BELAJAR KESIAPSIAGAAN BENCANA SEJAK DINI, MENYELAMATKAN MANUSIA DAN SATWA
Ada kebahagiaan tersendiri setiap kali bertemu dengan para siswa yang baru memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain semangat dan rasa ingin tahu yang masih sangat besar, pertemuan dengan mereka juga menghadirkan harapan bahwa apa yang dipelajari hari ini akan terus diingat dan berkembang di masa depan.
Semangat itulah yang dibawa oleh APE Warrior bersama delapan relawan saat mengunjungi SMAN 2 Sleman. Dalam kegiatan yang diikuti oleh sekitar 130 peserta didik kelas 10 tersebut, tim mengajak para siswa untuk mengenal pentingnya kesiapsiagaan bencana dan berbagai risiko yang dapat muncul setelah bencana terjadi.
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi, mulai dari gempa bumi, letusan gung api, banjir, hingga tanah longsor. Kondisi ini membuat pendidikan mengenai kesiapsiagaan bencana menjadi sesuatu yang penting untuk diberikan sejak dini. Dengan memahami risiko dan langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, setiap individual memiliki peluang lebih besar untuk melindungi diri dan membantu orang lain di sekitarnya.
Namun, pembahasan mengenai bencana tidak hanya pada keselamatan manusia. Dalam sesi ini, par siswa juga diajak memahami bahwa satwa turut menjadi pihak yang terdampak ketika bencana terjadi. Hilangnya habitat, kekurangan sumber pakan, hingga meningkatnya potensi antara manusia dan satwa merupakan beberapa risiko lanjutan yang sering muncul pasca bencana.
Pesan inilah yang ingin disampaikan kepada para peserta didik, semakin siap manusia menghadapi bencana, semakin besar pula peluang untuk menyelamatkan satwa dan lingkungan di sekitarnya. Kesiapsiagaan bukanlah tentang menumbuhkan rasa takut, melainkan membangun kesadaran, kepedulian, dan kemampuan untuk mengambil tindakan yang tepat ketika situasi darurat terjadi.
Melalui pertemuan singkat di pagi hari itu, APE Warrior berharap benih-benih kepedulian terhadap bencana dan keselamatan satwa dapat terus tumbuh di hati para siswa. Karena pendidikan mengenai kesiapsiagaan bukanlah pelajaran yang cukup dipahami sekali aja, melainkan proses belajar yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Semoga pertemuan ini bukan menjadi yang pertama dan terakhir. Sebaliknya, semoga menjadi awal dari lebih banyak kesempatan untuk belajar bersama, membangun generasi yang tangguh menghadapi bencana, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian satwa dan lingkungan. (VID)



