HARDI UNTUK KULIAH KAPITA SELEKTA DTETI UGM

Kapita Selekta adalah sebuah mata kuliah untuk mempersiapkan mahasiswa tingkat akhir dalam penyusunan skripsi. Selain sebagai sarana persiapan, mata kuliah ini juga menuntun mahasiswa agar dapat menyiapkan skripsinya dengan lebih tepat dan terarah. Menariknya, kuliah digelar dengan mendatangkan prmbicara-pembicara inspiratif yang telah menggeluti dunia kerja.

Ruang kuliah E6 lantai 3 DTETI (Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi) UGM mulai dipenuhi mahasiswa. Tepat pukul 08.00 WIB, materi “The Eco-Warriors: Deforestation and Orangutan Conservation”, dimulai.

“Wow… mahasiswa sekarang kritis dengan analisa. Dunia pendidikan memang semakin maju dengan semakin luasnya cara untuk mendapatkan informasi.”, ujar Hardi Baktiantoro, pemateri yang diundang UGM. Kalau dulu, teori terasa begitu jauh sekali dengan kenyataan di lapangan. Namun sekarang, mahasiswa diharapkan untuk tidak melihat jurang tersebut, dan siap menghadapi tantangan usai duduk di kampus.

EYES OF ORANGUTAN BABY

Don’t look at them in the eyes, or you’ll guarantee to fall in love. The eyes of Orangutan babies are known to be the magnet that steal our hearts in an instance. Its cute little body would make you want to cuddle and keep them like your own child, but be aware that Orangutans grow, and they grow real fast. Their physical strength will multiplied, their natural wild behaviors will emerge, you will be forced to keep them in cages and imprisoned them eventually. They will suffer, you will suffer. Please don’t let this happened. Orangutans are not toys or pets, they belong in the wild.

Popi was a newly born when COP rescued her. She lost her mother to the poacher who wanted to sell her as a pet in the illegal wildlife market, there are many people who’d be willing to pay lots of money to the poacher for baby Orangutans. Please don’t be these people. For the past 17 months, Popi had been living in our rescue center, going through our rehabilitation program, we are teaching her on how to be an Orangutan and will do our hardest to someday successfully return Popi back where she belongs; into the wild. Please support our works for Popi and other Orangutans who are in desperate need of our help. Help us in reaching our goal and together, bring them back into the forest; the real Orangutans home. Adpot Popi link
https://www.orangutan.org.au/adoption/adopt/popi/?referrer_source=COP

Jangan tatap matanya… atau kamu akan jatuh cinta!
Mata bayi orangutan memang seperti magnet yang akan membuat kita jatuh hati padanya. Tubuh mungilnya akan membuatmu ingin memeluk dan memeliharanya. TAPI… itu hanya sesaat. Bayi-bayi orangutan akan tubuh dengan cepat dan kamu tidak akan bisa membendung sifat alami liarnya. Kekuatannya pun akan terus bertambah seiring usianya.
Dan orangutan pun terpaksa menderita di balik kandang besi dinginmu!

Popi… bayi orangutan yang baru saja lepas tali pusarnya saat diselamatkan COP. Harus kehilangan induknya karena keinginan manusia memeliharanya. Selama tujuh belas bulan ini, Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo merawatnya. Popi tumbuh menjadi bayi orangutan lainnya. Bantu kami merawat Popi dan memberikan kesempatan keduanya untuk kembali ke alam lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

ELANG SITAAN COP DILEPAS JOKOWI

Bandung – Setelah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 6 bulan di Pusat Konservasi Elang Kamojang akhirnya 2 elang Jawa hasil sitaan COP di Malang Jawa Timur merasakan kehidupan bebas di habitatnya. Kedua elang Jawa yang diberi nama Gendis dan Luken ini dilepasliarkan oleh presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo di Situ Cisanti Bandung pada 22 Februari 2018.

Gendis dan Luken adalah 2 dari 15 ekor elang yang berhasil didapatkan dari 2 orang pedagang satwa dilindungi di Malang, Jawa Timur pada Juli 2017. Ke 15 ekor Elang tersebut lalu dititipkan di Pusat Konservasi Elang Kamojang di Garut untuk menjalani proses rehabilitasi. Dan dari 15 ekor elang tersebut 5 diantaranya adalah elang Jawa yang diyakini merupakan lambang negara Indonesia. Kedua pedagang ini digrebek secara bersamaan di rumah masing-masing oleh tim gabungan Centre for Orangutan Protection, Animals Indonesia, Gakkum KLHK dan Polres Kepanjen Malang. Kedua orang tersangka berinisial AD dan GP ini sekarang masih mendekam di balik jeruji karena dikenakan sanksi 1 tahun kurungan penjara oleh pengadilan negeri Malang.

“Kami sangat senang bisa melihat kedua elang Jawa tersebut hidup bebas kembali di alamnya karena memang sudah sepatutnya mereka hidup di alam bebas bukan di kandang para eksploitator yang ngakunya pecinta satwa.”, kata Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime dari Centre for Orangutan Protection.

“Sudah saatnya para pedagang satwa dilindungi ini dihukum dengan hukuman maksimal agar memberikan efek jera.”, tambah Hery.

Memperjual belikan satwa dilindungi itu melanggar undang-undang no 5 tahun 1990 tentang Keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang mana dapat dikenakan sanksi pidana dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. (HS)