BAGAIMANA SATWA KETIKA BANJIR MENYAPA
Bencana datang. Manusia kelimpungan. Namun, bagaimana dengan hewan, bagaimana dengan satwa? Apa yang akan kita lakukan ketika banjir menerjang tanpa aba-aba, ketika langit mendung tak terkira, ketika semua air tumpah di hadapan kita? Pada Pameran Foto “Menolong Satwa Banjir Sumatera” yang ditaja Centre for Orangutan Protection inilah jejak-jejak itu dihadirkan bukan sekadar menjadi visual, bukan sekadar menjadi gambar, bukan sekadar dijepret kamera lalu mata kita menikmatinya. Bukan. Foto-foto di sini akan “menceritakan” lewat perasaan dan perjuangan yang dikonkretkan dengan tindakan “pencarian”.
Pada foto jejak kaki salah satu satwa, kita melihat bahwa “ada yang lewat” di situ, ada yang pernah tinggal, dan ada yang pernah menetap. Dalam foto ini, jejak kaki berfungsi sebagai “tanda” bahwa suatu daerah pernah dilewati sekaligus ditinggali oleh manusia dan satwa. Tak hanya itu, jejak kaki juga menjadi metafora kehilangan, ketakutan, atau perjalanan tanpa ujung bahwa ada yang pergi dari suatu daerah dan entah akan kembali atau tidak. Maka dari itu, suatu daerah menjadi sangat penting bagi satwa karena mereka tinggal berdampingan dengan kita, manusia.
Itu dibuktikan dengan foto satwa sendirian dengan gestur seperti sedang mencari sesuatu. Foto ini juga menarik karena teknik pengambilan sengaja untuk menimbulkan efek tertentu, dengan kain penutup di sebelah kiri dan satwa di sebelah kanan. Apa yang dicari satwa itu kira-kira? Apakah makanan? Ketika bencana datang, manusia kelimpungan mencari pangan, pun satwa begitu. Dari foto salah satu relawan memberi makan satwa, kita melihat itu, bahwa akses dan kesempatan untuk mendapatkan pangan yang layak juga “dimiliki” oleh para satwa. Di tengah kekacauan yang terjadi pohon tumbang, sampah di mana-mana, bangunan runtuh, seng saling menimpa satu sama lain tindakan dalam pameran foto ini, gestur yang ditimbulkan pameran foto ini, menyiratkan satu hal yang penting yaitu empati. Bahwa kita juga merasakan sesuatu yang sama, kita terkena dampak yang sama. Karena itulah kita saling memberikan bantuan.
Bantuan untuk saling menemukan, seperti yang ada pada foto kucing putih nangkring di jendela sebuah rumah panjang, dengan parabola. Foto ini menampilkan rumah sebagai “arsip” sekaligus ingatan kolektif. Bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal dan kucing bukan cuma peliharaan, namun lebih dari itu: rumah sebagai peninggalan, lahirnya kebudayaan dalam keluarga, dan sekolah pertama bagi anak-anak. Kucing putih yang nangkring dengan santai juga menjadi sesuatu yang menarik karena “putih” badannya di antara kehancuran yang terjadi di sekitarnya yang diwakili warna “cokelat” atau warna tanah.
Tanah tempat kita bernaung, berkomunikasi, dan berdoa. Berdoa agar semua benda-benda yang berserakan sekaligus bertumpuk lekas dibereskan. Di tengah kekacauan itu, foto satwa yang sedang berada di tumpukan benda-benda dan masuk ke dalam “bayangan” yang tercipta. Foto ini menyiratkan sesuatu yang kadang tak kita lihat, bahwa yang satwa ingin mengatakan, “kami di sini bersama kalian”. Agaknya teknik pengambilan foto ingin mengatakan hal tersebut. Terlebih, satwa menjadi “focal point” foto ini. Begitu juga yang diceritakan dari foto satwa yang telah mati (menjadi bangkai?) dengan sepatu boot dan sisa satwa tersebut, kita bisa melihat bahwa bencana menimbulkan korban yang bukan hanya manusia, namun juga satwa. Dalam foto ini kita melihat tanah dan daun-daun. Selain ingin memberitahu sesuatu, foto ini juga menampilkan gestur apa adanya: bahwa yang terjadi pada tanah (bencana) akan kembali ke tanah (terkubur).
Begitu juga foto satwa yang sedang tertidur pulas. Foto ini menimbulkan efek keterasingan, kekalahan, sekaligus kerinduan terhadap rumah, terhadap tuannya, terhadap apa-apa yang biasa dijalani satwa: bermain ke sana kemari bersama manusia, bercengkerama bersama kita.
Satwa apa pun itu: anjing, kambing, kucing, ayam… mereka semua adalah saudara kita. Mereka mendapatkan akses sekaligus kesempatan yang sama untuk “terus hidup” dan berdampingan dengan manusia, dengan kita: makhluk yang penuh dengan logika, pemikiran, dan empati. (Titan Sadewo_Orangufriend Medan)



