HAPPI PLAY WITH OTHER ORANGUTANS

What do kids always want? “Playing!!!”. Just a kid … yes his world play, even though the current attack devices / gadgets attack the world of children era NOW. The game also changed from running in the field to sit facing the device / gadget earlier. But fortunately … the forest school knows no devices, hahaha ….

The Happi Orangutan is the most fond of looking for playmates. If previously Happi known for his carelessness to anyone if he had started climbing trees and cool himself, in contrast to its development in the last 3 months.

Yes … Happi watched other orangutans as he was above. But now, he will soon come down to Popi when he sees Popi playing alone downstairs. Not only to the Popi, the other orangutan alone will be. Happi will also soon join with Owi and Bonti who are cool hanging at the root of the tree. Play together more fun? (LSX)

HAPPI BERMAIN BERSAMA ORANGUTAN LAINNYA
Apa sih yang selalu diinginkan anak-anak? “Main!!!”. Namanya juga anak-anak… ya dunianya bermain, walau saat ini serangan gawai/gadget menyerang dunia anak-anak jaman NOW. Permainan pun berubah dari berlarian di lapangan menjadi duduk menghadap gawai/gadget tadi. Tapi untungnya… sekolah hutan tak mengenal gawai, hahaha….

Orangutan Happi adalah yang paling suka mencari teman bermain. Jika sebelumnya Happi dikenal karena ketidak peduliannya pada siapapun jika dia sudah mulai memanjat pohon dan asik sendiri, berbeda dengan perkembangannya dalam 3 bulan terakhir ini.

Ya… Happi mengamati orangutan lainnya saat dia berada di atas. Tapi sekarang, dia akan segera turun mendekati Popi ketika melihat Popi bermain sendirian di bawah. Tak hanya ke orangutan Popi saja. Happi juga akan segera bergabung bersama Owi dan Bonti yang sedang asik bergelantungan di akar pohon. Bermain bersama lebih menyenangkan kah? (WET)

SEMINAR OF ENVIRONMENTAL CONFLICT AT D3 UGM ECONOMY

Ecosophy in its 30th year, held an Environmental Seminar with the theme of Environmental Conflict in the Eye of Economics in Indonesia. Present as a speaker Hardi Baktiantoro who is the founder of Centre for Orangutan Protection with the material of Wildlife Conflict with Company in Kalimantan and drh. Erni Suyanti Musabine with material of Tiger Conflict with Society in Bengkulu Province. Seminar with moderator Fawas Al-Batawy who is the author of Yang Sublime in the rain became so exciting.

There are 100 students at meeting Room 225, 2nd floor, Vocational School, UGM on March 10, 2018. “How does a theory on campus get the facts on the ground?”, asked Septian.

Not only the seminar, Music Donation with the headline “Sound For Earth” also took place the next day, Sunday, March 11, 2018 at Wisdorm Park, in front of the campus of Economic D3 UGM. “This is a fundraising concert for orangutan care in Kalimantan. Hopefully what we donate is beneficial to the universe.”, said the committee.

“COP is happy to be able to share in this seminar and the creativity of D3 Economics students deserves thumbs up.”, said Hardi. (LSX)

SEMINAR KONFLIK LINGKUNGAN DI D3 EKONOMI UGM
Ecosophy dalam usianya yang ke-30 tahun melangsungkan Seminar Lingkungan Hidup dengan tema Konflik Lingkungan dalam Kacamata Ekonomi di Indonesia. Hadir sebagai pembicara Hardi Baktiantoro yang merupakan pendiri Centre for Orangutan Protection dengan materi Konflik Satwa Liar dengan Perusahaan di Kalimantan dan drh. Erni Suyanti Musabine dengan materi Konflik Harimau dengan Masyarakat di Provinsi Bengkulu. Seminar dengan moderator Fawas Al-Batawy yang merupakan penulis buku Yang Menyublim di Sela Hujan menjadi begitu seru.

Ada 100 mahasiswa memenuhi Ruang 225, lantai 2, Sekolah Vokasi, UGM pada 10 Maret 2018. “Bagaimana sebuah teori di kampus mendapatkan fakta di lapangan.”, ujar Septian.

Tak hanya seminar, Musik Donasi dengan tajuk “Sound For Earth” juga berlangsung keesokan harinya , Minggu, 11 Maret 2018 di Wisdorm Park, depan kampus D3 Ekonomi UGM. “Ini adalah sebuah konser penggalangan dana untuk perawatan orangutan di Kalimantan. Semoga apa yang kita donasikan bermanfaat bagi alam semesta.”, ujar panitia.

“COP senang sekali bisa berbagi di seminar ini dan kreatifitas mahasiswa D3 Ekonomi patut diacungi jempol.”, ujar Hardi haru.

TERMITE NEST FOR NIGEL

The sound of broken twigs with leaf twist breaks the silence of COP Borneo forest school. In the sunny afternoon, the baby orangutans play excitedly, showing their ability to climb, moving from one tree to another while tasting the tops of the leaves that can be reached. This is very different from the adult teenage orangutan, who must stay in the cage. When it’s so … when his animal keeper provides enrichment for orangutans who can not join the forest school.

Armed with hoes and machetes, the search for treasure named termite nest starts. The location is not far from the cage. One … two swings hoe immediately found the nest in question. Even the termites went straight out. “Usually in the nest is also a lot of eggs and newly hatched termites. It is a natural food of orangutans that they love very much, “said Danel, animal keeper COP Borneo.

Not all orangutans in the cage understand how to pick up and eat the contents of this termite nest. “Nigel is the most clever. He is also painstaking searching for his eggs in termite nest rooms, “Danel said. While the other orangutans … should be helped by breaking the nest and showing the termite eggs. (LSX)

SARANG RAYAP UNTUK NIGEL
Suara ranting patah dengan guguran daun memecah kesunyian sekolah hutan COP Borneo. Di siang yang begitu cerahnya, para bayi orangutan bermain dengan seru, menunjukkan kebolehan mereka memanjat, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain sembari menyicipi pucuk daun yang bisa diraihnya. Ini berbeda sekali dengan orangutan remaja yang beranjak dewasa, yang harus berdiam di dalam kandang. Kalau sudah begitu… saat nya animal keeper memberikan enrichment untuk orangutan-orangutan yang tidak bisa ikut sekolah hutan.

Berbekal cangkul dan parang, pencarian harta karun bernama sarang rayap pun di mulai. Lokasinya tak jauh dari kandang. Satu… dua kali ayunan cangkul pun langsung menemukan sarang yang dimaksud. Bahkan rayapnya pun langsung keluar. “Biasanya di dalam sarangnya juga banyak telurnya dan rayap yang baru menetas. Itu adalah pakan alami orangutan yang sangat disukai mereka.”, ujar Danel, animal keeper COP Borneo.

Tidak semua orangutan yang berada di kandang mengerti cara mengambil dan memakan isi sarang rayap ini. “Nigel tuh yang paling pinter. Dia juga telaten mencari telur-telurnya di ruang-ruang sarang rayap.”, ujar Danel lagi. Sementara orangutan yang lainnya… harus dibantu dengan memecahkan sarang dan menunjukkan telur rayap. (Danel_COPBorneo).