SEPTI MASIH SERING KEMBUNG

“Septi… Ti… Sep… Septi…”, dipanggil tidak merespon, diberi buah tidak dimakan begitulah Septi jika perutnya sedang kembung. Dirayu untuk turun dari hammock dengan segelas susu hangat, tetap saja abai. 

Biasanya kalau sudah begini, seharian ia akan berdiam diri di dalam hammocknya. drh. Flora akan langsung memeriksanya dan memberinya obat. Beruntungnya, Septi mau menelan obat.

Sedari dulu, setelah mengetahui Septi sering mengalami gangguan pencernaan seperti sering kembung, para perawat satwa tentu akan memberinya buah-buahan tertentu mulai dari rimbang atau cepokak bahkan menghindari buah-buahan yang bisa membuatnya kembung. Namun, tetap saja kembungnya berulang lagi dan lagi.

Tiap perut Septi kembung, semua perawat satwa bersahutan, Septi kemarin terakhir makan apa ya?”. Mereka merasa tidak memberinya pakan seperti pisang, jagung dan singkong yang bisa memicu perut kembung. Tapi Septi… kebung lagi. Dugaan mereka, Septi mencuri buah dari kandang sebelahnya. Maklum tangan Septi cukup panjang. (WID)

BAYI ORANGUTAN DARI KUTAI TIMUR BERHASIL DISELAMATKAN

Syukurlah, proses penyelamatan orangutan jantan berusia 1-2 tahun di jalan poros Kongbeng-Wahau, Kalimantan Timur berjalan dengan lancar. Orangutan yang telah dipelihara selama lima bulan ini hidup bersama ayam di sebuah kandang kayu. Terimakasih Tim BKSDA SKW I Berau yang dengan sigap merespon laporan kepemilikan ilegal satwa liar di tengah pandemi COVID-19.

3 Juni pagi, tim APE Defender bersama BKSDA SKW I Berau berangkat ke desa Miau Baru, Kalimantan Timur. Bayi orangutan ini tidak terlihat agresif, usaha Inoy mendekatinya dengan buah-buahan berjalan sesuai rencana. Sekilas ada rasa prihatin saat menatap kedua matanya, ada kepedihan yang tak terkatakan. Pemeriksaan fisik secara cepat dilakukan dokter hewan Flora Felisitas. “Jari-jari orangutan ini tidak sempurna. Sepertinya ujung jarinya terpotong oleh benda tajam, berdasarkan luka yang sudah tertutup dengan baik.”, ujar drh. Flora dengan sedih.

Tim segera kembali ke Pusat Rehabilitasi COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan. Para perawat satwa sudah menunggu dan segera menurunkan kandang angkut yang telah berisi orangutan malang ini. Malam menjadi muram, entah apa yang telah terjadi dengan orangutan ini. Jari tengah dan jari manis tangan kanannya dan jari telunjuk tengah manis dan kelingking tangan kirinya tak sempurna jumlah ruasnya. 

Orangutan ini akan menjalani masa karantina. Untuk kamu yang ingin membantu biaya perawatan dan pemeriksaan kesehatannya bisa melalui https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan

Terimakasih untuk para donatur yang telah mengirimkan masker dan sarung tangan medis yang mendadak hilang di pasaran dan berharga tinggi selama pandemi ini, sehingga kami tetap bisa berkegiatan dengan normal.

BERANI SI TANGAN PANJANG

Berani adalah orangutan yang cukup disegani oleh teman se-kandangnya. Tak ada yang berani merebut makanan dari tangan Berani. “Kini, Berani kami juluki si tangan panjang.”, kata Widi Nursanti sambil gemas. Bagaimana tidak, ia sering mencuri buah milik Septi di keranjang buah Septi. Kandang Berani yang berisi anak-anak orangutan jantan tepat bersebelahan dengan kandang orangutan Septi.

Manuver menggoyangkan lengan demi sampai di keranjang buah Septi sangat lincah. Bermodalkan tangannya yang panjang dan kekeran mata yang tepat. Ia semakin suka mengulanginya sebab Septi tak menghiraukannya, kadang juga karena Septi hanya diam saja karena perut kembungnya membuatnya tak nyaman.

Hanya sesekali saja Septi menangkis lengannya yang hendak mengambil nanas milik Septi. Maklum, Septi begitu menyukai buah nanas. Berani biasanya tidak akan menyerah sebelum mendapat setidaknya 1 buah dari keranjang Septi. Berani paling sering mendapatkan jeruk. (WID)