DUA PEKAN MENGIKUTI JEJAK EBONI, BAGUS, DAN RUBY

Ada perasaan yang sulit saya gambarkan ketika menyaksikan pintu kandang angkut dibuka setelah perjalanan panjang menuju hutan Busang. Hampir 12 jam perjalanan dari Berau akhirnya terbayarkan ketika Bagus, Ruby, dan Eboni satu per satu keluar dari kandang, lalu tanpa ragu memanjat pohon pertama yang mereka temui. Momen itu selalu menjadi pengingat mengapa proses rehabilitasi begitu berarti. Setelah melalui perjalanan yang panjang, kini mereka kembali berada di tempat yang seharusnya di tengah hutan Kalimantan.

Namun, pelepasliaran bukanlah akhir dari cerita. Justru saat itulah tugas kami dimulai. Selama dua minggu berikutnya, saya bergabung bersama tim Post Release Monitoring (PRM) untuk mengikuti kehidupan baru Bagus, Ruby, dan Eboni. Setiap hari kami berangkat sebelum matahari terbit dan baru kembali ketika cahaya mulai menghilang di balik kanopi hutan. Jalur yang kami tempuh tidak selalu mudah. Menyusuri sungai menggunakan ketinting, berjalan di jalur setapak yang licin, hingga menembus rapatnya vegetasi sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Setiap orangutan memiliki kebiasaannya masing-masing. Eboni tampak begitu lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Ia menghabiskan banyak waktu di kanopi hutan, mencari buah-buahan matang dan sesekali membongkar sarang serangga untuk mencari tambahan pakan. Bagus terlihat lebih tenang. Ia kerap memilih duduk sambil menikmati daun-daun muda di sekitarnya sembari sesekali memperhatikan kondisi hutan. Sementara Ruby memiliki karakter yang lebih santai. Ia sering terlihat berbaring nyaman di atas percabangan pohon, menikmati waktu istirahat sambil mengunyah pakan yang ada di sekitarnya.

Bagus memiliki cerita yang sedikit berbeda bagi saya. Sebelum mengikutinya di hutan Busang, saya sudah mengenalnya sejak ia masih berada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Sebagai dokter hewan, saya cukup sering bertemu dengannya, baik saat pemeriksaan kesehatan maupun ketika mengamati perilakunya selama menjalani rehabilitasi. Bagus adalah orangutan yang tenang, bukan tipe yang selalu aktif menunjukkan rasa ingin tahunya, melainkan lebih sering mengamati keadaan di sekitarnya terlebih dahulu. Kebiasaan itu membuat saya cukup mengenal ekspresi dan tingkah lakunya. Karena itulah, ketika melihatnya duduk di atas pohon-pohon tinggi Busang, memilih daun muda sebagai makanannya, lalu berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa bergantung pada manusia, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti bertemu kembali dengan teman lama yang kini telah menemukan rumahnya.

Hari-hari pertama pemantauan berjalan lancar. Kami dapat mengamati aktivitas mereka dari kejauhan tanpa banyak mengganggu. Hingga akhirnya, memasuki hari kelima, ketiganya seolah menghilang. Selama beberapa hari berikutnya kami menyusuri berbagai jalur yang kemungkinan dilewati mereka. Kami mencari sarang baru, bekas pakan, patahan ranting, hingga suara pergerakan di antara pepohonan. Waktu terus berjalan, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan mereka.

Tentu ada rasa penasaran yang terus menemani. Ke mana mereka bergerak? Apakah mereka baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali kamu kembali ke campt tanpa hasil. Memasuki minggu kedua, semangat kami tidak berkurang. Seperti biasa, pagi itu kami kembali melakukan patroli. Menjelang siang kami memutuskan untuk kembali ke ketinting dan beristirahat sejenak setelah beberapa jam menyusuri hutan. Namun, tepat ketika kami hampir tiba di tepian sungai, mata saya menangkap sesuatu bergerak di antara dedaunan.

“Ada orangutan!”, spontan saya berseru.

Soni, salah satu ranger APE Guardian, segera mendekat untuk memastikan. Tidak lama kemudian ia menjawab dengan nada penuh semangat, “Ada dua”.

Saat saya mendekat, saya langsung mengenali wajah-wajah yang kami cari selama berhari-hari.

“Walah… ini Eboni dan Bagus”, ucap saya spontan sambil tertawa kecil. Rasanya lucu sekaligus melegakan. Kami sudah menyusuri hutan cukup jauh untuk mencari mereka, sementara ternyata keduanya berada tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tampak sehat, tenang, dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. Tidak lama kemudian, Eboni dan Bagus kembali memanjat lebih tinggi, lalu sibuk menikmati buah-buahan hutan yang sedang matang.

Momen sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang paling saya ingat selama mengikuti PRM. Bukan hanya karena akhirnya kami kembali menemukan mereka, tetapi juga karena saya dapat melihat Bagus yang kini bebas menentukan arah jelajahnya, memilih makanannya sendiri, dan menghabiskan hari-harinya di tengah hutan.

Sebagai dokter hewan, melihat satwa yang pernah menjalani rehabilitasi kini mampu beradaptasi di habitat alaminya merupakan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tugas kami memang memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau, tetapi yang jauh lebih membahagiakan adalah melihat mereka menjalani kehidupan yang semakin mandiri di tengah hutan. (SIN)

Comments

comments

You may also like