Borneo.

Bagaimana Debbie menjalani hari-hari nya di pulau orangutan? Bantu kami terus memonitornya ya. Kamu bisa ikut membantu proses ini lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan
(Foto adalah saat Debbie berada di KRUS 2010)