BERSAMA PADAMKAN API

Kemarau berhasil mengeringkan hutan hujan Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Tumpukan daun-daun mengering di lantai hutan bahkan mencapai lutut kaki. Kanopi hutan tak menyatu lagi, matahari mencapai akar pohon tanpa ada penghalang. “Api sekecil apapun akan sangat berbahaya.”, ujar Ramadhani, manajer area Kalimantan Centre for Orangutan Protection. 

Status Awas di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo meningkatkan kinerja tim. Pagi sesampai di camp, tanpa komando sudah ada yang memastikan headlamp (lampu kepala), senter, handy talkie (HT) dan GPS dalam kondisi dicas/diisi ulang. Rasa lelah yang menghantui juga telah membuat sebagian tertidur di camp. 

Bersyukur, api dapat dipadamkan dalam waktu tiga jam. Kedua puluh orang yang turun sore ini adalah penyelamat COP Borneo. Tim KPH, BKSDA Berau dan B2P2EHD bersama tim COP Borneo, bahu membahu memadamkan api. Sementara tim medis bersama perawat satwa sudah mempersiapkan diri untuk memindahkan orangutan dari kandang karantina ke kandang transport. 

Pagi ini… kabut asap masih menghampiri COP Borneo. Selamat istirahat semuanya. 

OWI DAN BONTI KABUR DARI KANDANG

Kejadian itu bermula ketika salah seorang animal keeper lupa mengunci kembali gembok kandang setelah mengambil orangutan Annie yang memiliki jadwal masuk kelas sekolah hutan pada siang hari. Annie, Owi dan Bonti adalah orangutan yang berada di dalam satu kandang sosialisasi.

Hari itu bukan jadwalnya orangutan Owi maupun Bonti untuk masuk kelas sekolah hutan. Saat akan istirahat makan siang, ketika kami melewati kandang sosialisasi, kami dikagetkan dengan pintu kandang yang terbuka, dan keduanya tidak ada di dalam. Kami hanya saling pandang dan diam, lalu berpencar mencari keduanya. Tebakan kami, Owi dan Bonti pergi ke lokasi sekolah hutan yang lama. Dan ternyata benar!!! Kami menemukan mereka… sedang asik di atas pohon memakan buah hutan.

Meminta mereka untuk turun, kembali ke kandang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Lapar, haus sudah melanda kami. Owi dan Bonti selalu lari menjauh, memanjat pohon berpindah pohon dan membuat kami berlarian mengikuti bahkan hingga tersandung akar pohon. “Lebih dari satu jam, kami kejar-kejaran dengan mereka, hingga akhirnya mereka berhasil kembali ke kandang.”, ujar Wety Rupiana.

“Mungkin mereka merasa bosan di kandang dan ketika pintu kandang tidak terkunci mereka segera lari mencari tempat untuk bermain.”, kata Jeckson lega. (WET)

HAPPI BERHASIL MEMBUKA DURIAN HIJAU

Aroma durian hijau saat matang tak sekuat durian pada umumnya. Kulitnya yang berduri, selalu berwarna hijau dan lebih panjang. Musim buah durian hijau tak dibiarkan berlalu begitu saja. Orangutan di pusat rehabilitasi COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur pun dapat menikmatinya. 

Untuk orangutan dewasa, dengan jari-jarinya yang kuat dan besar, tentu saja membuka durian bukanlah hal yang sulit. Lalu bagaimana dengan orangutan-orangutan kecil yang menjadi penghuni terbanyak COP Borneo? Membuka dengan tangan, duri terlalu tajam menusuk telapak tangannya. Menggigitnya, itu juga merupakan usaha orangutan-orangutan kecil. Tapi mereka berhenti saat bibir mengenai duri yang tajam. Membanting-banting durian, juga sudah dicoba. 

Dan akhirnya mereka memilih untuk melihati durian hijau sapai sesekali menyentuhnya. Hanya satu orangutan kecil yang berhasil. Happi berhasil membukanya. Bahkan Annie yang lebih besar dan garang darinya hanya duduk di samping… sambil bersiap merampasnya dari Happi. 

Kalau kamu, jadi Happi atau Annie saja? (WET)