Last day in the temporary shelter

Today is the last day for Michelle and friends  at the KRUS Zoo. It was an abandoned zoo that located inside the Samarinda Botanical Garden. We converted them into a temporary shelter. We take over the management and improve the facilities to meet with the minimum standard of animal welfare.  We train the keepers, increase their salaries and conduct forest school for orangutans just like in reintroduction centre.  However, that is not a suitable place for them. They deserve to be a free orangutan in the wild. Then we develop a rehabilitation centre for them in Labanan, North Kalimantan, about 15 hours drive from current location. After 6 months development, now the centre ready for them. We will move them all tomorrow. Helping orangutan is a big decision, in term of resources. We invested a lot of money and time. We spent at least 50.000 dollar for the last 5 years in KRUS and more in Labanan. It will not happen without support.

Hari ini adalah hari terakhir bagi Michelle dan teman – temannya berada di KRUS, sebuah kebun binatang telantar  yang berada dalam Kebun Raya Samarinda. Kami mengubahnya menjadi tempat penampungan sementara bagi orangutan. Kami melatih para perawat satwa, menaikkan gajinya dan menjalankan sekolah hutan bagi anak – anak orangutan selayaknya pusat reintroduksi. Bagaimanapun juga, itu bukan tempat yang sesuai bagi mereka, Mereka layak mendapatkan kesempatan untuk mejadi orangutan bebas di alam liar. Lalu kami membangun pusat reintroduksi di Labanan, Kalimantan Utara, kira kira 15 jam mengemudi dari tempatnay sekarang ini. Setelah 6 bulan pembangunan, kini pusat itu sedah siap untuk mereka. Kami akan memindahkan semuanya besok. Menolong orangutan adalah keputusan besar dalam hal sumber daya. Kita telah menginvestasikan banyak sekali uang dan waktu. Kita telah menghabiskan dana setidaknya 500 juta rupiah di KRUS selama 5 tahun terakhir ini dan akan lebih banyak lagi di Labanan. Itu semua tidak mungkin tanpa dukungan anda.

NEW APE WARRIOR, COP RAPID RESPONSE TEAM

ORANGUTAN LOVE ORANGE

Orange is the most eye catching colour. That is why people who work in the search and rescue field wear orange clothes. It makes them easy spotted by the other team members or by survivors. We at COP also use orange as our formal colour of the same reasons. As we are “media darling” for what we do in the field, people with orange shirt are often associated with animals rescue. It is good for marketing. Then several organisation started to copy it. The WWF use very similar shirt for their orangutan fund raising in the shopping malls. Orangutan Appeal UK too. Nowadays, more and more organisations wear orange shirt. It is become a trend. The question: is it good for animals?  For sure, orangutan love orange. Show your support. Shop our orange t shirt. It helps orangutans a lot.

 

Orange adalah warna yang paling mencolok. Itulah sebabnya kenapa orang – orang bekerja dalam bidang Search and Rescue menggunakan pakai warna Orange. Itu membuat mereka mudah ditemukan oleh anggota tim yang lain atau korban yang selamat. Sebagaimana kami adalah “kesukaan media” karena apa yang kami lakukan di lapangan, orang – orang yang memakai kaos orange seringkali dikaitkan dengan penyelamatan satwa. Ini bagus untuk pemasaran. Lalu beberapa organisasi mulai meniru kami. WWF menggunakan kaos yang amat sangat mirip untuk menggalang dana bagi orangutan di pusat – pusat perbelanjaan. Orangutan Appeal UK juga. Hari – hari ini, makin banyak organisasi menggunakan kaos orange. Ini menjadi trend.  Pertanyaannya: apakah ini baik bagi satwa. Yang jelas, orangutan menyukai orange atau jeruk. Tunjukkan dukunganmu. Beli kaos orange kami. Itu sangat membantu orangutan.

Pesta Lumpur di COP School Batch #1.

The COP School Batch #1 in July 2011 believed as the toughest one. We deliberately made it as most of the students are outdoor adventurer or the member of nature clubs. One day before this mud party, the walked about 7 hours. The result is: a group of though activist and militant. 4 of them got assignment as the first crews of the APE Defender Team. The assist people in Central Kalimantan to fight against oil palm plantation company. They even have to be grilled by police because of their “crime” in defending forest. The other assigned to East Kalimantan to convert an abandon zoo to be a temporary shelter for orangutan in Samarinda Botanical Garden. The rest joined APE Warrior Team in Yogya as the campaign troop.

Please enjoy the photo gallery through this link: https://www.facebook.com/dolandeso.boro/media_set?set=a.132924420124401.35890.100002205301694&type=3

 

COP School Batch #1 pada July 2011 dipercaya sebagai yang terberat dibandingkan yang lainnya. Kami sengaja membuatnya demikian karena sebagian besar siswanya adalah petualang alam bebas dan anggota kelompok pecinta alam. Sehari sebelumnya, mereka harus berjalan kira – kira 7 jam. Hasilnya adalah: sebuah kelompok yang tangguh dan militant. 4 diantara mendapatkan penugasan sebagai awak tim APE Defender. Mereka mendampangi masyarakat Kalimantan Tengah melawan kejahatan perusahaan sawit. Mereka bahkan harus diperiksa polisi karena kejahatan dalam membela hutan. Yang lainnya mendapatkan penugasan ke Kalimantan Timur, mengubah sebuah kebun binatang telantar menjadi penampungan sementara bagi orangutan di Kebun Raya Samarinda. Sisanya bergaung ke tim APE Warrior di Yogya sebagai pasukan kampanye.

Page 98 of 106« First...102030...96979899100...Last »